Posts

LiDAR pada Pesawat Nirawak

Perkembangan dunia survey dengan drone saat ini sudah semakin maju. Jika pada era sebelumnya foto udara dengan drone/UAV ini menggunakan penerbangan secara manual, maka saat ini sudah bisa fully autopilot. Demikian juga sensor yang dibawa, baik sensor pengambilan data raster maupun sensor posisi.

Untuk positioning, jika dulu yang tersedia hanya GNSS biasa, saat ini sudah bisa menggunakan RTK. Sensor pengambilan data pun mengalami kemajuan, jika dulu hanya data raster berupa kamera foto, saat ini sudah tambahkan sensor LiDAR.

Kebutuhan akan ketelitian Digital Terrain Model (DTM) atau kontur yang dihasilkan oleh pemetaan dengan Drone/UAV yang mendasari adanya sensor LiDAR pada drone/UAV. Dengan sensor LiDAR ini maka diharapkan permasalahan ketelitian tersebut dapat diatasi. Keunggulan Sensor LiDAR akan menambah ketelitian DTM yang dihasilkan pada survey dengan menggunakan Drone/UAV.

Kemampuan LiDAR dalam menembus vegetasi yang rapat untuk mendapatkan ground merupakan kelebihan yang mampu meningkatkan akurasi DTM/Kontur. Jika menggunakan foto udara biasa, maka daerah dengan kanopi/tutupan yang padat (misalkan hutan) akan sulit didapatkan DTM/Kontur yang akurat. Daerah dengan tutupan yang padat akan dilakukan interpolasi jika menggunakan foto udara biasa. Interpolasi tentu saja sangat menyulitkan dan kurang akurat jika daerah tersebut sangat luas lingkupannya.

Penggabungan dua sensor pengambilan data yaitu kamera dan LiDAR akan membuat akurasi data semakin baik. Data LiDAR dilengkapi dengan coloring dari hasil kamera serta data kamera dengan posisi ground menggunakan data LiDAR merupakan kombinasi yang memperkuat akurasi hasil survei dengan wahana nirawak.

 

Penentuan Posisi pada Survei Foto Udara dengan Pesawat Nirawak

Posisi suatu titik pada hasil foto udara saat ditunjukkan dengan suatu sistem koordinat. Sistem koordinat ini bisa lokal, -artinya bahwa posisi tersebut ditunjukkan oleh baris dan kolom pada foto yang dihasilkan-, bisa juga global, -yang artinya mengacu pada sistem koordinat tertentu.

 

Penentuan posisi suatu titik atau obyek secara global membutuhkan metode yang dapat mentransformasikan titik tersebut dari lokal ke global. Berikut ini beberapa metode yang dapat digunakan untuk mentransformasikan posisi titik/obyek dalam foto udara sehingga berkoordinat global.

 

  • Metode GCP’s (Ground Control Point’s)

Metode menggunakan GCP’s untuk melakukan transformasi koordinat ini yang paling awal digunakan dalam foto udara. Pemasangan dan pengukuran bisa GCP dilakukan sebelum foto udara dilakukan (Premark) atau setelah foto  udara dilakukan (Postmark). GCP yang sudah terukur tersebut akan mempunyai koordinat global yang selanjutnya akan digunakan sebagai titik sekutu dalam transformasi koordinat.

Penggunaan GCP sebagai titik sekutu dalam transformasi koordinat ini akan menghasilkan foto udara yang mempunyai koordinat global. Proses yang dilakukan adalah post processing, artinya bahwa proses trannsformasi dilakukan setelah data foto udara dan GCP’s didapatkan.

 

  • Metode RTK (Real Time Kinematic)

Saat ini sedang marak penggunaan RTK dalam industri Drone/UAV. Kemudahan dalam pengoperasian menjadi salah satunya. Board RTK GNSS saat ini banyak dijual dipasaran dan bisa dilakukan pemasangan secara mandiri oleh industri jasa drone/UAV pemetaan. Terdapat juga drone yang sudah dilengkapi langsung dengan RTK GNSS, tetapi harganya masih belum bisa dibilang murah.

Metode RTK dalam foto udara dengan drone/UAV ini secara prinsip melakukan transformasi koodinat langsung di udara. Artinya foto yang didapat langsung berkoordinat global. Hal ini karena board RTK pada Drone/UAV langsung mendapatkan koordinat global melalui satelit GPS dan mendapatkan koreksi langsung dari titik acuan tetap di darat (bisa menggunakan CORS atau titik tetap lainnya). Koreksi secara real time inilah yang akan membuat koordinat pada foto udara mempunyai ketelitian yang sudah relatif bagus.

 

  • Metode PPK (Post Processing Kinematic)

Metode PPK ini sebenarnya hampir sama dengan RTK, hanya saja koreksi dilakukan setelahnya (post processing). Metode ini membuat foto udara yang dihasilkan telah mempunyai koordinat tetapi belum terkoreksi sehingga masih menyimpang dari ketelitian yang diharapkan.

Pada saat pesawat nirawak mendapatkan koordinat dari satelit GPS maka titik acuan juga mendapatkan signal yang sama. Dengan demikian maka koordinat yang dihasilkan oleh pesawat nirawak akan dapat dikoreksi oleh titik acuan berdasarkan korelasi waktu. Tingkat ketelitiannya sangat bagus jika menggunakan metode PPK ini.

 

 

Lalu apa kekurangan dan kelebihan dari ketiga metode tersebut? Kami akan membahasnya pada artikel selanjutnya.

Menjaga Aset dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Salam Spasial,

Aset berharga pada perusahaan konsultan jasa survey dan pemetaan paling utama adalah manusia. Keberadaan aset ini harus selalu dijaga dan dirawat sehingga mampu memberikan positive feedback ke perusahaan. Aspek keselamatan dan kesehatan pekerja harus menjadi perhatian utama sebuah perusahaan.

Yang biasa kita kenal dengan Kesehatan dan keselamatan Kerja tidak hanya terbatas pemakaian APD (Alat Pelindung Diri), karena menurut WHO pengertian K3 adalah upaya yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. Lingkup K3 sangat luas, jika merujuk pada definisi ini.

Biasanya kita hanya mengacu pada kesehatan fisik saja, seperti melakukan pekerjaan sesuai SOP (Standart Operational Procedure), melindungi dari bahaya fisik yang bisa menimpa di tempat kerja, membuatkan asuransi kesehatan dan lain-lain. Kita jarang menerapkan kesehatan mental seperti kenyamanan tempat kerja, pergaulan sesama pekerja, istirahat yang cukup serta menikmati waktu bersama keluarga.

Keselamatan dan kesehatan kerja, baik fisik dan mental, akan membuat aset perusahan yang paling berharga (yaitu pegawai) akan selalu terjaga dan produktif. Sehingga diharapkan bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan yang pada akhirnya akan mensejahterakan karyawan dan lingkungan.

Dadali VTOL

Dalam artikel sebelumnya pernah dibahas mengenai jenis-jenis wahana Drone/UAV, salah satunya adalah Vertical Take Off Landing (VTOL). Seperti singkatannya, jenis wahana ini tegak lurus untuk persiapan terbang dan mendarat. Sedangkat saat terbang, wahana ini mirip dengan fixed wing biasa.Dadali VTOL ini dibuat karena memiliki keunggulan gabungan antara drone multirotor dengan Fixed wing. Drone Multirotor keunggulannya aman saat memulai penerbangan dan pada saat pendaratan. Sedangkan fixed wing keunggulannya adalah durasi terbang yang lebih lama dibanding drone multirotor.Dua keunggulan ini digabungkan sehingga tercipta sebuah wahana yang aman dan durasi (endurance) terbang cukup lama.
Keamanan pada saat memulai penerbangan dan pendaratan serta tidak diperlukannya area yang luas untuk melakukan hal tersebut merupakan keunggulan VTOL dibanding fixed wing biasa. Fixed wing memerlukan pelontar/lemparan untuk memulai misi penerbangan. Panjang landasan minimal 100 meter merupakan keharusan. Dadali VTOL cukup dengan 5 meter x 5 meter persegi sudah mampu terbang. Sedangkan Drone multirotor durasi (endurance) terbang sangat terbatas karena penggerak/baling-baling yang berkerja cukup banyak dan memerlukan daya yang besar. Sedangkan Dadali VTOL, seluruh baling-baling diperlukan hanya saat memulai misi penerbangan dan saat pendaratan. Pada saat terbang hanya 2 (dua) baling-baling yang berfungsi serta mode glider/melayang yang dapat menghemat energi/daya baterei.Keunggulan-keunggulan ini membuat Dadali VTOL sebagai pilihan utama dalam misi penerbangan UAV dalam proses pengambilan data pemetaan dengan foto udara.

Kecanggihan Pixhawk 3DR PX4

UAV (Autonomous Aerial Vehicle) dadali serta ASV (Autonomous Survey Vessel) Barelang yang dibuat oleh team PT Zona Spasial menggunakan fitur autonomous, yang berarti kedua wahana tersebut dapat beroperasi secara mandiri berdasarkan perintah yang telah diunggah pada autopilotnya. Dua macam wahana (udara dan air) dapat menggunakan satu jenis autopilot, yaitu pixhawk.

Keunggulan sistem Pixhawk seperti multithreading yang terintegrasi, sebuah area pemrograman seperti Unix/Linux, fungsi baru autopilot seperti Lua scripting pada misi dan jalur terbang, dan sebuah layer driver PX4 custom yang memastikan ketepatan waktu sepanjang keseluruhan proses. Kemampuan terbaru ini menegaskan bahwa tidak ada batasan untuk wahana (UAV/ASV) mandiri. Pixhawk juga memudahkan operator APM dan PX4 untuk transisi ke sistemnya, dan pada pengguna baru untuk bergabung dalam dunia wahana otonom yang menakjubkan!

Berikut ini adalah fitur yang ditawarkan oleh 3DR Pixhawk:

  • 32 bit ARM Cortex® terbaru Prosesor M4 menjalankan NuttX RTOS
  • Output 14 PWM/servo (8 dengan failsafe dan override manual, 6 bantuan, kompatibel dengan kekuatan yang tinggi)
  • Pilihan konektivitas yang banyak untuk peripherals tambahan (UART, I2C, CAN)
  • Sistem backup terintegrasi untuk recover selama penerbangan dan override manual dengan prosesor berdedikasi dan suplai daya yang berdiri sendiri
  • Sistem backup mengintegrasikan gabungan, menyediakan autopilot yang konsisten dan gabungan mode override manual
  • Input suplai tenaga yang berlebihan dan failover otomatis.
  • Tombol safety eksternal untuk aktivasi motor yang mudah
  • Indikator LED multi-warna
  • Indikator audio piezo dengan multi-nada dan kekuatan yang tinggi
  • Kartu Micro SD untuk penyimpanan yang lama dan rate tinggi.

Pertanian dengan Teknologi Drone

Pertanian Modern saat ini telah mengadopsi banyak teknologi yang bisa membantu dalam hal efektivitas dan efesiensi. Mekanisasi pertanian yang telah dimulai sejak lama. Pembibitan dengan bantuan teknologi dapat dilakukan pemilihan bibit yang meningkatkan hasil panen dan mempercepat waktu panen.

Teknologi pesawat nir awak (Drone/UAV) saat ini mulai dipakai sebagai pendamping teknologi-teknologi yang sudah ada sebelumnya. Pemanfaatan drone bagi pertanian ada beberapa hal antara lain:

  1. Pemetaan lahan
    Pemetaan lahan ini dilakukan oleh pemerintah maupun petani sendiri. Bagi pemerintah, pemetaan lahan pertanian dapat digunakan sebagai data prakiraan produksi pertanian. Data ini bisa dibagi-bagi menjadi data per jenis tanaman dan per wilayah. Prakiraan panen juga bisa dilakukan dengan menilik pada hasil pemotretan dengan pesawat nir awak. Sedangkan dari pihak petani bisa dilakukan pemotretan secara mandiri maupun berkelompok untuk melihat kesuburan maupun penyakit tanaman serta perkiraan waktu panen. Perkiraan penyakit maupun kesuburan tanaman serta masa panen dapat dilakukan dengan pengolahan rona pada area pertanian.
  2. Proses pemupukan dan penyemprotan pestisida
    Proses pemupukan (dengan pupuk cair) dan pemberian pestisida bagi tanaman merupakan hal yang selalu dilakukan untuk daya dukung tanaman supaya produksi meningkat. Pemupukan dengan menggunakan pesawat nir awak/UAV/Drone dapat membantu mempersingkat waktu serta efektif pada area tanam.
Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Industri kini telah masuk dalam era otomatisasi. Semua industri melakukan revolusi dalam hal business improvement process. Dalam hal survey dan pemetaan, penggunaan UAV / drone diadopsi untuk melakukan inspeksi dan monitoring aset perusahaan. Penggunaan drone tersebut merupakan salahsatu proses improvement karena drone dapat menghasilkan data foto udara yang dapat di cek secara berkala.

Industri drone komersial berada di titik puncak era baru otomatisasi. Penerbangan drone yang dilakukan secara otomatis bukanlah hal baru, namun dalam hal mengukur dan menganalisis data foto udara masih merupakan proses manual. Ketika industri drone semakin matang, maka otomatisasi akan diperlukan untuk memastikan hasil foto udara UAV yang konsisten dan akurat. Seperti halnya yang dilakukan PT Zona Spasial. dalam survey pemetaan, kami melakukan otomatisasi jalur terbang melalui Mission Planner. Namun untuk olahdata, masih diperlukan usaha manual untuk melakukannya.

Tim Pilot UAV Zona Spasial memantau pesawat UAV dalam proyek pemetaan

Apa yang Diperlukan untuk mengukur otomatisasi operasi Drone agar dapat bisa di-scalable?

Alur Kerja Berulang (Repeatable Workflows)

Bagi perusahaan mana pun yang mengembangkan software pemetaan drone, mereka harus mampu menghasilkan alur kerja yang dapat diulang yang mudah bagi para pekerja untuk berintegrasi ke dalam operasi sehari-hari mereka. Jika alur kerja tidak dapat direplikasi dengan mudah, akan lebih sulit untuk digunakan surveyor dan itu pasti tidak bisa skala.

Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Handal

Setiap hasil olah data foto udara yang terukur harus dapat diandalkan. Perusahaan membutuhkan solusi yang dapat dipercaya setiap kali bekerja dan menyampaikan wawasan yang mereka andalkan untuk membuat keputusan bisnis yang lebih cerdas. Itulah mengapa keandalan teknologi diperlukan untuk memproses hasil foto udara UAV itu.

Hasil yang Konsisten

Konsistensi diperlukan jika perusahaan survey ingin menerapkan solusi drone dalam skala besar. Sayangnya, pengukuran dan analisis manual tidak hanya memakan waktu tetapi juga rentan terhadap kesalahan. Mesin dapat membantu. Itulah sebabnya otomatisasi dalam pengolahan survey pemetaan akan bergantung pada algoritma dan deep learning machine untuk mendorong hasil yang konsisten dan akurat setiap saat.

baca juga : Memilih Drone untuk Pemetaan


Machine Learning, Computer Vision, dan Artificial Intelligence di masa depan

Kehadiran Machine Learning dan AI dapat mempermudah masa depan industri Survey

Kunci untuk mengembangan dan skalabilitas (scalability) adalah otomatisasi. Tapi bagaimana Anda mengotomatiskan analisis data foto udara UAV? Disinilah machine learning dan kecerdasan buatan dapat berperan. Kita dapat mengajarkan mesin untuk mendeteksi pola dan objek, membuat pengukuran yang akurat, dan mengubah kumpulan data besar menjadi laporan yang mudah dicerna.

Telah banyak pembicaraan tentang teknologi ini di industri drone komersial, namun baru sebatas rumor. Mengapa demikian? sebagai industri baru, otomatisasi baru saja dimulai. Untuk memberikan solusi yang dipandu oleh AI (artificial intelligent) sejati dalam mengotomatisasi alur kerja, diperlukan banyak data.

Sekarang saatnya mengumpulkan data hasil survey pemetaan tersebut untuk bekerja untuk membangun solusi machine learning terdepan di industri untuk memecahkan tantangan dunia nyata yang dihadapi perusahaan saat mereka menempatkan drone untuk bekerja di lapangan setiap hari.


Sumber:

https://blog.dronedeploy.com/drones-in-the-age-of-automation-4e874c938ebc

Taksi Udara dan 5 Penggunaan Drone dalam Industri 4.0

Taksi Udara dan 5 Penggunaan Drone dalam Industri 4.0

Di era industri 4.0, kita akan dihadapkan dengan teknologi otomatisasi dengan menggunakan kecerdasan buatan. Terdapat lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Pada tulisan kali ini, akan dibahas mengenai wahana drone yang merupakan wujud dari IoT kaitannya dengan pemanfaatan sehari-hari. Drone ternyata digunakan begitu luas bukan hanya untuk foto dan video udara. Bukan pula untuk kebutuhan survey dan pemetaan. Namun sudah bergeser pada banyak industri lain. Hal ini dikarenakan untuk meminimalisir dampak human error dan efisiensi kerja. Berikut beberapa pemanfaatan drone bagi beberapa industri yang mungkin belum kita ketahui:

Drone Taxi

Drone Taxi
Drone Taxi

Drone Taxi digunakan untuk transportasi publik layaknya taksi darat. Drone ini dapat membawa 1-2 penumpang tanpa disertai dengan pilot manusia. Konsep ini digagas oleh perusahaan Cina, eHang dan sudah mulai diujicobakan di Dubai pada akhir 2017 lalu. Bahkan startup taksi online, Uber akan mulai menggagas Drone TaxiAir untuk pengembangan bisnis mereka. Setidaknya ada beberapa pabrikan yang sudah melakukan uji coba drone berpenumpang ini.  

Drone Waiters

Drone Waiters
Drone Waiters

Drone pelayan ini disebut “Infinium Serve“. Dibuat dan diproduksi oleh Infinium Robotics Singapura. Grup restoran Timbre Singapura berencana menggunakan drone untuk beroperasi di restoran mereka. Restoran pertama yang menggunakan drone sebagai pelayan adalah Yo Sushi yang berbasis di London. Mereka menggunakan RC Quadcopter yang harus dikontrol secara manual sedangkan Infinium Serve sepenuhnya otomatis. Infinium Serve saat ini dapat membawa muatan hingga 1kg dan mereka berencana untuk meningkatkan muatan hingga 1,5 kg.

Drone Delivery

Drone Delivery
Drone Delivery

Amazon telah meluncurkan layanan pengiriman menggunakan drone bernama Amazon PrimeAir. Amazon tinggal membutuhkan dukungan regulasi penerbangan di berbagai tempat untuk mewujudkan visi mereka. Sementara Amazon masih mempromosikan di sana-sini, startup Matternet yang berbasis di California telah menjalankan pengiriman drone untuk pasokan medis dan spesimen di negara-negara di seluruh dunia sejak didirikan pada 2011. Tetapi mereka belum berencana untuk melakukan riset lebih lanjut.

Drone Fishing

Drone Fishing
Drone Fishing

Di Selandia Baru, ada metode memancing yang disebut memancing kontiki. Memancing Kontiki adalah gaya tradisional memancing dari Kepulauan Pasifik. Metode ini menggunakan rakit berlayar, layang-layang, dan alat seperti torpedo modern untuk melempar umpan dari garis pantai ke laut, dimana kita menautkan kait dan umpan. Pada tahun 2014, AeroKontiki muncul. Anda tinggal mengaitkan umpan ke kail kemudian ditarik ke laut jauh menggunakan drone. Dengan menggunakan drone, kita dapat menjangkau tempat-tempat yang biasanya tidak dapat dijangkau untuk mencari ikan.

Drone FireFighter

Drone Firefighter
Drone Firefighter

Drone pemadam kebakaran sudah mulai dimanfaatkan di beberapa negara. Karena profesi ini berhadapan dengan situasi hidup dan mati, maka diperlukan alat otomatis yang dapat menjangkau area terdampak dan segera mengambil tindakan untuk memadamkan api. Drone juga berfungsi sebagai dukungan udara yang dapat membantu memutuskan lokasi penyemprotan air. Petugas pemadam kebakaran Cina menggunakan pesawat tak berawak yang dapat tetap mengudara sepanjang waktu. Mereka menggunakan fasilitas darat yang memasok listrik untuk drone mereka. Sementara di Korea Selatan, para peneliti dari Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST), telah mengembangkan pesawat tanpa awak yang dapat terbang dan merangkak dinding untuk melawan kebakaran di sebuah gedung tinggi. Mereka bahkan membuat drone tahan api. Drone tersebut dapat menahan panas lebih dari 1000° Celcius dari gas butana dan etanol aerosol api selama lebih dari satu menit. Mereka menamai drone mereka FAROS untuk Sistem Robot Udara Tahan Api.

Drone Racing

Drone Racing
Drone Racing

Penggunaan drone yang cukup populer adalah drone racing atau balapan drone. Bahkan terdapat turnamen Drone Racing League yang merupakan kompetisi drone racing dimana 4 drone saling berlomba di setiap balapan. Pilot mengontrol drone menggunakan remote control dan headset First-Person View Virtual Reality (FPV VR) sebagai mata mereka. Perlombaan ini terlihat seru dan mendebarkan karena atraksi manuver pilot di sekitar sirkuit. Penonton dapat menonton seluruh balapan dari kamera FPV yang merupakan cuplikan mata dari sang pilot. Kini anda dapat mengikuti kejuaraan dunia drone racing untuk memuaskan rasa hobby para pecinta aeromodelling. 


Sumber :

https://www.linkedin.com/pulse/5-awesome-drone-applications-you-may-know-adi-arriansyah/

4 Fungsi Drone dalam Penanganan Pasca Bencana

4 Fungsi Drone dalam Penanganan Pasca Bencana

Resiko kecelakaan tugas yang besar dan banyaknya hal yang mesti ditangani menjadi pekerjaan bagi petugas tanggap bencana. Apalagi jika area yang terkena bencana sangat luas. Tentu memerlukan banyak waktu untuk menyisir wilayah yang terkena dampak. Dengan adanya drone, kebutuhan survey pasca bencana dapat diatasi. Drone sangat bermanfaat untuk membantu pemulihan pasca bencana. Bagaimana fungsinya dalam hal ini?

Membantu dalam Pencarian, Penyelamatan, dan Pasokan

Pencarian Korban maupun aset dalam reruntuhan

Setelah bencana besar, salahsatu aspek pertama tanggapan adalah memastikan bahwa penduduk yang terkena dampak bencana aman. Untuk itu, aksi tanggap bencana yang awal adalah melakukan upaya pencarian dan penyelamatan. Secara umum, pencarian dan penyelamatan dilakukan dengan pesawat, kapal, dan kendaraan darat. Di Indonesia terdapat badan-badan yang siaga terhadap respon pertolongan pasca bencana. Seperti BNPB, Basarnas, Tagana, TNI,Polri, dan relawan lainnya.

Dengan menggunakan drone yang dilengkapi dengan kamera, Ia dapat dengan cepat menyisir sejumlah besar wilayah, menentukan lokasi para korban dan membantu mengidentifikasi area yang paling membutuhkan bantuan. Ini memungkinkan upaya penyelamatan lebih fokus dan memberikan tanggapan yang lebih cepat.

Demikian juga, beberapa pasokan logistik dapat disampaikan oleh drone, memungkinkan upaya kemanusiaan menjadi lebih efisien dan efektif dalam pekerjaan mereka.

Melakukan Assesmen Lebih Cepat

Fasilitas publik sebagai salahsatu aset kerugian

Begitu korban manusia dari suatu bencana telah ditangani, salahsatu tugas lainnya adalah menilai kerusakan material yang disebabkan oleh bencana. Sebelumnya, ini dilakukan secara manual dengan menyisir area terdampak bencana. Dengan menggunakan drone, dapat membuat proses assessment (penilaian) lebih cepat dan lebih mudah. Drone dapat digunakan untuk menganalisa area yang luas, untuk mengidentifikasi area yang paling terkena dampak untuk mendapat perhatian lebih lanjut, dan mereka dapat menganalisis dari hasil foto udara mengenai jenis, luas dan fasilitas yang terkena dampak bencana.

Meningkatkan Keselamatan

Bangunan yang tertimpa batang pohon

Tanggap bencana dapat melibatkan risiko keselamatan yang besar. Petugas yang datang untuk membantu pencarian, penyelamatan dan assesment kerusakan dapat menjadi korban lainnya dari reruntuhan bangunan yang tidak stabil, jaringan listrik yang terputus, kondisi air dan banjir yang tidak aman,dan kurangnya infrastruktur secara umum.

Drone memungkinkan keselamatan petugas penyelamat karena melakukan pemantauan dari jarak jauh. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk membuat keputusan terbaik tentang cara mendekati area bencana. Drone juga memungkinkan penilaian kerusakan atap, gedung tinggi, dan area yang tidak dapat diakses seperti jalan rusak dan jembatan yang putus tanpa mengharuskan siapapun untuk membahayakan risiko keselamatan mereka.

Mengurangi Biaya

Menyisir lokasi bencana dengan drone

Biaya pemulihan bencana sering tak terhitung dan bisa menjadi penghalang. Banyak daerah yang terkena dampak tidak bisa pulih dalam waktu dekat. Meskipun drone tidak dapat menghilangkan semua biaya pemulihan, Ia dapat mengurangi sebagian biaya dengan penilaian yang lebih cepat dan lebih efektif dengan penggunaan sumber daya manusia yang lebih sedikit. Selain itu, drone dapat memberikan informasi nilai kerusakan pada pemerintah dan mengefektifkan budget yang keluar untuk survey area bencana.

Kesimpulan

Dengan beberapa hal itulah, drone mampu dipercaya sebagai mitra utama dalam penanganan pasca bencana dengan memberikan layanan survey dan pemetaan area bencana. Survey tersebut lebih aman dan efisien karena melibatkan sedikit sumber daya manusia dan dapat dilakukan dengan cepat. Hasil peta faktual dapat dipergunakan berbagai pihak untuk bersama-sama membuat keputusan tanggap bencana yang lebih baik. Seperti yang telah kami lakukan September lalu saat menangani pasca bencana di Palu-Donggala. Kami melakukan survey lokasi terdampak bencana dan mengumpulkan informasi yang berguna untuk tempat relokasi dan menilai tingkat kerusakan bencana.


Sumber : 

https://www.gleassociates.com/everything-you-need-to-know-about-drones-in-disaster-recovery/