fbpx
Optimalkan Proyek Survey Pemetaan dengan Drone

Optimalkan Proyek Survey Pemetaan dengan Drone

Ketika drone/ UAV komersial pertama kali diperkenalkan, industri survey pemetaan (geospasial) segera mengadopsinya. Drone dilengkapi dengan berbagai jenis sensor dan kamera, drone diubah menjadi perangkat pengumpul data terbang. Jelas bahwa drone dapat mengoptimalkan alur kerja, meningkatkan keselamatan, mengoptimalkan hasil proyek dan merealisasikan penghematan biaya yang cukup besar. Contoh berikut menunjukkan bagaimana perusahaan survey menggunakan drone dalam berbagai proyek yang menggunakan data geospasial.

Survey dan Pemetaan

Tim Zona Spasial memonitor pesawat UAV
Tim Zona Spasial memonitor pesawat UAV

UAV dapat meringankan pekerjaan proyek survey pemetaan terestrial secara signifikan, misalnya di daerah berbahaya dimana tanah longsor dan gempa bumi biasa terjadi. Contohnya adalah proyek pemetaan di Papua Nugini, yang dilakukan oleh Survey & Design, sebuah perusahaan survei di Queensland Utara, Australia. Dengan menggunakan UAV untuk survey situs topografi, tim dapat menghemat waktu dan meningkatkan keselamatan. Para surveyor tidak perlu memasuki area berisiko dan menempatkan peralatan survey di sana. Menggunakan sensor canggih, dengan akurasi data sama baiknya, drone dapat menggantikan metode survey tradisional.

Drone tentu saja telah mengubah industri survey pemetaan, penghematan biaya, efisiensi dan keuntungan keamanan. Perusahaan survey ingin meningkatkan efektifitas survey dengan drone, artinya berusaha melakukan survey dengan area lebih banyak namun dengan waktu yang lebih sedikit. Drone telah terbukti menjadi cara terbaik untuk melakukan survey lahan, namun perusahaan surveyor terlebih dahulu harus berinvestasi sebelum mereka dapat melihat manfaat finansial.

Misalnya, investasi dalam pelatihan untuk dapat mengoperasikan UAV, dan sistem UAV yang lengkap (bukan hanya drone, tetapi seluruh rangkaian perangkat keras dan perangkat lunak) yang menghasilkan data foto udara yang optimal. Riset dan pengembangan juga telah dilakukan oleh tim Zona Spasial. Tim engineer kami telah melakukan serangkaian riset untuk meningkatkan kapabilitas di bidang survey foto udara, hingga lahirlah pesawat rakitan kami, Dadali UAV.

baca juga : Lakukan Survey dan Pemetaan Lebih Cepat dengan UAV

Pertambangan

Drone untuk pertambangan

Selama bertahun-tahun, perusahaan survey pemetaan harus mengandalkan fotografi udara menggunakan airborne ketika memetakan tambang terbuka. Tetapi fotografi udara terbukti mahal, karena proyek pemetaan udara biasanya mencakup wilayah yang luas agar menguntungkan. Drone terbukti menjadi alternatif yang bagus untuk area pemetaan skala kecil seperti tambang terbuka. Selain itu, mereka dapat memetakan area yang tidak aman dan tidak dapat diakses oleh manusia

Hal yang sama dapat dilakukan untuk survey tanah di area tambang, seringkali penuh dengan resiko. Dengan menggunakan UAV yang dilengkapi dengan kamera udara, anda dapat menghindari resiko itu. Saat ini banyak perusahaan menawarkan hexacopter yang dapat terbang mandiri untuk menghasilkan produk data geospasial seperti orthophotos (gambar udara yang dikoreksi secara geometris), model 3D point cloud (set titik data di ruang angkasa, yang berisi koordinat x, y dan z) ). Terlepas dari tujuan pemetaan, pekerjaan yang sedang berlangsung di tambang terbuka dapat dipantau menggunakan UAV, misalnya stock pile, muck pile, pemantauan dan analisis aset, serta inspeksi pabrik, dan peralatan.

Pertanian

Drone untuk pertanian

Pertanian digital adalah pangsa pasar baru dimana teknologi drone semakin banyak diterapkan. Perusahaan software pemetaan mengembangkan fitur khusus drone dalam industi pertanian. Citra drone dan teknik fotogrametri dapat membantu petani mengelola dan memantau tanaman mereka. Misalnya, peta foto udara yang beresolusi tinggi dapat membantu petani untuk mencari tahu masalah tanaman, sedangkan peta indeks vegetasi membantu mereka memahami kondisi tanaman. Kita juga dapat menghitung jumlah tanaman dengan fitur tree counting. Model permukaan digital terperinci membantu petani untuk merencanakan irigasi, struktur lapangan untuk meminimalkan erosi tanah, dan dapat digunakan untuk memvalidasi klaim asuransi. Ini baru permulaan, aplikasi pertanian yang baru akan terus bermunculan dan dikembangkan. Salahsatu yang mungkin diterapkan adalah, memperkirakan pertumbuhan tanaman (forecasting) yang akan membantu memahami bagaimana tanaman berubah seiring waktu, sebagai hasil dari berbagai teknik pertanian.

Energi

Peta Area Mikrohidro

Inspeksi kabel listrik adalah kasus penggunaan survey pemetaan yang penting untuk drone. Industri energi telah berpaling dari penggunaan helikopter dan operasi darat, dengan memanfaatkan otomatisasi survey grid, untuk meningkatkan keselamatan, manajemen data, dan mengurangi dampak lingkungan. Delair-Tech, penyedia solusi drone end to end yang aktif di banyak industri yang berbeda, mengklaim bahwa drone menghemat 30 hingga 40 persen biaya proyek daripada menggunakan helikopter untuk pekerjaan inspeksi saluran listrik.

Konstruksi

Foto udara rel kereta

Area konstruksi dapat dikelola dan ditingkatkan dengan menggunakan drone. Keselamatan selalu menjadi masalah besar di area ini. Kabar baiknya adalah, survey menggunakan drone untuk melakukan pengukuran atau kegiatan lain dapat membantu menghindari korban. Kedua, karena tempat kerja cenderung berubah dengan cepat dari waktu ke waktu, drone dapat digunakan sebagai perangkat pemantauan dengan mengumpulkan data di sekitarnya. Model 3D yang didasarkan pada pengumpulan data berbasis drone, dapat secara akurat menampilkan pembaruan harian yang pada gilirannya dapat dibagikan di antara semua pemangku kepentingan, memberikan satu sumber data faktual. Hal ini pada saatnya membantu mengurangi risiko survey dan mengidentifikasi masalah sebelum timbul, serta menghindari kesalahan yang berbiaya mahal.

Distribusi dan Monetisasi Peta Drone

Foto udara perkotaan

Artikel ini membahas penggunaan drone dalam banyak industri, yang menunjukkan bagaimana proyek survey dan pemetaan dapat mengambil manfaat dari penggunaan drone. Sayangnya, proyek drone sebagian besar dilakukan sekali, dan data hanya digunakan oleh beberapa pemangku kepentingan. Apa yang akan terjadi jika kita memiliki peta di banyak lokasi survey namun tidak dimanfaatkan lebih lanjut? Ini merupakan sebuah peluang untuk memanfaatkan kembali peta yang kita dapatkan dan menjualnya kepada pihak lain yang membutuhkan. Jika suatu saat ada permintaan proyek dan ternyata kita sudah pernah memetakan lokasi tersebut? maka dengan mudah kita menjual peta hasil proyek sebelumnya untuk berbagai kepentingan.

untuk proyek survey pemetaan bagi perusahaan Anda, segera hubungi kami di info@zonaspasial.com atau WA 085794084844


Sumber :

https://medium.com/soar-earth/how-drones-can-optimize-surveying-and-mapping-projects-51dc88dbd4d0

Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Industri kini telah masuk dalam era otomatisasi. Semua industri melakukan revolusi dalam hal business improvement process. Dalam hal survey dan pemetaan, penggunaan UAV / drone diadopsi untuk melakukan inspeksi dan monitoring aset perusahaan. Penggunaan drone tersebut merupakan salahsatu proses improvement karena drone dapat menghasilkan data foto udara yang dapat di cek secara berkala.

Industri drone komersial berada di titik puncak era baru otomatisasi. Penerbangan drone yang dilakukan secara otomatis bukanlah hal baru, namun dalam hal mengukur dan menganalisis data foto udara masih merupakan proses manual. Ketika industri drone semakin matang, maka otomatisasi akan diperlukan untuk memastikan hasil foto udara UAV yang konsisten dan akurat. Seperti halnya yang dilakukan PT Zona Spasial. dalam survey pemetaan, kami melakukan otomatisasi jalur terbang melalui Mission Planner. Namun untuk olahdata, masih diperlukan usaha manual untuk melakukannya.

Tim Pilot UAV Zona Spasial memantau pesawat UAV dalam proyek pemetaan

Apa yang Diperlukan untuk mengukur otomatisasi operasi Drone agar dapat bisa di-scalable?

Alur Kerja Berulang (Repeatable Workflows)

Bagi perusahaan mana pun yang mengembangkan software pemetaan drone, mereka harus mampu menghasilkan alur kerja yang dapat diulang yang mudah bagi para pekerja untuk berintegrasi ke dalam operasi sehari-hari mereka. Jika alur kerja tidak dapat direplikasi dengan mudah, akan lebih sulit untuk digunakan surveyor dan itu pasti tidak bisa skala.

Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Handal

Setiap hasil olah data foto udara yang terukur harus dapat diandalkan. Perusahaan membutuhkan solusi yang dapat dipercaya setiap kali bekerja dan menyampaikan wawasan yang mereka andalkan untuk membuat keputusan bisnis yang lebih cerdas. Itulah mengapa keandalan teknologi diperlukan untuk memproses hasil foto udara UAV itu.

Hasil yang Konsisten

Konsistensi diperlukan jika perusahaan survey ingin menerapkan solusi drone dalam skala besar. Sayangnya, pengukuran dan analisis manual tidak hanya memakan waktu tetapi juga rentan terhadap kesalahan. Mesin dapat membantu. Itulah sebabnya otomatisasi dalam pengolahan survey pemetaan akan bergantung pada algoritma dan deep learning machine untuk mendorong hasil yang konsisten dan akurat setiap saat.

baca juga : Memilih Drone untuk Pemetaan


Machine Learning, Computer Vision, dan Artificial Intelligence di masa depan

Kehadiran Machine Learning dan AI dapat mempermudah masa depan industri Survey

Kunci untuk mengembangan dan skalabilitas (scalability) adalah otomatisasi. Tapi bagaimana Anda mengotomatiskan analisis data foto udara UAV? Disinilah machine learning dan kecerdasan buatan dapat berperan. Kita dapat mengajarkan mesin untuk mendeteksi pola dan objek, membuat pengukuran yang akurat, dan mengubah kumpulan data besar menjadi laporan yang mudah dicerna.

Telah banyak pembicaraan tentang teknologi ini di industri drone komersial, namun baru sebatas rumor. Mengapa demikian? sebagai industri baru, otomatisasi baru saja dimulai. Untuk memberikan solusi yang dipandu oleh AI (artificial intelligent) sejati dalam mengotomatisasi alur kerja, diperlukan banyak data.

Sekarang saatnya mengumpulkan data hasil survey pemetaan tersebut untuk bekerja untuk membangun solusi machine learning terdepan di industri untuk memecahkan tantangan dunia nyata yang dihadapi perusahaan saat mereka menempatkan drone untuk bekerja di lapangan setiap hari.


Sumber:

https://blog.dronedeploy.com/drones-in-the-age-of-automation-4e874c938ebc

Perbedaan-DSM,-DEM dan DTM dalam Model Digital Muka Bumi

Perbedaan DSM, DEM Dan DTM dalam Model Digital Muka Bumi

Dalam survey topografi, dikenal istilah elevasi atau ketinggian suatu objek dari titik tertentu. persamaan elevasi dihubungkan oleh garis imajiner yang kemudian menjadi profil topografi muka bumi. Sebagai seorang surveyor, mengenali elevasi muka bumi adalah keharusan. Kita harus dapat membedakan model elevasi muka bumi atau elevasi berdasarkan tutupan lahannya. Pengetahuan itu dapat berguna untuk menentukan model apa yang cocok digunakan untuk menganalisis data spasial. Oleh karena itu, mari simak penjelasannya.  

Sensor dalam kamera menangkap cahaya matahari yang dipantulkan oleh medium tertentu untuk kemudian ditangkap menjadi foto udara. Pantulan cahaya matahari tersebut didapatkan dari medium (tempat) yang berbeda-beda. Ada cahaya yang tembus sampai ke permukaan tanah, batu, pepohonan maupun atap rumah. Semuanya menjadikan kesan ketinggian yang beragam tergantung dengan medium tempat pantulan cahaya. Inilah yang menjadi awal mula perbedaan model antara Digital Surface Model (DSM), Digital Elevation Model (DEM), dan Digital Terrain Model.

Apa itu Digital Surface Model (DSM)?

Digital Surface Model
Digital Surface Model

DSM atau disebut pula Model Permukaan Digital adalah model permukaan bumi dengan menggambarkan seluruh objek permukaan bumi yang terlihat. Objek bangunan, vegetasi yang menutupi tanah dan objek tanah yang terbuka termasuk dalam data tersebut. Kenampakan DSM akan menggambarkan bentuk permukaan bumi seperti keadaan nyata yang terlihat dari foto.

DSM berguna dalam pemodelan 3D untuk telekomunikasi, perencanaan kota dan penerbangan. Karena objek tutupan di permukaan bumi dapat dianalisis untuk kebutuhan berikut ini:

Pendekatan Zona Runway: Dalam penerbangan, DSM dapat menentukan penghalang landasan di zona pendaratan pesawat terbang.

Pengelolaan Lingkungan: DSM dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai perbedaan tutupan lahan dan kondisinya

Analisis Obstruksi: DSM dapat digunakan untuk menganalisi spotensi dan konektivitas dalam hal perencanaan wilayah.

Apa itu Digital Elevation Model (DEM)?

Digital Elevation Model
Digital Elevation Model

DEM atau Model Elevasi Digital adalah grid raster yang mereferensikan titik awal dari permukaan bumi. Pemodelan ini memungkinkan Anda untuk mengeliminasi objek di permukaan tanah seperti tanaman dan perumahan, model yang dihasilkan berupa model 3D dengan permukaan yang halus. Bangunan (jaringan listrik, gedung dan menara) dan fitur alam (pohon dan jenis vegetasi lainnya) tidak termasuk dalam DEM. Pemodelan ini berguna untuk:

Hidrografi: Hidrologi menggunakan DEM untuk menggambarkan batas air, menghitung akumulasi aliran dan arah aliran.

Stabilitas Batuan: berguna untuk merencanakan pembangunan jalan raya dan pemukiman, kaitannya dengan daerah rawan longsoran dan daerah lereng yang tinggi dengan vegetasi yang jarang.

Pemetaan Tanah: DEM membantu pemetaan jenis tanah berdasarkan pengamatan terhadapap elevasi, kondisi geologi, faktor pendukung lainnya.

Apa itu Digital Terrain Model (DTM)?

Digital Terrain Model
Digital Terrain Model

DTM sebenarnya identik dengan DEM, bahkan disamakan posisinya. Ini berarti bahwa DTM hanyalah permukaan elevasi yang mewakili bumi kosong yang direferensikan ke datum vertikal. DTM biasanya dibuat melalui fotogrametri stereo. Titik-titik DTM secara terpisah secara teratur mengikuti bentuk permukaan bumi. Dari garis-garis ruang dan kontur yang teratur ini, Anda dapat menginterpolasi DTM menjadi DEM. DTM merepresentasikan fitur medan yang lebih baik karena batas-batas 3D dan titik-titik massa 3D yang teratur secara spasial.

Bagaimana cara menangkap Model Elevasi Digital?

Perbedaan DSM dengan DTM / DEM
Perbedaan DSM dengan DTM / DEM

Beberapa metode penginderaan jauh untuk mendapatkan permukaan DEM adalah:

Data Citra Satelit: Radar aperture sintetis seperti Shuttle Radar Topography Mission menggunakan dua gambar radar dari antena yang diambil pada saat yang sama untuk membuat DEM.

Photogrammetry: Dalam fotografi udara, fotogrametri menggunakan foto dari setidaknya dua titik pandang yang berbeda. Serupa dengancara mata kita bekerja, ia dapat memperoleh kedalaman dan perspektif karenatitik pandang yang terpisah.

LiDAR: Menggunakan cahaya, pengukuran LiDAR memantulkan cahaya yang memantul ke tanah dan kembali ke sensor untuk mendapatkan elevasi permukaan Bumi.

Ada banyak sekali manfaat dari ketiga produk ini, pembuatan produk turunan DEM disesuaikan dengan tujuan awal seperti untuk analisa volume, jarak cut and fill, rencana pembuatan terowongan, jembatan analisis aliran air,analisis daerah rawan longsor, irigas, erosi, pembuatan jaringan jalan danbanyak lagi bahkan sampai aspek pertahanan yang dipakai dunia militer.

Dengan adanya model 3D dari suatu wilayah maka rencana dapat dibuat dengan matang serta data yang ada dapat digunakan untuk berbagai macam simulasi dan analisis.

Perkembangan software dan dunia digital yang begitu cepat juga membantu mempermudah pembuatan produk ini, jika dulu penggunaan LIDAR menjadi tehnik favorit untuk membuat DSM kini dengan foto udara dan bantuan software DSM juga dapat dibuat dengan akurasi yang tidak kalah dan lebih murah.

Ilustrasi Perbedaan DSM dengan DTM / DEM
Ilustrasi Perbedaan DSM dengan DTM / DEM

Sumber :

https://gisgeography.com/dem-dsm-dtm-differences/

4 Fungsi Drone dalam Penanganan Pasca Bencana

4 Fungsi Drone dalam Penanganan Pasca Bencana

Resiko kecelakaan tugas yang besar dan banyaknya hal yang mesti ditangani menjadi pekerjaan bagi petugas tanggap bencana. Apalagi jika area yang terkena bencana sangat luas. Tentu memerlukan banyak waktu untuk menyisir wilayah yang terkena dampak. Dengan adanya drone, kebutuhan survey pasca bencana dapat diatasi. Drone sangat bermanfaat untuk membantu pemulihan pasca bencana. Bagaimana fungsinya dalam hal ini?

Membantu dalam Pencarian, Penyelamatan, dan Pasokan

Pencarian Korban maupun aset dalam reruntuhan

Setelah bencana besar, salahsatu aspek pertama tanggapan adalah memastikan bahwa penduduk yang terkena dampak bencana aman. Untuk itu, aksi tanggap bencana yang awal adalah melakukan upaya pencarian dan penyelamatan. Secara umum, pencarian dan penyelamatan dilakukan dengan pesawat, kapal, dan kendaraan darat. Di Indonesia terdapat badan-badan yang siaga terhadap respon pertolongan pasca bencana. Seperti BNPB, Basarnas, Tagana, TNI,Polri, dan relawan lainnya.

Dengan menggunakan drone yang dilengkapi dengan kamera, Ia dapat dengan cepat menyisir sejumlah besar wilayah, menentukan lokasi para korban dan membantu mengidentifikasi area yang paling membutuhkan bantuan. Ini memungkinkan upaya penyelamatan lebih fokus dan memberikan tanggapan yang lebih cepat.

Demikian juga, beberapa pasokan logistik dapat disampaikan oleh drone, memungkinkan upaya kemanusiaan menjadi lebih efisien dan efektif dalam pekerjaan mereka.

Melakukan Assesmen Lebih Cepat

Fasilitas publik sebagai salahsatu aset kerugian

Begitu korban manusia dari suatu bencana telah ditangani, salahsatu tugas lainnya adalah menilai kerusakan material yang disebabkan oleh bencana. Sebelumnya, ini dilakukan secara manual dengan menyisir area terdampak bencana. Dengan menggunakan drone, dapat membuat proses assessment (penilaian) lebih cepat dan lebih mudah. Drone dapat digunakan untuk menganalisa area yang luas, untuk mengidentifikasi area yang paling terkena dampak untuk mendapat perhatian lebih lanjut, dan mereka dapat menganalisis dari hasil foto udara mengenai jenis, luas dan fasilitas yang terkena dampak bencana.

Meningkatkan Keselamatan

Bangunan yang tertimpa batang pohon

Tanggap bencana dapat melibatkan risiko keselamatan yang besar. Petugas yang datang untuk membantu pencarian, penyelamatan dan assesment kerusakan dapat menjadi korban lainnya dari reruntuhan bangunan yang tidak stabil, jaringan listrik yang terputus, kondisi air dan banjir yang tidak aman,dan kurangnya infrastruktur secara umum.

Drone memungkinkan keselamatan petugas penyelamat karena melakukan pemantauan dari jarak jauh. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk membuat keputusan terbaik tentang cara mendekati area bencana. Drone juga memungkinkan penilaian kerusakan atap, gedung tinggi, dan area yang tidak dapat diakses seperti jalan rusak dan jembatan yang putus tanpa mengharuskan siapapun untuk membahayakan risiko keselamatan mereka.

Mengurangi Biaya

Menyisir lokasi bencana dengan drone

Biaya pemulihan bencana sering tak terhitung dan bisa menjadi penghalang. Banyak daerah yang terkena dampak tidak bisa pulih dalam waktu dekat. Meskipun drone tidak dapat menghilangkan semua biaya pemulihan, Ia dapat mengurangi sebagian biaya dengan penilaian yang lebih cepat dan lebih efektif dengan penggunaan sumber daya manusia yang lebih sedikit. Selain itu, drone dapat memberikan informasi nilai kerusakan pada pemerintah dan mengefektifkan budget yang keluar untuk survey area bencana.

Kesimpulan

Dengan beberapa hal itulah, drone mampu dipercaya sebagai mitra utama dalam penanganan pasca bencana dengan memberikan layanan survey dan pemetaan area bencana. Survey tersebut lebih aman dan efisien karena melibatkan sedikit sumber daya manusia dan dapat dilakukan dengan cepat. Hasil peta faktual dapat dipergunakan berbagai pihak untuk bersama-sama membuat keputusan tanggap bencana yang lebih baik. Seperti yang telah kami lakukan September lalu saat menangani pasca bencana di Palu-Donggala. Kami melakukan survey lokasi terdampak bencana dan mengumpulkan informasi yang berguna untuk tempat relokasi dan menilai tingkat kerusakan bencana.


Sumber : 

https://www.gleassociates.com/everything-you-need-to-know-about-drones-in-disaster-recovery/

Apa itu Ground Control Points dan Bagaimana Menggunakannya

Apa itu Ground Control Points dan Bagaimana Menggunakannya?

Jika Anda bekerja dengan perangkat lunak pemetaan foto udara, Anda pasti mendengar tentang titik kontrol tanah (Ground Control Point atau GCP). Istilah ini sering digunakan dalam industri survey, desain virtual dan konstruksi, GCP dapat meningkatkan akurasi dari peta yang dihasilkan dari foto udara. Meskipun tidak diperlukan dalam setiap situasi, GCP adalah alat vital untuk pemetaan yang presisi. Tapi apa sebenarnya titik kontrol tanah? bagaimana menggunakannya dengan benar?

Apa itu Ground Control Point?

Ilustrasi Ground Control Point dalam proyek survey

Titik kontrol tanah (GCP) adalah target besar yang ditandai di tanah, ditempatkan secara strategis di seluruh area survey dengan teknis dan preferensi tertentu. Anda harus terlebih dulu menentukan koordinat GPS RTK di pusat masing-masing. GCP dan koordinatnya kemudian digunakan untuk membantu perangkat lunak pemetaan drone untuk secara akurat memposisikan peta dengan kondisi nyata di sekitarnya.

Analoginya seperti menempatkan paku payung atau push pin dalam sebuah majalah dinding. Masing-masing pin dapat membantu merekatkan scrap (potongan rubrik mading) dengan bantalan mading agar bisa dipajang di dinding. GCP berfungsi demikian untuk bisa merujuk lokasi referensi peta di masing-masing titiknya.

Kapan dan Mengapa GCP Penting?

Ketika digunakan dengan benar, GCP dapat meningkatkan akurasi peta. Artinya, GCP membantu memastikan bahwa garis lintang dan bujur titik di peta secara akurat sesuai dengan koordinat GPS yang sebenarnya. Ini penting dalam situasi dimana pemetaan presisi dan akurasi diperlukan. Perusahaan survey umumnya menggunakan GCP, karena tingkat akurasi yang tinggi penting dalam sebagian besar pekerjaan yang dilakukan. Virtual Design dan konstruksi adalah sektor lain yang sering membutuhkan tingkat pemetaan yang presisi ini.

Setiap proyek pemetaan drone adalah unik, dan tidak semua proyek memerlukan tingkat akurasi peta yang tinggi. Karena itu, penting untuk menilai setiap proyek sebelum Anda memutuskan untuk mengambil langkah menggunakan GCP. Namun secara umum, proyek seperti overlay geo-referensi, dokumen desain dan survey tanah bisa memanfaatkan penggunaan GCP.

baca juga : Lakukan Survey dan Pemetaan Lebih Cepat dengan UAV

Cara Membangun Titik Kontrol di Tanah

Satu hal penting untuk diingat bahwa GCP harus mudah terlihat dalam foto udara Anda. Hal ini dilakukan dengan cara menggunakan warna kontras tinggi, dengan memastikan titik kontrol tanah cukup besar untuk dilihat dari ketinggian penerbangan tertentu. Kami merekomendasikan terbang dengan ketinggian 300 kaki dengan frontlap ​​dan sidelap 70/75 peta (tingkat tumpang tindih peta) saat menggunakan GCP. Perlu diingat bahwa hal ini dapat berubah tergantung pada area pemetaan. Kebanyakan penanda harus memenuhi dua kriteria sederhana:

  • Desain dengan tingkat kontras yang tinggi agar mudah dibedakan dengan medan di sekitarnya
  • Bentuk geometri standar yang menunjukkan pusat penanda yang diukur
Bentuk-bentuk umum sebuah GCP

Mengukur Lokasi GCP

Seperti yang telah disebutkan di atas, penting untuk mengukur koordinat GPS di pusat setiap titik kontrol tanah. Untuk melakukan ini, Anda memerlukan receiver Real Time Kinematic (RTK) atau Pasca Pengolahan Kinematik (PPK).  Jangan gunakan ponsel atau tablet untuk mengukur lokasi titik kontrol tanah Anda. Keakuratan perangkat ini sangat mirip dengan sistem GPS onboard drone dan tidak akan memberikan hasil yang akurat. Sebaliknya, gunakan salah satu metode sebelumnya yang tercantum di atas, seperti penerima GPS RTK atau PPK.

Tips menempatkan GCP

Contoh sebaran GCP dalam area survey

Sebarkan GCP merata di tanah. Marker harus ditempatkan disekitar sudut luar area dan sisanya didistribusikan di seluruh pusat area. Secara umum, survey lapangan harus dapat memuat minimal 5 GCP dengan kisaran luas 10 sampai 120 hektar per area survey. Pastikan GCP diberi jarak yang cukup berjauhan, untuk menghindari kebingungan.

Buat zona penyangga di sekeliling batas peta. Disarankan zona penyangga berada diantara tepi peta dan titik GCP. Ini memastikan ada cukup cakupan gambar untuk melakukan pemrosesan ulang. Ukuran zona penyangga harus berada di antara 50-100 kaki, tergantung pada tingkat overlap penerbangan. Overlap yang lebih tinggi menghasilkan lebih banyak gambar dan umumnya membutuhkan lebih sedikit buffer zone.

Waspadai perubahan ketinggian. Jika area yang dipetakan memiliki perubahan elevasi yang nyata seperti bukit, ranjau dan lembah, pastikan untuk menempatkan setidaknya satu titik kontrol tanah pada setiap elevasi utama yang berbeda.

Pastikan GCP tidak terhalang. Obstruksi visual seperti overhang, salju, bayangan atau silau membuat titik kontrol tanah sulit diidentifikasi pada peta. Jangan sampai GCP terhalang objek di tanah dan hindari tutupan seperti tanaman, pohon dan lainnya.


Sumber :

https://blog.dronedeploy.com/what-are-ground-control-points-gcps-and-how-do-i-use-them-4f4c3771fd0b

https://medium.com/@propeller_aero/things-to-know-about-ground-control-in-drone-surveying-6b63ba6ccf0c

Penggunaan UAV untuk Profesi Survey Lapangan

Lakukan Survey dan Pemetaan Lebih Cepat dengan UAV

Survey topografi adalah bagian penting dari semua proyek pengembangan lahan. biasanya, survey topografi dilakukan secara terestris atau menggunakan alat darat untuk pengamatan tinggi muka tanah. survey ini memang cukup akurat, namun memerlukan waktu yang lama untuk menyisir daerah survey. Sebelum sebuah wilayah dapat dibangun, survey topografi yang akurat diperlukan karena beberapa alasan:

  • Untuk memastikan pengembangan lahan awal (perubahan fisik tanah) berhasil sehingga memungkinkan aliran air yang tepat untuk drainase.
  • Untuk mendokumentasikan topografi dalam kaitannya dengan kondisi bencana untuk pencegahan kerusakan dan asuransi.
  • Untuk melihat konektivitas lokasi dengan wilayah sekitarnya. Apakah alat transportasi dapat masuk dan menciptakan alur distribusi yang optimal.
  • Untuk mengukur nilai tanah yang disesuaikan dengan nilai pajak tanah, kaitannya dengan kepemilikan dan harga suatu bangunan.

Untuk itu, diperlukan cara-cara agar pelaksanaan survey proyek dapat terlaksana dengan cepat dan efektif. Agar mengurangi biaya operasional yang besar dalam pelaksanaan proyek. Survei topografi tradisional membutuhkan pengumpulan poin GPS (atau “shots”) dalam grid yang ditentukan sebelumnya.

baca juga : Prinsip Cara Kerja Sebuah UAV

Misalnya saja untuk area seluas 85 hektar. Dengan kondisi grid 50×50, Pemotretan GPS dikumpulkan setiap 50 kaki di setiap cross grid. Artinya sebanyak 1.632 shots GPS dikumpulkan di area survey seluas 85 hektar. Tanpa UAV, survey lapangan dapat mengumpulkan ± 20 poin / jam (1 poin setiap 3 menit atau lebih), survey shots GPS akan memakan waktu sekitar 82 jam. 82 jam survey lapangan berarti bahwa pengembang proyek akan menunggu setidaknya 1 minggu kerja lapangan sebelum pemprosesan dan peninjauan data. Setelah itu, dibutuhkan 3-4 hari lagi sebelum hasil akhir dapat dikirimkan.

poin GPS shots dalam survey lapangan tradisional

Survey topografi yang sama seluas 85 hektar dengan menggunakan teknologi UAV, dapat dilakukan jauh lebih cepat dan efisien. Pertama, tidak perlu mengumpulkan 1,600+ titik GPS di seluruh areal. Sebagai gantinya, UAV hanya memerlukan pengumpulan data GPS survey pada 10 target kontrol tanah (atau GCP), yang ditempatkan secara strategis dalam area survey. GCP ini hitungannya dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan. Jadi jelas perbandingannya. 10 target GCP vs. 1.632 poin survey. 10 target GCP ini akan menjadi satu-satunya poin yang dikumpulkan dan dapat diselesaikan dalam waktu tidak lebih dari 1-2 jam.

titik GCP dalam survey menggunakan UAV

Menggunakan Dadali UAV tipe fixed wings, seluruh area survey seluas 85 hektar dapat selesai dalam penerbangan tunggal sekitar 22 menit. Total operasi drone termasuk perakitan, pemeriksaan pra-penerbangan, peluncuran, pendaratan, pembongkaran, dan penyusunan orthophoto awal, dapat diselesaikan dilapangan dalam 1 jam.

UAV Data Collection (1 jam) + GPS Survey Collection (5.8 jam) =

Total waktu untuk kerja lapangan: 6,8 jam

Contoh rute terbang UAV untuk survey

Perbandingan:

UAV survey = 6,8 jam

Survey lapangan = 81,6 jam

Total penghematan 74,8 jam

(waktu yang cukup untuk menyaksikan seluruh trilogi Lord of the Rings… 8 kali berturut-turut)

Mau nonton Lord of The Rings di sela-sela proyek?

Dengan menggunakan teknologi UAV survey mapping, pengembang wilayah dapat melakukan survey topografi kira-kira 75 jam lebih cepat dari survey lapangan tradisional. 75 jam dapat menghemat biaya yang besar dalam puluhan dan ratusan juta.


Sumber :

https://blog.dronedeploy.com/case-study-830cfc23db55

Memilih Drone Pemetaan untuk Perusahaan Anda

Memilih Drone untuk Pemetaan

Banyak perusahaan yang ingin melakukan pembelian drone untuk keperluan survey dan pemetaan. Drone memungkinkan perusahaan menangkap foto udara untuk menghasilkan peta akurat dan model 3D di sekitarnya. Dengan menganalisis peta, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih cepat dan tepat yang meningkatkan efisiensi, meningkatkan keselamatan, dan efektifitas operasional. Dengan manfaat seperti ini, tidak mengherankan jika penggunaan drone meningkat di berbagai industri termasuk konstruksi, pertanian, survei, penambangan, dan banyak lagi.

Lalu pertanyaannya kemudian, drone seperti apa yang harus dibeli? Berikut ini beberapa pertimbangan yang dapat membantu sebelum melakukan pembelian. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai penggunaan tertentu, jadi penting untuk memahami perbedaan utama antara kedua jenis.

Perbandingan Drone Fixed Wings dan Multi-Rotor

Drone Multi-Rotor

Drone tipe Multi-Rotor

Pesawat multi-rotor adalah model drone yang paling umum digunakan untuk membuat peta dan model. Drone multi-rotor terdiri dari body utama dan beberapa rotor yang menggerakkan baling-baling untuk melakukan penerbangan dan manuver pesawat. Setelah di udara, drone multi-rotor menggunakan baling-baling untuk mengendalikan gerakan dengan memvariasikan kecepatan relatif masing-masing rotor untuk menghasilkan daya dorong. Ini menyajikan beberapa keuntungan ketika digunakan untuk pemetaan komersial.

Keuntungan

Kemampuan manuver yang lebih besar: pesawat multi-rotor dapat melakukan lepas landas dan pendaratan vertikal. Drone ini hanya membutuhkan sedikit ruang untuk terbang, dapat terbang dengan posisi hold, dan bermanuver juga berkeliling objek untuk pemeriksaan, pemetaan, dan pemodelan yang mudah.

Harga yang lebih rendah: drone multi-rotor dapat dibeli dengan harga yang lebih murah. Anda dapat membeli quadcopter profesional seharga 20 juta, sedangkan fixed wings drone dengan kualitas yang sama bisa berkali-kali lipat harganya.

Lebih kompak: drone multi-rotor tidak memerlukan sayap yang lebar, karena mereka menggunakan baling-baling untuk melakukan manuver. Drone ini dirancang untuk dilipat dan dikemas ke dalam kontainer yang lebih kecil. Membuatnya lebih mudah untuk diangkut.

Kemudahan penggunaan: drone multi-rotor lebih mudah diterbangkan oleh manusia dan autopilot. Cepat melakukan manuver, dan mampu membuat gerakan ke arah mana pun. Drone jenis ini bisa dipelajari lebih cepat. Selain itu, pada saat pendaratan, pilot lebih mudah mengendalikan drone karena ia dapat menstabilkan kondisi saat pendaratan dengan baling-balingnya.

Kapasitas muatan lebih banyak: drone multi-rotor umumnya bisa membawa lebih banyak beban karena desain mereka. Namun, ini akan membutuhkan drone yang lebih besar dan lebih mahal jika Anda ingin membawa muatan yang signifikan seperti DSLR besar atau rig kamera lainnya. Tak lupa, daya angkat rotor mesti ditingkatkan jika ingin mengangkat lebih banyak beban.

Kekurangan

Jangkauan lebih pendek: Satu batasan dari drone multi-rotor adalah jarak terbang pada kapasitas satu baterai. Kebanyakan drone multi-rotor dapat terbang hanya sekitar 30 menit sebelum kembali ke pangkalan untuk penggantian baterai. Anda dapat mengimbangi penurunan ini dengan membeli baterai tambahan.

Kurang stabil di angin: Aerodinamika pesawat multi-rotor membuatnya lebih rentan terhadap angin. Ini berarti anda harus berhati-hati dalam penggunaan di wilayah dengan angin kencang. Anda mungkin harus membeli kendaraan multi-rotor yang lebih berat, lebih stabil, dan lebih mahal.

baca juga : Prinsip Cara Kerja Sebuah UAV

Drone Fixed Wings

Drone tipe Fixed Wings

Drone fixed wings dirancang seperti jenis pesawat yang lebih konvensional, terlihat mirip dengan pesawat terbang pada umumnya. Memiliki body utama dan dua sayap dengan satu baling-baling. Setelah di udara, kedua sayap menghasilkan daya angkat yang mengkompensasi beratnya – memungkinkan pesawat untuk stabil dalam penerbangan. Jenis pesawat ini kurang umum dalam pemetaan drone diluar pertanian dan aplikasi minyak & gas.

Keuntungan

Rentang sayap yang signifikan: Pesawat fixed wings dapatterbang lebih lama daripada drone multi-rotor pada satu baterai tunggal. Ini idealuntuk memetakan area yang sangat besar atau linier karena drone ini dapatterbang tanpa harus sering mengganti baterai selama misi penerbangan.

Stabilitas yang lebih besar: Desain airframe sayap pesawat memberi stabilitas yang lebih besar dalam angin kencang dibandingkan drone multi-rotor. Ini penting untuk terbang di lingkungan yang terdapat angin kencang.

Aman saat fail safe: Jika drone ini kehilangan daya motor, secara teori ia dapat meluncur turun menggunakan daya aerodinamika sayapnya. Memberi kesempatan yang lebih baik untuk bertahan ketika jatuh.

Keuntungan penerbangan linear: drone fixed wings ideal untuk penerbangan jarak jauh, seperti inspeksi pipa. Namun, kemampuan ini saat ini terbatas pada persyaratan peraturan line-of-sight (LOS) di AS dan negara-negara lain dimana peraturan LOS telah diberlakukan.

Kekurangan

Memerlukan landasan untuk terbang: Pesawat fixed wings membutuhkan area lepas landas yang lebih besar dan zona pendaratan untuk penerbangan. Hal ini dapat membuatnya tidak cocok untuk beberapa kasus penggunaan. Ini juga memerlukan lebih banyak waktu untuk pengaturan, lepas landas, dan pendaratan.

Harga yang lebih tinggi: pesawat fixed wings cenderung lebih mahal daripada drone multi-rotor. Meskipun harga dapat berubah di masa depan, itu dapat memengaruhi budget perusahaan secara keseluruhan.

Menantang untuk terbang: Pesawat sayap tetap lebih sulit untuk terbang, baik untuk manusia dan kondisi autopilot, terutama dalam kondisi lapangan yang sukar. Beberapa pesawat dapat terbang dengan tolakan tangan, namun beberapa pesawat lainnya memerlukan slider untuk take off.

Kurang praktis: jangkauan jelajah yang tinggi dari drone fixed wings didapatkan dari bentuk aerodinamika pesawat, ini berarti drone lebih sulit untuk berkemas, dan membutuhkan perakitan sebelum penerbangan.

Kurang efisien untuk pemetaan area: Pesawat fixed wings kurang cocok untuk pemetaan area. Ini karena banyak corner diperlukan untuk menghasilkan pola grid dan mendapatkan overlay foto yang mencukupi dari area target. Drone fixed wings membutuhkan area yang lebih besar untuk berputar, dan tidak memiliki kemampuan manuver seperti drone multi-rotor.

Untuk mempermudah, kami menyiapkan tabel ringkasan ini sehingga Anda dapat membandingkan kedua jenis drone secara berdampingan.

Perbandingan antara Drone Fixed Wings dengan Multi-Rotor

Kesimpulan

Pada akhirnya, Anda harus memutuskan drone mana yang terbaik untuk kebutuhan perusahaan. Kami telah memberi Anda informasi dan alat untuk membuat keputusan berdasarkan informasi saat Anda memilih drone berikutnya untuk pemetaan.


Sumber:

https://blog.dronedeploy.com/choosing-the-right-mapping-drone-for-your-business-part-i-multi-rotor-vs-fixed-wing-aircraft-6ec2d02eff48