Posts

Pendangkalan Sungai dan Monitoringnya

Erosi tanah dari daerah hulu sungai seringkali menjadi sebab adanya pendangkalan sungai. Belum lagi masalah sampah yang dibuang ke sungai. Timbunan material baik alami maupun hasil limbah manusia yang berupa sampah, lama kelamaan dapat menyebabkan aliran sungai tidak lagi lancar. Ini yang kemudian menyebabkan luapan air dari sungai tersebut, jika daya tampungnya menurun.

 

Pendangkalan Sungai dan Akibatnya

Erosi pada tepi sungai maupun dasar sungai pada daerah hulu menjadi tak terhidarkan ketika alih fungsi lahan terjadi. Penyerapan air hujan oleh tumbuhan dan pohon menjadi berkurang karena alih fungsi tersebut. Penyerapan ini berfungsi menjaga air tidak mengalir di permukaan sehingga dapat mengikis muka tanah. Kikisan muka tanah tersebut pada akhirnya akan menuju sungai dan diendapkan sebagai sedimentasi padat.

Laju pengendapan sedimentasi yang besar tentu saja semakin mempercepat proses pendangkalan. Pengendapan di dasar sungai maupun di bagian tepi sungai membuat daya tampung sungai menurun.

Hal lain yang disinggung di atas adalah adanya pembuangan sampah yang juga akan mengakibatkan  pendangkalan sungai. Daya tampung air pada sungai yang sudah menurun akibat laju endapan sedimen dari sejak daerah hulu, diperparah dengan pembuangan sampah di sungai tersebut. Luapan air akan terjadi jika sungai tidak lagi mampu menampung air.

Selain banjir, yang perlu diperhatikan juga ekosistem yang rusak akibat pendangkalan ini. Ekosistem yang rusak menyebabkan keragaman hewan ikut hilang.

Gambar 1. Sedimentasi yang mengendap di sungai

 

Monitoring Pendangkalan Sungai

Untuk mengurangi resiko meluapnya air dari sungai akibat pendangkalan yang terjadi, maka perlu dilakukan  monitoring terhadap sungai tersebut. Monitoring bisa dilakukan secara berkala. Untuk sungai yang relatif sempit dan tidak dalam, monitoring lebih mudah dilakukan. Tetapi jika sungai yang dalam dan lebar, maka membutuhkan pengukuran lebar dan kedalaman secara berkala yang lebih rumit.

Gambar 2. Hasil Pengukuran Bathymetri Sungai CImanuk Indramayu

Pengukuran kedalaman sungai ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat-alat survei batimetri. Alat survei kedalaman sungai ini bisa menggunkan Single Beam Echosounder (SBES). Penggunaannya yang mudah dan akurasi yang baik, sangat mencukupi untuk pengukuran kedalaman sungai. Hasil pengukuran kedalam yang periodik ini dapat digunakan sebagai perencanaan tata kelola sungai, misalnya pengerukan.

Wahana pembawa alat survei ini bisa menggunakan kapal boat biasa maupun menggunakan Autonomous Survei Vessel (ASV).

Gambar 3. Autoboat ASV

Penggunaan ASV akan lebih efektif untuk sungai karena beberapa hal:

  • Mudah dalam mobilisasi
  • Sesuai dengan ukuran sungai yang akan disurvei
  • Mudah dalam pengoperasian
  • Relatif lebih murah dibanding biaya sewa boat
  • Lebih aman karena tidak berawak

Hal-hal di atas tidak bisa dilakukan oleh boat biasa, sehingga pilihan menggunakan ASV adalah pilihan yang lebih baik.

 

Peta untuk Penataan Sungai dan DAS

Banjir yang terjadi hampir tiap musim penghujan merupakan pengingat kita untuk menata kembali sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitarnya. Penataan ini baik dengan nama normalisasi maupun naturalisasi selalu membutuhkan peta eksisting dan terbaru.

Minimal ada 2 (dua) peta yang harus tersedia untuk melakukan perencanaan tersebut, yaitu peta batimetri kedalaman sungai dan peta situasi DAS. Kedua peta tersebut jika dikombinasikan akan menjadi dasar perencanaan penataan sungai dan DAS.

 

Peta Batimetri untuk Kedalaman Sungai

Sedimentasi baik secara alami, yaitu lumpur dan sedimen dari hulu yang terbawa arus maupun sedimentasi akibat sampah yang dibuang di sungai, merupakan penyebab pendangkalan sungai. Pendangkalan ini menyebabkan daya tampung sungai menjadi berkurang dan bisa menyebabkan meluapnya sungai, jika terjadi kenaikan volume air pada sungai tersebut.

Bagaimana peta kedalaman sungai didapatkan?

Tentu saja survei batimetri perlu dilakukan untuk mendapatkan peta tersebut. Dengan Single Beam Echosounder (SBES) sudah cukup jika yang diharapkan adalah kedalaman sungai pada waktu tertentu. SBES merupakan salah satu alat akustik yang dapat dibawa oleh moda transportasi sungai biasa maupun dengan ASV (Autonomous Survey Vessel)/Kapal survei nirawak. Kapal survei Nirawak (ASV) ini sangat fleksibel dalam mobilisasi, sehingga penggunaannya akan memudahkan dalam pekerjaan survei batimetri.

Gambar 1. Autonomous Survey Vessel (ASV) untuk survey batimetri

Dengan menggunakan model autopilot dan jalur survei yang telah ditentukan, ASV ini dapat membawa SBES dan merekam kedalaman sungai secara otomatis. Dilengkapi dengan positioning RTK (Real Time Kinematik), maka koordinat serta kedalaman dapa diplot menjadi peta batimetri. Melalui pengolahan data yang relative mudah, maka kita akan tahu kedalam sungai pada waktu tertentu (pada saat survei dilakukan). Jika kita melakukan survei berkala, maka akan didapatkan laju endapan sedimentasi (baik natural maupun sampah).

Gambar 2. Peta Batimetri kedalaman perairan dan proses surveynya

Peta batimetri yang didapatkan, bisa dijadikan dasar pengerukan sungai untuk mendapatkan daya tampung sesuai dengan yang diharapkan.

 

Peta DAS (Daerah Aliran Sungai)

Peta Daerah Aliran Sungai adalah peta yang berisi informasi obyek-obyek pada sekitar aliran sungai tersebut. Obyek tersebut bisa berupa tutupan lahan, pemukiman dan lain sebagainya. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan penyangga dari sungai tersebut. Pemanfaatan lahan DAS ini seringkali berbeda dari yang sudah ditetapkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).  Hal ini karena keterbatasan lahan hunian maupun lainnya.

Gambar 3. Jenis-jenis Drone/UAV

Pemetaan DAS ini bisa dilakukan dengan berbagai cara baik darat maupun udara. Pemetaan dengan darat, lebih lama serta berbiaya relatif lebih mahal. Sedangkan pemetaan dengan foto udara menggunakan pesawat Nirawak akan memprcepat proses pengadaan peta DAS. Hasil peta foto dari pesawat nirawak akan diolah menjadi DSM, DTM maupun tutupan lahan.

Gambar 4. Sebagian Daerah Aliran Sungai (DAS)

Peta tutupan lahan tersebut dapat digunakan untuk perencanaan terhadap DAS maupun sungai itu sendiri (baik naturalisasi maupun normalisasi). Perubahan peruntukan kawasan sekitar sungai tentu saja dapat memperkecil lebar sungai. Bahkan jika ada bangunan di bibir sungai, maka aliran sungai akan  menjadi terhambat.

Dengan menggunakan peta tersebut, maka rencana untuk memperlebar maupun memperbaiki aliran sungai akan bisa dilakukan dengan lebih baik. Jumlah rumah akan terhitung, luasan lahan kepemilikan dapat terhitung juga, sehingga ganti rugi (jika akan dilakukan penggusuran) akan bisa langsung dilakukan perhitungan.

 

Penggabungan Data Batimetri dan Data Foto Udara

Setelah kedua data tersebut didapatkan, maka penggabungan dapat dilakukan, karena kedua peta tersebut mengacu pada koordinat global yang sama. Tentu saja titik kontrol terhadap kedua peta tersebut harus dalam sistem koordinat yang sama.

Dengan penggabungan kedua peta tersebut, maka kita akan mempunyai peta perencanaan yang lebih bagus lagi. Beberapa hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan kedua peta tersebut antara lain:

  • Pembuatan Peta simulasi banjir
  • Perencanaan pendalaman sungai
  • Perencanaan normalisasi/Naturalisasi
  • Perencanaan pembangunan DAS
  • Perencanaan pembangunan pintu air
  • Dan lain-lain

Pelatihan dan Sumber Daya Manusia

PT Zona Spasial seringkali mengadakan pelatihan untuk survei dan pemetaan. Pelatihan ini meliputi pelatihan pemetaan dengan drone, pelatihan survei dengan laser scan maupun pelatihan untuk survei bathimetri (akan segera hadir). Hal ini disesuaikan dengan bidang bisnis yang ada di PT Zona Spasial. Pelatihan  ini ada yang bersifat internal maupun eksternal.

Pelatihan internal tentu saja untuk mengembangkan kapabilitas dari staf PT Zona Spasial. Untuk staf baru, tentu saja, pelatihan ini mandatory. Kemampuan staf baru harus disesuaikan dengan kebutuhan yang ada pada perusahaan. Sedangkan untuk staf lama, pelatihan ini untuk mengembangkan keahlian pada bidangnya maupun mempelajari lebih mendalam tentang bidang yang digelutinya. Pelatihan internal bisa berupa pelatihan peralatan, perangkat lunak maupun manajemen.

Pelatihan eksternal, beberapa kali juga kami selenggarakan. Pelatihan eksternal ini biasanya dilakukan dengan memberikan materi dasar pemetaan dengan drone/UAV, Laser Scan dan 3D Modeling serta pelatihan survei batimetri. Pelatihan ini ditujukan untuk peserta di luar staf PT Zona Spasial.

Sumber daya Manusia

Ketersediaan sumber daya manusia yang mempunyai kapabilitas yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan merupakan permasalahan yang ada sejak dulu. Keluar-masuknya personil dalam suatu perusahaan kadang menjadi masalah jika ada keterbatasan sumber daya. Apalagi perusahaan konsultan yang mengandalkan manusia sebagai aset terbesarnya.

Mengatasi hal tersebut, maka pelatihan secara berkala merupakan salah satu solusi, sehingga terjadi kesinambungan pengetahuan dan tidak ada “jomplangskill yang dimiliki. Pelatihan eksternal juga membantu menyelesaikan masalah jika suatu saat perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang terlatih pada waktu tertentu. Ketersediaan pasar tenaga kerja yang mumpuni (sesuai dengan bidangnya) akan sangat membantu dalam proses rekrutmen.

Sumber daya manusia yang terlatih dan mumpuni hanya bisa dicapai dengan pelatihan yang berkesinambungan. Pengetahuan tentang hardware, software serta manajemen terbaru harus selalu ditingkatkan. Dengan demikian maka masalah ketersediaan sumber daya manusia dapat teratasi.

 

Desa dan Peta

Pembangunan harus dimulai dari desa. Tingkat urbanisasi yang semakin besar perlu upaya yang sungguh-sungguh dalam membangun desa. Urbanisasi tidak hanya menjadi masalah kota yang dituju (yang menyebabkan persaingan pencari kerja dan dampak sosial lainnya), tetapi juga menjadi masalah bagi desa yang ditinggalkan, yaitu kekurangan tenaga kerja.

Pembangunan desa tak bisa dipungkiri harus mampu menyerap tenaga kerja dan memakmurkan penduduk desa. Lalu apa yang diperlukan? Tentu saja perencanaan pembangunan yang bagus, yang sesuai dengan karakter serta potensi desa yang bersangkutan. Perencanaan tentu saja tidak luput dari peta. Perencanaan pembangunan tanpa peta, bagaimana bisa?

Berita tentang Peta Desa

Seperti dikatakan oleh Guru Besar Fakultas Geografi UGM, Prof. Dr. Aris Marfa’i bahwa ada enam urgensi pembuatan peta desa, yaitu untuk mengetahui posisi desa terhadap kawasan di sekitarnya, melihat potensi desa, menyelesaikan sengketa batas wilayah, inventarisasi aset desa dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa, membantu perencanaan pembangunan infrastruktur desa, serta sebagai dasar informasi untuk integrasi spasial pembangunan wilayah. (https://ugm.ac.id/id/berita/11263-peta-desa-percepat-pembangunan-desa-dan-kawasan-pedesaan)

Demikian pentingnya peta bagi pembangunan desa, lalu apakah sudah terakomodasi dalam peraturan pemerintah. Sayangnya dalam Permendesa PDTT No 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2020, pengadaan peta desa untuk perencanaan tidak disebutkan.

Peta Desa Lembang yang dikerjakan oleh ITB

Peta Desa bukan hanya batas wilayah desa, melainkan juga peta yang mampu memuat apa saja yang ada di desa tersebut. Sumber daya alam, pariwisata, sumber daya manusia dan aset-aset desa yang lain. Dengan kelengkapan tersebut, maka peta desa dapat menjadi acuan yang lebih berdaya guna sebagai bahan perencanaan pembangunan desa. Dana desa akan lebih terserap sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh desa.

Kenapa Otomasi Menjadi Pilihan pada Alat Survei Geodesi?

Peralatan survei saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Baik dari segi kapasitas maupun kapabilitas, mengalami peningkatan yang signifikan. Capturing data yang cepat dan detil merupakan pilihan yang tak bisa dipungkiri. Dengan kecepatan yang semakin bagus, maka efesiensi waktu dapat dilakukan. Demikian juga semakin detil dan akurat data yang didapat maka efektivitas kerja dapat meningkat.

Selain hal tersebut, hal lain yang dipandang sangat penting adalah safety. Keselamatan kerja pada saat survei merupakan hal yang utama. Prioritas yang harus dijunjung oleh perusahaan survei melakui HSE Statement.

Berbagai Alat Survey Otomasi

  • Alat survey darat

Beberapa alat survei darat yang sudah dapat melakukan survei secara otomatis, yang paling terkenal adalah Robotic Total Station. Penggunaan robotic TS ini jelas akan lebih efesien pada tenaga kerja. Hanya perlu surveyor yang mengoperasikan serta alat Robotic TS

Trimble S8 Robotic Total Station

Alat lain yang sudah melakukan otomasi adalah TLS (Terrestrial Laser Scan). Alat ini, dengan setting tertentu, akan melakukan pengambilan data secara otomatis ke lingkungan/area survei. Hanya perlu pemasangan target pada titik tertentu, dan alat akan otomatis meng-capture-nya.

Laser Scanner FARO

  • Alat Survey udara

Mungkin diantara alat survei yang mampu diotomasi, alat survey udaralah yang paling terkenal. Kita kenal sebagai drone atau UAV atau pesawat nirawak. Otomasi ini tidak hanya pada wahana pembawa alat survei, tetapi pada alat surveinya sendiri juga dilakukan otomasi.

Dadali VTOL

Alat survey udara yang utama adalah kamera dan penunjuk posisi (GNSS). Kedua alat pengambilan data tersebut sudah dapat diotomasi dalam pengambilan data. Pada kamera dapat disetting berdasarkan jarak serta berdasarkan waktu. Sedang pada GNSS, ada yang dinamakan RTK (Real Time Kinematik), yang berarti GNSS akan mencatat secara otomatis posisi alat survei pada setiap saat.

  • Alat survey perairan

Alat survei otomasi pada perairan ada dua jenis, yaitu under water dan permukaan (water surface). Yang sering digunakan dalam survei offshore biasanya adalah ROV (Remotely Operated Vehicle). ROV ini bekerja secara otomasi di bawah permukaan laut untuk melakukan survei maupun pengambilan video laut.

ROV H300-MK2

Alat yang bekerja pada permukaan (water surface) biasanya disebut USV (Unmanned Survey Vessel) atau ASV (Autonomous Survey Vessel). Artinya kendaraan air nirawak.   Penggunaan ASV ini hampir sama dengan UAV, hanya saja media surveinya adalah perairan. Peralatan yang dibawa pun mengalami otomasi, baik alat survei bathimetri maupun positioning.

AutoBoat ASV

Keunggulan Alat Survey Otomasi

Beberapa keunggulan alat survei otomasi diantaranya:

  • Kecepatan

Kecepatan pengambilan data merupakan hal yang krusial dalam proyek pengukuran. Dengan kecepatan yang lebih, maka penghematan anggaran akan tercapai.

  • Keakuratan dan presisi

Terhindarnya human error dapat dilakukan karena sangat minimnya kontak antara manusia dengan alat. Human error ini kadang agak susah diprediksi.

  • Safety

Minimnya keterlibatan manusia, maka akan meningkatkan safety/keamanan dalam pengambilan data. Resiko kecelakaan kerja akan dapat dikurangi.

Autonomous Survey Vessel (ASV) Bagian III Alat Survey (SBES & MBES)

Saat ini banyak sekali alat survey pemeruman (bathymetri) di pasaran. Pada tulisan ini pembahasan ditujukan untuk alat survey Single Beam Echosouder (SBES) dan Multibeam echosounder (MBES). Kedua alat ini mampu dibawa dan digunakan dengan ASV (Autonomous Survey Vessel). Penggunaan kedua jenis peralatan survey ini tergantung dari kebutuhan. Wahana pembawa pun harus disesuaikan. Jika hanya SBES, maka mini ASV sudah mencukupi, tetapi jika survey membutuhkan MBES maka harus digunakan ASV biasa yang mampu membawa MBES dan perlengkapan lainnya.

 

Perbedaan  SBES dan MBES

Perbedaan utama antara SBES dan MBES tentu saja sonar yang dipancarkan, yaitu tunggal dan jamak. Demikian juga tangkapan hasil pulsa akustik dari keduanya juga berbeda. Berikut ini adalah perbedaan secara teknis:

Single Beam

Multibeam

–       Pengaturan yang mudah

–       Penggunaan yang mudah

–       Memakan waktu lama untuk survey luasan

–       Error mudah diidentifikasi

–       Single atau dual frekuensi

–       Pengaturan yang cukup rumit

–       Efesien, karena mampu merekam luasan

–       Deteksi kontak

–       Penggunaan data yang multiguna

–       Sumber error banyak

–       HF Only

–       File data yang masif

 

Keduanya, tentu saja, berbeda dalam penggunaan. Artinya tidak semua bisa dilakukan dengan SBES dan juga tidak semua survey hidrografi harus menggunakan MBES. Penggunaan kedua system itu harus disesuaikan kebutuhan. Misal kebutuhan hanya merekam kedalaman serta profil  kontur kedalaman, cukup dengan SBES. Demikian juga jika perlu perhitungan sedimentasi, kita bisa menggunakan SBES dual frekuensi, tidak perlu MBES.

SBES untuk Kedalaman dan Profil Kontur

Bagaimana cara penggunaan dan system kerja SBES? Dalam gambar berikut ini dapat menjelasakan bagaimana sebuah echosounder bekerja.

 

Beda waktu pelepasan sinyal dan penangkapan echo (sinyal balikan) dapat digunakan dalam perhitungan jarak, setelah mempertimbangkan juga velocity pada air. Jarak tersebut akan direkam sebagai kedalaman pada saat itu. Dengan banyaknya titik perekaman maka akan didapatkan kontur kedalaman dari area yang disurvey.

 

MBES untuk Profiling Detail

Prinsip kerja MBES pada dasarnya sama yaitu perhitungan waktu antara pelepasan pulse dengan penangkapan pulse oleh alat. Yang membedakan jika SBES pengiriman dan penangkapan sinyal hanya tunggal maka pada MBES sinyal yang dikirim maupun ditangkap jamak/multiple. Karena sinyal yang ditangkap oleh MBES bersifat multiple/jamak, maka bentuk permukaan yang dapat digambarkan juga bersifat luasan bukan hanya satu titik.

 

 

Pemanfaatan Alat Survey Hidrografi

Penggunaan SBES (Single Beam Echosounder) masih terbatas untuk mengetahui dasar permukaan bawah air dan untuk memetakan kontur bawah permukaan. Hal ini disebabkan keterbatasan SBES dalam memberikan hasil. Untuk keperluan praktis dan kecepatan dalam penggambaran kontur bawah permukaan air, SBES tentu saja lebih menguntungkan. Selain hal tersebut, biaya juga lebih murah.

Pemanfaatan MBES (Multibeam Echosounder) bisa dilakukan untuk mendapatkan profiling yang lebih detil. Misalnya untuk pendeteksian obyek di bawah permukaan air atau menggambarkan bangunan bawah air (mis, bendungan).

Autonomous Survey Vessel (ASV) Bagian II Autopilot dan Sistem Navigasi

Bagian paling penting dari sebuah wahana autonomous/nirawak adalah autopilot. Pada bagian inilah program untuk bergerak secara mandiri diprogram. Autopilot yang ada dipasaran saat ini ada dua sistem dari berbagai merk. Sistem yang terbuka (open source) dan tertutup (proprietary). Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Untuk Autonomous Survey Vessel (ASV) yang dibangun oleh PT Zona Spasial menggunakan open source karena kami nilai lebih gampang untuk disesuaikan dengan kondisi dan peralatan yang lain. Bukan berarti yang proprietary tidak bagus, hanya saja akan lebih rumit jika disesuaikan dengan peralatan yang berbeda-beda. Open source bisa diprogram sesuai dengan kebutuhan pada Autonomous Survey Vessel (ASV) yang kami bangun.

Sistem autopilot terhubung dengan perangkat lunak untuk pembuatan jalur pelayaran. Jalur pelayaran inilah yang nantinya akan memandu wahana ASV mengarungi perairan untuk melakukan survey. Pada prinsipnya, jalur-jalur pelayaran ini akan diunggah ke system autopilot dan akan memerintahkan wahana ASV mengikuti sesuai jalur.

Modul Autopilot dan Modul GPS

Adakalanya rencana jalur yang telah diunggah pada sistem autopilot mengalami perubahan akibat keadaan pada saat survei. Keadaan ini bisa diakibatkan oleh arus air, ombak maupun obyek-obyek yang membuat jalur menjadi melenceng. Untuk kejadian tersebut, perlu dilakukan koreksi terhadap Autonomous Survey Vessel (ASV) secara otomatis.

Koreksi dari sistem navigasi ini akan memberikan informasi ke autopilot bahwa rancangan jalur yang dilewati telah melenceng, maka autopilot akan memerintahkan ke motor untuk mengatur kecepatan putaran propeler dan memerintahkan rudder untuk manuver kapal sesuai jalur yang telah ditetapkan.

Navigation Chart ASV

Sistem navigasi yang terintegrasi pada autopilot membuat wahana ASV akan berjalan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan dan akan tetap pada jalur tersebut, sehingga pemeruman atau pengukuran kedalaman dan profil dasar wilayah perairan dapat diperoleh sesuai dengan yang direncanakan.

Demikian sedikit tentang sistem autopilot dan sistem navigasi pada ASV. Bagian selanjutnya kami akan membahas tentang peralatan survei hidrografi dengan SBES.

 

Menjaga Aset dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Salam Spasial,

Aset berharga pada perusahaan konsultan jasa survey dan pemetaan paling utama adalah manusia. Keberadaan aset ini harus selalu dijaga dan dirawat sehingga mampu memberikan positive feedback ke perusahaan. Aspek keselamatan dan kesehatan pekerja harus menjadi perhatian utama sebuah perusahaan.

Yang biasa kita kenal dengan Kesehatan dan keselamatan Kerja tidak hanya terbatas pemakaian APD (Alat Pelindung Diri), karena menurut WHO pengertian K3 adalah upaya yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. Lingkup K3 sangat luas, jika merujuk pada definisi ini.

Biasanya kita hanya mengacu pada kesehatan fisik saja, seperti melakukan pekerjaan sesuai SOP (Standart Operational Procedure), melindungi dari bahaya fisik yang bisa menimpa di tempat kerja, membuatkan asuransi kesehatan dan lain-lain. Kita jarang menerapkan kesehatan mental seperti kenyamanan tempat kerja, pergaulan sesama pekerja, istirahat yang cukup serta menikmati waktu bersama keluarga.

Keselamatan dan kesehatan kerja, baik fisik dan mental, akan membuat aset perusahan yang paling berharga (yaitu pegawai) akan selalu terjaga dan produktif. Sehingga diharapkan bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan yang pada akhirnya akan mensejahterakan karyawan dan lingkungan.

Kecanggihan Pixhawk 3DR PX4

UAV (Autonomous Aerial Vehicle) dadali serta ASV (Autonomous Survey Vessel) Barelang yang dibuat oleh team PT Zona Spasial menggunakan fitur autonomous, yang berarti kedua wahana tersebut dapat beroperasi secara mandiri berdasarkan perintah yang telah diunggah pada autopilotnya. Dua macam wahana (udara dan air) dapat menggunakan satu jenis autopilot, yaitu pixhawk.

Keunggulan sistem Pixhawk seperti multithreading yang terintegrasi, sebuah area pemrograman seperti Unix/Linux, fungsi baru autopilot seperti Lua scripting pada misi dan jalur terbang, dan sebuah layer driver PX4 custom yang memastikan ketepatan waktu sepanjang keseluruhan proses. Kemampuan terbaru ini menegaskan bahwa tidak ada batasan untuk wahana (UAV/ASV) mandiri. Pixhawk juga memudahkan operator APM dan PX4 untuk transisi ke sistemnya, dan pada pengguna baru untuk bergabung dalam dunia wahana otonom yang menakjubkan!

Berikut ini adalah fitur yang ditawarkan oleh 3DR Pixhawk:

  • 32 bit ARM Cortex® terbaru Prosesor M4 menjalankan NuttX RTOS
  • Output 14 PWM/servo (8 dengan failsafe dan override manual, 6 bantuan, kompatibel dengan kekuatan yang tinggi)
  • Pilihan konektivitas yang banyak untuk peripherals tambahan (UART, I2C, CAN)
  • Sistem backup terintegrasi untuk recover selama penerbangan dan override manual dengan prosesor berdedikasi dan suplai daya yang berdiri sendiri
  • Sistem backup mengintegrasikan gabungan, menyediakan autopilot yang konsisten dan gabungan mode override manual
  • Input suplai tenaga yang berlebihan dan failover otomatis.
  • Tombol safety eksternal untuk aktivasi motor yang mudah
  • Indikator LED multi-warna
  • Indikator audio piezo dengan multi-nada dan kekuatan yang tinggi
  • Kartu Micro SD untuk penyimpanan yang lama dan rate tinggi.

Pengukuran Dasar Waduk dengan Single Beam Echosounder

Sedimen yang dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke sebuah bendungan/waduk semakin lama akan membuat pengendapan dan mendangkalkan bendungan/waduk tersebut. Monitoring terhadap hal ini bisa dilakukan dengan berkala. Dangkalnya suatu bendungan/waduk tentu saja berpengaruh terhadap kapasitas/daya tampung air yang dibutuhkan.

Pengukuran berkala bisa dilakukan dengan memanfaatkan peralatan survey hidrografi. Pengukuran kedalaman dengan Single Beam Echosounder (SBES) sudah mencukupi untuk keperluan ini.

Peralatan yang dibutuhkan untuk mengukur dasar waduk antara lain:

  • Autonomous Survey Vessel (ASV) atau kapal tanpa awak/nirawak untuk wahana alat survey
  • Global Positioning System (GPS/GNSS), untuk melakukan pengukuran posisi kapal dan alat survey kedalaman
  • Single Beam Echosounder (SBES), alat yang memancarkan sonar suara yang digunakan untuk mengukur kedalaman
  • Autopilot, digunakan sebagai pemandu ASV dalam melakukan survey

Hasil akhir yang didapatkan adalah posisi horizontal (X dan Y) serta posisi kedalaman (Z). Berdasarkan hasil tersebut dapat digambarkan kontur kedalaman dasar waduk/bendungan.