Perbedaan Daya Tembus Vegetasi Foto Udara Dibandingkan LiDAR dengan Pesawat Nirawak

Pada setiap aerial survey dengan pesawat nirawak akan ditemui daerah-daerah dengan vegetasi yang padat maupun daerah terbuka. Untuk setiap daerah dengan perbedaan vegetasi tersebut perlu dilakukan perencanaan aerial survey yang baik sehingga sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Perencanaan ini juga meliputi perencanaan sensor yang akan dipakai dalam aerial survey. Seperti diketahui bahwa sensor pada aerial survey bermacam-macam. (lihat pembahasan https://zonaspasial.com/2020/01/efektivitas-pesawat-nirawak-untuk-pemetaan/ ). Khusus pada bahasan ini akan dibahas masalah daya tembus pada vegetasi.

 

Sensor Kamera Foto Udara

Sensor kamera merupakan sensor pasif. Sensor pasif ini berarti sensor hanya akan menangkap sinar matahari yang dipantulkan oleh obyek. Obyek yang tertutup oleh obyek lain tidak akan mampu dicapture oleh sensor. Demikian juga permukaan tanah yang tertutup oleh vegetasi, walaupun terdapat bukaan disela-sela dedaunan. Obyek yang terlihat di sela-sela daunan terlalu sempit untuk dicapture oleh sensor kamera, sehingga pantulan sinar matahari tidak dapat ditangkap oleh sensor. Kemungkinan yang lain  karena tingkat kecerahan obyek yang tertutup oleh daun-daun kanopi pohon sangat gelap sehingga tidak mampu ditangkap oleh sensor.

Daya tembus ini sensor foto tersebut merupakan salah satu kekurangan foto udara untuk aerial survey. Tetapi kemampuan sensor foto dalam menangkap warna merupakan keunggulan dibanding sensor LiDAR. Sensor foto dalam menangkap warna (RGB sensor) mampu memberikan keunggulan dalam identifikasi obyek.

 

Sensor LiDAR

Sensor aktif dari LiDAR mampu memancarkan pulse dan menangkap kembali hasilnya. Sensor aktif ini menghasilkan pointcloud dari pulse yang dipancarkan ke permukaan. Kemampuan pulse LiDAR dalam menembus kanopi merupakan keunggulannya. Dalam aerial survey dengan sensor LiDAR hal ini disebut Canopy High Models/Normalized Digital Surface Model (nDSM). Artinya pulse LiDAR mempunyai kemampuan dalam menembus kanopi melalui sela-sela daun sehingga tangkapan kembali pulse tersebut oleh sensor akan memberikan tinggi permukaan tanah sebenarnya.

 

Gambar 1. Perjalanan Pulse LiDAR (sumber: gisgeography.com)

 

Terdapat perbandingan yang telah dilakukan terhadap sensor foto udara dengan sensor LiDAR. Hasil peneltian tersebut membuktikan bahwa sensor LiDAR memang lebih unggul dalam hal menembus kanopi pepohonan.

Gambar 2. Perbandingan hasil pointcloud ketinggian LiDAR dan Foto Udara (sumber: Comparison of UAV LiDAR and Digital Aerial Photogrammetry Point Clouds for Estimating Forest Structural Attributes in Subtropical Planted Forests by Lin Cao, Hau Liu dkk)

 

Lalu Bagaimana Pemanfaatannya?

Seperti disinggung pada pembicaraan sebelumnya, bahwa dalam perencaan untuk aerial survey harus dilihat Area of Interest (AoI) yang akan disurvei, sehingga sensor yang digunakan akan sesuai. Untuk AoI dengan kanopi padat maka sensor LiDAR dapat digunakan pada pesawat Nirawak, tetapi jika kerapatan kanopi pohon tidak terlalu rapat maka penggunaan foto udara biasa dengan pesawat nirawak sudah mencukupi.

 

Pendangkalan Sungai dan Monitoringnya

Erosi tanah dari daerah hulu sungai seringkali menjadi sebab adanya pendangkalan sungai. Belum lagi masalah sampah yang dibuang ke sungai. Timbunan material baik alami maupun hasil limbah manusia yang berupa sampah, lama kelamaan dapat menyebabkan aliran sungai tidak lagi lancar. Ini yang kemudian menyebabkan luapan air dari sungai tersebut, jika daya tampungnya menurun.

 

Pendangkalan Sungai dan Akibatnya

Erosi pada tepi sungai maupun dasar sungai pada daerah hulu menjadi tak terhidarkan ketika alih fungsi lahan terjadi. Penyerapan air hujan oleh tumbuhan dan pohon menjadi berkurang karena alih fungsi tersebut. Penyerapan ini berfungsi menjaga air tidak mengalir di permukaan sehingga dapat mengikis muka tanah. Kikisan muka tanah tersebut pada akhirnya akan menuju sungai dan diendapkan sebagai sedimentasi padat.

Laju pengendapan sedimentasi yang besar tentu saja semakin mempercepat proses pendangkalan. Pengendapan di dasar sungai maupun di bagian tepi sungai membuat daya tampung sungai menurun.

Hal lain yang disinggung di atas adalah adanya pembuangan sampah yang juga akan mengakibatkan  pendangkalan sungai. Daya tampung air pada sungai yang sudah menurun akibat laju endapan sedimen dari sejak daerah hulu, diperparah dengan pembuangan sampah di sungai tersebut. Luapan air akan terjadi jika sungai tidak lagi mampu menampung air.

Selain banjir, yang perlu diperhatikan juga ekosistem yang rusak akibat pendangkalan ini. Ekosistem yang rusak menyebabkan keragaman hewan ikut hilang.

Gambar 1. Sedimentasi yang mengendap di sungai

 

Monitoring Pendangkalan Sungai

Untuk mengurangi resiko meluapnya air dari sungai akibat pendangkalan yang terjadi, maka perlu dilakukan  monitoring terhadap sungai tersebut. Monitoring bisa dilakukan secara berkala. Untuk sungai yang relatif sempit dan tidak dalam, monitoring lebih mudah dilakukan. Tetapi jika sungai yang dalam dan lebar, maka membutuhkan pengukuran lebar dan kedalaman secara berkala yang lebih rumit.

Gambar 2. Hasil Pengukuran Bathymetri Sungai CImanuk Indramayu

Pengukuran kedalaman sungai ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat-alat survei batimetri. Alat survei kedalaman sungai ini bisa menggunkan Single Beam Echosounder (SBES). Penggunaannya yang mudah dan akurasi yang baik, sangat mencukupi untuk pengukuran kedalaman sungai. Hasil pengukuran kedalam yang periodik ini dapat digunakan sebagai perencanaan tata kelola sungai, misalnya pengerukan.

Wahana pembawa alat survei ini bisa menggunakan kapal boat biasa maupun menggunakan Autonomous Survei Vessel (ASV).

Gambar 3. Autoboat ASV

Penggunaan ASV akan lebih efektif untuk sungai karena beberapa hal:

  • Mudah dalam mobilisasi
  • Sesuai dengan ukuran sungai yang akan disurvei
  • Mudah dalam pengoperasian
  • Relatif lebih murah dibanding biaya sewa boat
  • Lebih aman karena tidak berawak

Hal-hal di atas tidak bisa dilakukan oleh boat biasa, sehingga pilihan menggunakan ASV adalah pilihan yang lebih baik.

 

3D Laser Scan untuk Shipbuilding

Penggunaan 3D laser scan untuk melakukan survey bagi dunia perkapalan sudah lama terjadi. Kecepatan dalam pengambilan data dan ketelitian dalam penggambaran adalah alasan utama penggunaan laser scan dan 3D model tersebut. Hasil akhir dari survei 3D Laser Scan tersebut dapat dimanfaatkan untuk navigasi kapal, retrofit, refurbishment, renovation maupun asuransi.

 

Model 3D kapal untuk As Built

Salah satu kegunaan as built kapal adalah untuk mengetahui ukuran dan bentuk sebenarnya dari kapal tersebut, sehingga jika dilakukan perubahan maupun perbaikan maka marine engineers dapat menyesuaikan. 3D laser scan mampu bekerja optimal untuk memberikan model yang akurat. Akurasi ini penting bagi maintenance karena perbaikan harus sesuai/tepat dengan ukuran yang diberikan.

Gambar 1. As Built Kapal

 

As built ini juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, misalnya marketing. Calon penyewa kapal akan dimudahkan dalam inspeksi sebelum melakukan transaksi penyewaan. Gambar 3D yang aktual dan presisi mampu disajikan dari hasil modeling 3D laser scan.

 

Retrofit, Refurbishment & Structural Alteration

Marine engineer dapat melakukan perubahan pada sebuah kapal. Baik itu perubahan fungsi maupun perubahan area pada kapal. Perubahan ini memerlukan gambar sebelum dan sesudah secara detail dan akurat. 3D laser scan dapat membantu dalam mendapatkan gambaran akurat dari sebuah kapal maupun bagian-bagian dalam kapal.

Gambar 2. Hull, propeller dan struktur dalam kapal

 

Setelah mendapatkan gambar dan ukuran yang sesuai dengan sebenarnya, maka marine engineer akan membuat rencana kerja dan melakukan perubahan tersebut. Setelah selesai maka perlu dilakukan survei 3D Laser scan kembali untuk mendapatkan gambaran setelah dilakukan perubahan dan as built bagi maintenance.

Peta untuk Penataan Sungai dan DAS

Banjir yang terjadi hampir tiap musim penghujan merupakan pengingat kita untuk menata kembali sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitarnya. Penataan ini baik dengan nama normalisasi maupun naturalisasi selalu membutuhkan peta eksisting dan terbaru.

Minimal ada 2 (dua) peta yang harus tersedia untuk melakukan perencanaan tersebut, yaitu peta batimetri kedalaman sungai dan peta situasi DAS. Kedua peta tersebut jika dikombinasikan akan menjadi dasar perencanaan penataan sungai dan DAS.

 

Peta Batimetri untuk Kedalaman Sungai

Sedimentasi baik secara alami, yaitu lumpur dan sedimen dari hulu yang terbawa arus maupun sedimentasi akibat sampah yang dibuang di sungai, merupakan penyebab pendangkalan sungai. Pendangkalan ini menyebabkan daya tampung sungai menjadi berkurang dan bisa menyebabkan meluapnya sungai, jika terjadi kenaikan volume air pada sungai tersebut.

Bagaimana peta kedalaman sungai didapatkan?

Tentu saja survei batimetri perlu dilakukan untuk mendapatkan peta tersebut. Dengan Single Beam Echosounder (SBES) sudah cukup jika yang diharapkan adalah kedalaman sungai pada waktu tertentu. SBES merupakan salah satu alat akustik yang dapat dibawa oleh moda transportasi sungai biasa maupun dengan ASV (Autonomous Survey Vessel)/Kapal survei nirawak. Kapal survei Nirawak (ASV) ini sangat fleksibel dalam mobilisasi, sehingga penggunaannya akan memudahkan dalam pekerjaan survei batimetri.

Gambar 1. Autonomous Survey Vessel (ASV) untuk survey batimetri

Dengan menggunakan model autopilot dan jalur survei yang telah ditentukan, ASV ini dapat membawa SBES dan merekam kedalaman sungai secara otomatis. Dilengkapi dengan positioning RTK (Real Time Kinematik), maka koordinat serta kedalaman dapa diplot menjadi peta batimetri. Melalui pengolahan data yang relative mudah, maka kita akan tahu kedalam sungai pada waktu tertentu (pada saat survei dilakukan). Jika kita melakukan survei berkala, maka akan didapatkan laju endapan sedimentasi (baik natural maupun sampah).

Gambar 2. Peta Batimetri kedalaman perairan dan proses surveynya

Peta batimetri yang didapatkan, bisa dijadikan dasar pengerukan sungai untuk mendapatkan daya tampung sesuai dengan yang diharapkan.

 

Peta DAS (Daerah Aliran Sungai)

Peta Daerah Aliran Sungai adalah peta yang berisi informasi obyek-obyek pada sekitar aliran sungai tersebut. Obyek tersebut bisa berupa tutupan lahan, pemukiman dan lain sebagainya. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan penyangga dari sungai tersebut. Pemanfaatan lahan DAS ini seringkali berbeda dari yang sudah ditetapkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).  Hal ini karena keterbatasan lahan hunian maupun lainnya.

Gambar 3. Jenis-jenis Drone/UAV

Pemetaan DAS ini bisa dilakukan dengan berbagai cara baik darat maupun udara. Pemetaan dengan darat, lebih lama serta berbiaya relatif lebih mahal. Sedangkan pemetaan dengan foto udara menggunakan pesawat Nirawak akan memprcepat proses pengadaan peta DAS. Hasil peta foto dari pesawat nirawak akan diolah menjadi DSM, DTM maupun tutupan lahan.

Gambar 4. Sebagian Daerah Aliran Sungai (DAS)

Peta tutupan lahan tersebut dapat digunakan untuk perencanaan terhadap DAS maupun sungai itu sendiri (baik naturalisasi maupun normalisasi). Perubahan peruntukan kawasan sekitar sungai tentu saja dapat memperkecil lebar sungai. Bahkan jika ada bangunan di bibir sungai, maka aliran sungai akan  menjadi terhambat.

Dengan menggunakan peta tersebut, maka rencana untuk memperlebar maupun memperbaiki aliran sungai akan bisa dilakukan dengan lebih baik. Jumlah rumah akan terhitung, luasan lahan kepemilikan dapat terhitung juga, sehingga ganti rugi (jika akan dilakukan penggusuran) akan bisa langsung dilakukan perhitungan.

 

Penggabungan Data Batimetri dan Data Foto Udara

Setelah kedua data tersebut didapatkan, maka penggabungan dapat dilakukan, karena kedua peta tersebut mengacu pada koordinat global yang sama. Tentu saja titik kontrol terhadap kedua peta tersebut harus dalam sistem koordinat yang sama.

Dengan penggabungan kedua peta tersebut, maka kita akan mempunyai peta perencanaan yang lebih bagus lagi. Beberapa hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan kedua peta tersebut antara lain:

  • Pembuatan Peta simulasi banjir
  • Perencanaan pendalaman sungai
  • Perencanaan normalisasi/Naturalisasi
  • Perencanaan pembangunan DAS
  • Perencanaan pembangunan pintu air
  • Dan lain-lain

Efektivitas Pesawat Nirawak untuk Pemetaan

Seringkali terdapat pertanyaan dari client maupun calon client, seberapa efektif pesawat nirawak digunakan untuk pemetaan? Dan berapa luas area efektif yang dapat dipetakan dengan pesawat nirawak?

Tentu saja pertanyaan itu wajar, karena penggunaan pesawat nirawak untuk pemetaan relatif merupakan teknologi baru bagi client maupun  calon client. Kami akan mencoba menjawabnya dalam artikel ini.

 

Pemetaan apa yang dapat dilakukan dengan pesawat nirawak?

Pemetaan yang biasa dilakukan oleh client/calon client biasanya adalah pemetaan spesifik atau yang biasa disebut pemetaan tematik. Cakupan luasan yang khusus maupun informasi yang akan ditampilkan juga spesifik, maka pemetaan ini disebut pemetaan tematik. Beberapa pemetaan yang biasanya dilakukan secara tematik antara lain:

  • Pemetaan batas kepemilikan lahan
  • Pemetaan kontur pada area tertentu
  • Pemetaan tutupan lahan (Landuse)
  • Dan pemetaan tematik lainnya.

Selain itu ada juga pemetaan lebih spesifik seperti pemetaan jalur pipa, jalur jalan, sebaran kebocoran gas (biasanya hal ini masuk dalam bidang inspeksi), pemetaan 3D (3D smart city, termasuk di dalamnya), pemetaan untuk pemantauan kemajuan pembangunan infrastruktur dan lain-lain.

Lalu bisakah semua itu dilakukan dengan pesawat nirawak? Tentu saja bisa.

Hanya saja mungkin sensor yang dibawa berbeda-beda. Sensor ini disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Misalnya untuk kebocoran gas, maka tidak bisa digunakan kamera biasa, harus dengan kamera pendektesi panas (thermal camera). Demikian juga jika akan melakukan pemetaan untuk kawasan yang padat vegetasi, maka pilihan terbaik sensor adalah dengan LiDAR Drone, karena kemampuannya yang unggul dalam menembus vegetasi.

Jenis Sensor pada Pesawat Nirawak

Kesimpulannya, kemampuan pesawat nirawak untuk pemetaan sangat luas cakupannya. Hanya saja sensor yang dibawa berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

https://zonaspasial.com/2018/11/memilih-drone-pemetaan-untuk-perusahaan-anda/

 

Berapa cakupan efektif pesawat nirawak untuk pemetaan ?

Saat ini jenis pesawat nirawak dipasaran sangat beragam. Dari yang murah sampai dengan yang mahal sekali. Demikian juga endurance yang ditawarkan sangat beragam, mulai yang hanya 10 menit sampai dengan lebih dari 2 jam. Demikian juga sensor yang dapat dibawa, sangat beragam. Keragaman ini memungkinkan pengguna lebih mudah menyesuaikan dengan kebutuhannya.

 

Untuk menjawab pertanyaan efektivitas luasan yang dapat dipetakan dengan pesawat nirawak, tentu saja harus dihubungkan dengan endurance. Semakin lama endurance, akan semakin luas cakupan yang diperoleh. Tetapi ini tentu saja ada batasan, yaitu payload yang mampu dibawa oleh pesawat. Endurance yang lama memerlukan baterei dengan daya yang besar, baterei dengan daya besar akan menambah beban pesawat nirawak yang ada batas payloadnya.

Jenis Pesawat Nirawak Zona Spasial

https://zonaspasial.com/2018/11/jenis-jenis-pesawat-tanpa-awak/

 

Kunci dari efektivitas penggunaan pesawat nirawak adalah pemahaman tentang kebutuhan pemetaan yang akan dilakukan. Jika pemetaan yang akan dilakukan hanya mencakup luasan kecil, atau hanya area-area tertentu saja, maka kebutuhan ini bisa diatasi dengan menggunakan pesawat nirawak jenis multirotor. Tetapi jika luasan yang akan dipetakan mencakup area yang besar maka kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan menggunakan pesawat nirawak jenis fixwing/flywing, yang mempunyai endurance lebih lama.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai cakupan luas yang menjadi pertanyaan terjawab sudah, yaitu antara luasan area yang sempit +/- 1Ha sampai dengan 10.000 Ha. Di atas luasan tersebut, maka penggunaan pesawat nirawak menjadi tidak efektif karena waktu yang dibutuhkan untuk melakukan survei menjadi lebih lama.

3D Inspection untuk Tangki dengan Laser Scan

Dalam artikel ini yang akan dibahas tentang 3D Inspection tank dengan menggunakan data pointcloud dari Laser Scan. Penggunaan inspeksi 3D untuk tangki ini merupakan bagian dari maintenance yang disyaratkan.

 

Laser Scan untuk mendapatkan 3D Model Tangki

Peruntukan laser scan dalam analisis tangki adalah untuk mendapatkan pointcloud dari tangka yang akan diinspeksi. Laser scan survei harus mampu men-capture seluruh bagian dari tangki, sehingga akan memudahkan dalam pembentukan model 3 dimensi. Proses selanjutnya, tentu saja adalah registrasi dari hasil scan (https://zonaspasial.com/2019/10/registrasi-point-cloud-terrestrial-laser-scan-dan-cara-melakukannya-dengan-benar/). Setelah terbentuk pointcloud yang benar dari registrasi maka dapat dilakukan proses selanjutnya yanitu cleaning. Cleaning ini untuk membuang/menghapus obyek-obyek di luar tangki yang akan dimodelkan. Proses ini untuk memudahkan modeler dalam membangun obyek 3 Dimensi.

Gambar1. Tank Pointcloud

Setelah pointcloud dibersihkan dari obyek yang tidak diperlukan, maka proses selanjutnya adalah membuat mesh modeling atau model permukaan tangki. Model permukaan ini yang akan membentuk tangka seperti keadaan sebenarnya.

Bentuk tangka yang seperti aslinya (as is) akan digunakan sebagai base analisys. Permukaan yang terlihat secara visual (pandangan mata) seringkali berbeda dengan yang didapatkan dari hasil mesh modeling ini. Lekukan-lekukan kecil tidak akan terlihat oleh mata manusia. Bahkan dalam gambar hasil mesh model, mata kita seringkali tidak menemukan lekukan yang terjadi oleh berbagai sebab. Untuk itulah analisis perlu dilakukan.

Gambar 2. Mesh Modeling Tangki

 

Analisis 3D Inspection

Setelah model permukaan (mesh model) terbentuk, maka proses 3D Inspection dapat dilakukan terhadap permukaan tangki. Analisa ini akan membentuk warna berbeda bagi setiap permukaan. Tentu saja harus ada rujukan yang pasti sehingga permukaan yang melengkung dapat teridentifikasi.

Permukaan melengkung ini dapat berupa lengkungan ke dalam maupun lengkungan ke luar. Perbedaan warna dari permukaan menunjukkan kelengkungan permukaan yang dianalisa.

Gambar 3. 3D Inspection

 

Selain 3D Inspection, analisis bisa ditambahkan dengan membentangkan permukaan menjadi color map. Dengan membentangkan permukaan tangki maka akan lebih mudah secara visual dilakukan Analisa.

Gambar 4. Tank Heat Map

 

Scan to BIM

Building Information Modeling (BIM) saat ini merupakan salah satu bahasan yang populer. Sedangkan Scan/Laser Scan sudah beberapa saat lalu populer untuk mendapatkan gambaran 3D (3 Dimensi) atau biasa disebut modeling. Lalu apakah hubungan antara Laser scan dengan BIM? Bagaimana membuat BIM dengan menggunakan teknologi laser scan?

 

Laser Scan Untuk pembuatan 3D Model

Pengambilan laser scan untuk membuat suatu model, dalam hal ini bangunan (building) merupakan hal yang esensial untuk persiapan BIM. Kami pernah membahas tips dan trik pengambilan laser scan ini (https://zonaspasial.com/2019/10/tip-trik-melakukan-survei-dengan-terestrial-laser-scan/). Dengan pengambilan data pointcloud yang baik dengan menggunakan laser scan, maka diharapkan hasil modeling yang akan dibuat bahan BIM juga akan menjadi baik. Perlu diingat bahwa laser scan hanya mengambil data sesuai apa yang terlihat mata dan tidak bisa tembus tembok atau benda lain. Sehingga segala perkabelan dan pipa yang tertanam di dalam struktur bangunan tidak akan tercapture.

Proses pengambilan data laser scan ini melibatkan pointcloud yang besar serta foto-foto. Data yang besar ini perlu manajemen yang baik. Apalagi jika bangunan yang diambil datanya besar serta banyak, maka manajemen data serta manajemen pengambilan harus dirancang secara baik.

Pointcloud to 3D Model

Modeling dan Data Atribut

Setelah registrasi dan pembersihan pointcloud, maka modeling dapat dilakukan sesuai dengan keadaan sebenarnya (as built) sebuah bangunan. Proses modeling ini membutuhkankan detil yang teliti. Modeling as built bisa memakai solid, jika hasil yang diinginkan hanya model/gambar saja. Tetapi jika ingin menggunakan sebagai BIM, maka modeling bisa dilakukan dengan Revit, atau software BIM yang lain. 3D model yang dibuat sebagai as built mungkin akan sedikit berbeda angka-angka ukuran, karena dalam proses pekerjaan Gedung/building pasti terdapat penyesuaian.

Model BIM ini mempunyai kelebihan yaitu adanya basis data non spasial atau biasa disebut atribut. Data atribut ini penting sekali dalam proses BIM, karena akan menerangkan model yang dibuat. Semakin lengkap atribut yang dimasukkan ke dalam sebuah model, akan semakin bagus.

Section and BIM

Setelah data model dan atribut menyatu sebagai system informasi, maka BIM untuk sebuah bangunan sudah bisa disajikan untuk keperluan engineering, Keperluan utama sebuah as built biasanya untuk maintenance. Dengan data ukuran yang sesuai aslinya serta atribut dari masing-masing bagian, maka bagian maintenance akan dimudahkan dalam melakukan kegiatannya. Selain itu juga, jika akan dilakukan renovasi, maka kesiapan data BIM akan sangat membantu dalam pelaksanaan renovasi.

Pelatihan dan Sumber Daya Manusia

PT Zona Spasial seringkali mengadakan pelatihan untuk survei dan pemetaan. Pelatihan ini meliputi pelatihan pemetaan dengan drone, pelatihan survei dengan laser scan maupun pelatihan untuk survei bathimetri (akan segera hadir). Hal ini disesuaikan dengan bidang bisnis yang ada di PT Zona Spasial. Pelatihan  ini ada yang bersifat internal maupun eksternal.

Pelatihan internal tentu saja untuk mengembangkan kapabilitas dari staf PT Zona Spasial. Untuk staf baru, tentu saja, pelatihan ini mandatory. Kemampuan staf baru harus disesuaikan dengan kebutuhan yang ada pada perusahaan. Sedangkan untuk staf lama, pelatihan ini untuk mengembangkan keahlian pada bidangnya maupun mempelajari lebih mendalam tentang bidang yang digelutinya. Pelatihan internal bisa berupa pelatihan peralatan, perangkat lunak maupun manajemen.

Pelatihan eksternal, beberapa kali juga kami selenggarakan. Pelatihan eksternal ini biasanya dilakukan dengan memberikan materi dasar pemetaan dengan drone/UAV, Laser Scan dan 3D Modeling serta pelatihan survei batimetri. Pelatihan ini ditujukan untuk peserta di luar staf PT Zona Spasial.

Sumber daya Manusia

Ketersediaan sumber daya manusia yang mempunyai kapabilitas yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan merupakan permasalahan yang ada sejak dulu. Keluar-masuknya personil dalam suatu perusahaan kadang menjadi masalah jika ada keterbatasan sumber daya. Apalagi perusahaan konsultan yang mengandalkan manusia sebagai aset terbesarnya.

Mengatasi hal tersebut, maka pelatihan secara berkala merupakan salah satu solusi, sehingga terjadi kesinambungan pengetahuan dan tidak ada “jomplangskill yang dimiliki. Pelatihan eksternal juga membantu menyelesaikan masalah jika suatu saat perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang terlatih pada waktu tertentu. Ketersediaan pasar tenaga kerja yang mumpuni (sesuai dengan bidangnya) akan sangat membantu dalam proses rekrutmen.

Sumber daya manusia yang terlatih dan mumpuni hanya bisa dicapai dengan pelatihan yang berkesinambungan. Pengetahuan tentang hardware, software serta manajemen terbaru harus selalu ditingkatkan. Dengan demikian maka masalah ketersediaan sumber daya manusia dapat teratasi.

 

LiDAR pada Pesawat Nirawak

Perkembangan dunia survey dengan drone saat ini sudah semakin maju. Jika pada era sebelumnya foto udara dengan drone/UAV ini menggunakan penerbangan secara manual, maka saat ini sudah bisa fully autopilot. Demikian juga sensor yang dibawa, baik sensor pengambilan data raster maupun sensor posisi.

Untuk positioning, jika dulu yang tersedia hanya GNSS biasa, saat ini sudah bisa menggunakan RTK. Sensor pengambilan data pun mengalami kemajuan, jika dulu hanya data raster berupa kamera foto, saat ini sudah tambahkan sensor LiDAR.

Kebutuhan akan ketelitian Digital Terrain Model (DTM) atau kontur yang dihasilkan oleh pemetaan dengan Drone/UAV yang mendasari adanya sensor LiDAR pada drone/UAV. Dengan sensor LiDAR ini maka diharapkan permasalahan ketelitian tersebut dapat diatasi. Keunggulan Sensor LiDAR akan menambah ketelitian DTM yang dihasilkan pada survey dengan menggunakan Drone/UAV.

Kemampuan LiDAR dalam menembus vegetasi yang rapat untuk mendapatkan ground merupakan kelebihan yang mampu meningkatkan akurasi DTM/Kontur. Jika menggunakan foto udara biasa, maka daerah dengan kanopi/tutupan yang padat (misalkan hutan) akan sulit didapatkan DTM/Kontur yang akurat. Daerah dengan tutupan yang padat akan dilakukan interpolasi jika menggunakan foto udara biasa. Interpolasi tentu saja sangat menyulitkan dan kurang akurat jika daerah tersebut sangat luas lingkupannya.

Penggabungan dua sensor pengambilan data yaitu kamera dan LiDAR akan membuat akurasi data semakin baik. Data LiDAR dilengkapi dengan coloring dari hasil kamera serta data kamera dengan posisi ground menggunakan data LiDAR merupakan kombinasi yang memperkuat akurasi hasil survei dengan wahana nirawak.

 

Desa dan Peta

Pembangunan harus dimulai dari desa. Tingkat urbanisasi yang semakin besar perlu upaya yang sungguh-sungguh dalam membangun desa. Urbanisasi tidak hanya menjadi masalah kota yang dituju (yang menyebabkan persaingan pencari kerja dan dampak sosial lainnya), tetapi juga menjadi masalah bagi desa yang ditinggalkan, yaitu kekurangan tenaga kerja.

Pembangunan desa tak bisa dipungkiri harus mampu menyerap tenaga kerja dan memakmurkan penduduk desa. Lalu apa yang diperlukan? Tentu saja perencanaan pembangunan yang bagus, yang sesuai dengan karakter serta potensi desa yang bersangkutan. Perencanaan tentu saja tidak luput dari peta. Perencanaan pembangunan tanpa peta, bagaimana bisa?

Berita tentang Peta Desa

Seperti dikatakan oleh Guru Besar Fakultas Geografi UGM, Prof. Dr. Aris Marfa’i bahwa ada enam urgensi pembuatan peta desa, yaitu untuk mengetahui posisi desa terhadap kawasan di sekitarnya, melihat potensi desa, menyelesaikan sengketa batas wilayah, inventarisasi aset desa dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa, membantu perencanaan pembangunan infrastruktur desa, serta sebagai dasar informasi untuk integrasi spasial pembangunan wilayah. (https://ugm.ac.id/id/berita/11263-peta-desa-percepat-pembangunan-desa-dan-kawasan-pedesaan)

Demikian pentingnya peta bagi pembangunan desa, lalu apakah sudah terakomodasi dalam peraturan pemerintah. Sayangnya dalam Permendesa PDTT No 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2020, pengadaan peta desa untuk perencanaan tidak disebutkan.

Peta Desa Lembang yang dikerjakan oleh ITB

Peta Desa bukan hanya batas wilayah desa, melainkan juga peta yang mampu memuat apa saja yang ada di desa tersebut. Sumber daya alam, pariwisata, sumber daya manusia dan aset-aset desa yang lain. Dengan kelengkapan tersebut, maka peta desa dapat menjadi acuan yang lebih berdaya guna sebagai bahan perencanaan pembangunan desa. Dana desa akan lebih terserap sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh desa.