fbpx

Posts

Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Industri kini telah masuk dalam era otomatisasi. Semua industri melakukan revolusi dalam hal business improvement process. Dalam hal survey dan pemetaan, penggunaan UAV / drone diadopsi untuk melakukan inspeksi dan monitoring aset perusahaan. Penggunaan drone tersebut merupakan salahsatu proses improvement karena drone dapat menghasilkan data foto udara yang dapat di cek secara berkala.

Industri drone komersial berada di titik puncak era baru otomatisasi. Penerbangan drone yang dilakukan secara otomatis bukanlah hal baru, namun dalam hal mengukur dan menganalisis data foto udara masih merupakan proses manual. Ketika industri drone semakin matang, maka otomatisasi akan diperlukan untuk memastikan hasil foto udara UAV yang konsisten dan akurat. Seperti halnya yang dilakukan PT Zona Spasial. dalam survey pemetaan, kami melakukan otomatisasi jalur terbang melalui Mission Planner. Namun untuk olahdata, masih diperlukan usaha manual untuk melakukannya.

Tim Pilot UAV Zona Spasial memantau pesawat UAV dalam proyek pemetaan

Apa yang Diperlukan untuk mengukur otomatisasi operasi Drone agar dapat bisa di-scalable?

Alur Kerja Berulang (Repeatable Workflows)

Bagi perusahaan mana pun yang mengembangkan software pemetaan drone, mereka harus mampu menghasilkan alur kerja yang dapat diulang yang mudah bagi para pekerja untuk berintegrasi ke dalam operasi sehari-hari mereka. Jika alur kerja tidak dapat direplikasi dengan mudah, akan lebih sulit untuk digunakan surveyor dan itu pasti tidak bisa skala.

Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Handal

Setiap hasil olah data foto udara yang terukur harus dapat diandalkan. Perusahaan membutuhkan solusi yang dapat dipercaya setiap kali bekerja dan menyampaikan wawasan yang mereka andalkan untuk membuat keputusan bisnis yang lebih cerdas. Itulah mengapa keandalan teknologi diperlukan untuk memproses hasil foto udara UAV itu.

Hasil yang Konsisten

Konsistensi diperlukan jika perusahaan survey ingin menerapkan solusi drone dalam skala besar. Sayangnya, pengukuran dan analisis manual tidak hanya memakan waktu tetapi juga rentan terhadap kesalahan. Mesin dapat membantu. Itulah sebabnya otomatisasi dalam pengolahan survey pemetaan akan bergantung pada algoritma dan deep learning machine untuk mendorong hasil yang konsisten dan akurat setiap saat.

baca juga : Memilih Drone untuk Pemetaan


Machine Learning, Computer Vision, dan Artificial Intelligence di masa depan

Kehadiran Machine Learning dan AI dapat mempermudah masa depan industri Survey

Kunci untuk mengembangan dan skalabilitas (scalability) adalah otomatisasi. Tapi bagaimana Anda mengotomatiskan analisis data foto udara UAV? Disinilah machine learning dan kecerdasan buatan dapat berperan. Kita dapat mengajarkan mesin untuk mendeteksi pola dan objek, membuat pengukuran yang akurat, dan mengubah kumpulan data besar menjadi laporan yang mudah dicerna.

Telah banyak pembicaraan tentang teknologi ini di industri drone komersial, namun baru sebatas rumor. Mengapa demikian? sebagai industri baru, otomatisasi baru saja dimulai. Untuk memberikan solusi yang dipandu oleh AI (artificial intelligent) sejati dalam mengotomatisasi alur kerja, diperlukan banyak data.

Sekarang saatnya mengumpulkan data hasil survey pemetaan tersebut untuk bekerja untuk membangun solusi machine learning terdepan di industri untuk memecahkan tantangan dunia nyata yang dihadapi perusahaan saat mereka menempatkan drone untuk bekerja di lapangan setiap hari.


Sumber:

https://blog.dronedeploy.com/drones-in-the-age-of-automation-4e874c938ebc

Taksi Udara dan 5 Penggunaan Drone dalam Industri 4.0

Taksi Udara dan 5 Penggunaan Drone dalam Industri 4.0

Di era industri 4.0, kita akan dihadapkan dengan teknologi otomatisasi dengan menggunakan kecerdasan buatan. Terdapat lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Pada tulisan kali ini, akan dibahas mengenai wahana drone yang merupakan wujud dari IoT kaitannya dengan pemanfaatan sehari-hari. Drone ternyata digunakan begitu luas bukan hanya untuk foto dan video udara. Bukan pula untuk kebutuhan survey dan pemetaan. Namun sudah bergeser pada banyak industri lain. Hal ini dikarenakan untuk meminimalisir dampak human error dan efisiensi kerja. Berikut beberapa pemanfaatan drone bagi beberapa industri yang mungkin belum kita ketahui:

Drone Taxi

Drone Taxi
Drone Taxi

Drone Taxi digunakan untuk transportasi publik layaknya taksi darat. Drone ini dapat membawa 1-2 penumpang tanpa disertai dengan pilot manusia. Konsep ini digagas oleh perusahaan Cina, eHang dan sudah mulai diujicobakan di Dubai pada akhir 2017 lalu. Bahkan startup taksi online, Uber akan mulai menggagas Drone TaxiAir untuk pengembangan bisnis mereka. Setidaknya ada beberapa pabrikan yang sudah melakukan uji coba drone berpenumpang ini.  

Drone Waiters

Drone Waiters
Drone Waiters

Drone pelayan ini disebut “Infinium Serve“. Dibuat dan diproduksi oleh Infinium Robotics Singapura. Grup restoran Timbre Singapura berencana menggunakan drone untuk beroperasi di restoran mereka. Restoran pertama yang menggunakan drone sebagai pelayan adalah Yo Sushi yang berbasis di London. Mereka menggunakan RC Quadcopter yang harus dikontrol secara manual sedangkan Infinium Serve sepenuhnya otomatis. Infinium Serve saat ini dapat membawa muatan hingga 1kg dan mereka berencana untuk meningkatkan muatan hingga 1,5 kg.

Drone Delivery

Drone Delivery
Drone Delivery

Amazon telah meluncurkan layanan pengiriman menggunakan drone bernama Amazon PrimeAir. Amazon tinggal membutuhkan dukungan regulasi penerbangan di berbagai tempat untuk mewujudkan visi mereka. Sementara Amazon masih mempromosikan di sana-sini, startup Matternet yang berbasis di California telah menjalankan pengiriman drone untuk pasokan medis dan spesimen di negara-negara di seluruh dunia sejak didirikan pada 2011. Tetapi mereka belum berencana untuk melakukan riset lebih lanjut.

Drone Fishing

Drone Fishing
Drone Fishing

Di Selandia Baru, ada metode memancing yang disebut memancing kontiki. Memancing Kontiki adalah gaya tradisional memancing dari Kepulauan Pasifik. Metode ini menggunakan rakit berlayar, layang-layang, dan alat seperti torpedo modern untuk melempar umpan dari garis pantai ke laut, dimana kita menautkan kait dan umpan. Pada tahun 2014, AeroKontiki muncul. Anda tinggal mengaitkan umpan ke kail kemudian ditarik ke laut jauh menggunakan drone. Dengan menggunakan drone, kita dapat menjangkau tempat-tempat yang biasanya tidak dapat dijangkau untuk mencari ikan.

Drone FireFighter

Drone Firefighter
Drone Firefighter

Drone pemadam kebakaran sudah mulai dimanfaatkan di beberapa negara. Karena profesi ini berhadapan dengan situasi hidup dan mati, maka diperlukan alat otomatis yang dapat menjangkau area terdampak dan segera mengambil tindakan untuk memadamkan api. Drone juga berfungsi sebagai dukungan udara yang dapat membantu memutuskan lokasi penyemprotan air. Petugas pemadam kebakaran Cina menggunakan pesawat tak berawak yang dapat tetap mengudara sepanjang waktu. Mereka menggunakan fasilitas darat yang memasok listrik untuk drone mereka. Sementara di Korea Selatan, para peneliti dari Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST), telah mengembangkan pesawat tanpa awak yang dapat terbang dan merangkak dinding untuk melawan kebakaran di sebuah gedung tinggi. Mereka bahkan membuat drone tahan api. Drone tersebut dapat menahan panas lebih dari 1000° Celcius dari gas butana dan etanol aerosol api selama lebih dari satu menit. Mereka menamai drone mereka FAROS untuk Sistem Robot Udara Tahan Api.

Drone Racing

Drone Racing
Drone Racing

Penggunaan drone yang cukup populer adalah drone racing atau balapan drone. Bahkan terdapat turnamen Drone Racing League yang merupakan kompetisi drone racing dimana 4 drone saling berlomba di setiap balapan. Pilot mengontrol drone menggunakan remote control dan headset First-Person View Virtual Reality (FPV VR) sebagai mata mereka. Perlombaan ini terlihat seru dan mendebarkan karena atraksi manuver pilot di sekitar sirkuit. Penonton dapat menonton seluruh balapan dari kamera FPV yang merupakan cuplikan mata dari sang pilot. Kini anda dapat mengikuti kejuaraan dunia drone racing untuk memuaskan rasa hobby para pecinta aeromodelling. 


Sumber :

https://www.linkedin.com/pulse/5-awesome-drone-applications-you-may-know-adi-arriansyah/

4 Fungsi Drone dalam Penanganan Pasca Bencana

4 Fungsi Drone dalam Penanganan Pasca Bencana

Resiko kecelakaan tugas yang besar dan banyaknya hal yang mesti ditangani menjadi pekerjaan bagi petugas tanggap bencana. Apalagi jika area yang terkena bencana sangat luas. Tentu memerlukan banyak waktu untuk menyisir wilayah yang terkena dampak. Dengan adanya drone, kebutuhan survey pasca bencana dapat diatasi. Drone sangat bermanfaat untuk membantu pemulihan pasca bencana. Bagaimana fungsinya dalam hal ini?

Membantu dalam Pencarian, Penyelamatan, dan Pasokan

Pencarian Korban maupun aset dalam reruntuhan

Setelah bencana besar, salahsatu aspek pertama tanggapan adalah memastikan bahwa penduduk yang terkena dampak bencana aman. Untuk itu, aksi tanggap bencana yang awal adalah melakukan upaya pencarian dan penyelamatan. Secara umum, pencarian dan penyelamatan dilakukan dengan pesawat, kapal, dan kendaraan darat. Di Indonesia terdapat badan-badan yang siaga terhadap respon pertolongan pasca bencana. Seperti BNPB, Basarnas, Tagana, TNI,Polri, dan relawan lainnya.

Dengan menggunakan drone yang dilengkapi dengan kamera, Ia dapat dengan cepat menyisir sejumlah besar wilayah, menentukan lokasi para korban dan membantu mengidentifikasi area yang paling membutuhkan bantuan. Ini memungkinkan upaya penyelamatan lebih fokus dan memberikan tanggapan yang lebih cepat.

Demikian juga, beberapa pasokan logistik dapat disampaikan oleh drone, memungkinkan upaya kemanusiaan menjadi lebih efisien dan efektif dalam pekerjaan mereka.

Melakukan Assesmen Lebih Cepat

Fasilitas publik sebagai salahsatu aset kerugian

Begitu korban manusia dari suatu bencana telah ditangani, salahsatu tugas lainnya adalah menilai kerusakan material yang disebabkan oleh bencana. Sebelumnya, ini dilakukan secara manual dengan menyisir area terdampak bencana. Dengan menggunakan drone, dapat membuat proses assessment (penilaian) lebih cepat dan lebih mudah. Drone dapat digunakan untuk menganalisa area yang luas, untuk mengidentifikasi area yang paling terkena dampak untuk mendapat perhatian lebih lanjut, dan mereka dapat menganalisis dari hasil foto udara mengenai jenis, luas dan fasilitas yang terkena dampak bencana.

Meningkatkan Keselamatan

Bangunan yang tertimpa batang pohon

Tanggap bencana dapat melibatkan risiko keselamatan yang besar. Petugas yang datang untuk membantu pencarian, penyelamatan dan assesment kerusakan dapat menjadi korban lainnya dari reruntuhan bangunan yang tidak stabil, jaringan listrik yang terputus, kondisi air dan banjir yang tidak aman,dan kurangnya infrastruktur secara umum.

Drone memungkinkan keselamatan petugas penyelamat karena melakukan pemantauan dari jarak jauh. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk membuat keputusan terbaik tentang cara mendekati area bencana. Drone juga memungkinkan penilaian kerusakan atap, gedung tinggi, dan area yang tidak dapat diakses seperti jalan rusak dan jembatan yang putus tanpa mengharuskan siapapun untuk membahayakan risiko keselamatan mereka.

Mengurangi Biaya

Menyisir lokasi bencana dengan drone

Biaya pemulihan bencana sering tak terhitung dan bisa menjadi penghalang. Banyak daerah yang terkena dampak tidak bisa pulih dalam waktu dekat. Meskipun drone tidak dapat menghilangkan semua biaya pemulihan, Ia dapat mengurangi sebagian biaya dengan penilaian yang lebih cepat dan lebih efektif dengan penggunaan sumber daya manusia yang lebih sedikit. Selain itu, drone dapat memberikan informasi nilai kerusakan pada pemerintah dan mengefektifkan budget yang keluar untuk survey area bencana.

Kesimpulan

Dengan beberapa hal itulah, drone mampu dipercaya sebagai mitra utama dalam penanganan pasca bencana dengan memberikan layanan survey dan pemetaan area bencana. Survey tersebut lebih aman dan efisien karena melibatkan sedikit sumber daya manusia dan dapat dilakukan dengan cepat. Hasil peta faktual dapat dipergunakan berbagai pihak untuk bersama-sama membuat keputusan tanggap bencana yang lebih baik. Seperti yang telah kami lakukan September lalu saat menangani pasca bencana di Palu-Donggala. Kami melakukan survey lokasi terdampak bencana dan mengumpulkan informasi yang berguna untuk tempat relokasi dan menilai tingkat kerusakan bencana.


Sumber : 

https://www.gleassociates.com/everything-you-need-to-know-about-drones-in-disaster-recovery/

Jenis-jenis pesawat tanpa awak

Jenis-jenis Pesawat Tanpa Awak

UAV adalah salah satu jenis robot penjelajah udara tanpa awak. Karena tidak memiliki awak, UAV harus dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control dari luar kendaraan atau biasa disebut Remotely Piloted Vehicle (RPV). Selain itu, UAV juga dapat bergerak secara otomatis berdasarkan program yang sudah ditanamkan pada sistem komputernya.

Pada saat ini UAV telah berkembang dengan sangat pesat dan digunakan dalam berbagai kebutuhan. Berikut ini merupakan beberapa contoh fungsi dari UAV:

  • Melakukan penginderaan jarak jauh, seperti memantau jaringan listrik, melakukan pemetaan suatu daerah, melihat keadaan geologi suatu daerah, dan memantau lahan pertanian.
  • Melakukan respons terhadap bencana yang terjadi, seperti melakukan pemantauan kerusakan akibat bencana banjir dan melakukan pemantauan kebakaran hutan.
  • Melakukan pengawasan hukum, seperti patroli keamanan suatu lokasi, pemantauan keadaan lalu lintas, patroli keadaan pesisir, kelautan, dan perbatasan.
  • Melakukan pencarian dan penyelamatan pada daerah yang sulit dijangkau.
  • Melakukan perjalanan transportasi, seperti membawa kargo kecil, kargo besar hingga mengangkut penumpang.
  • Menjadi alat penghubung komunikasi permanen ataupun sementara dan juga untuk menyalurkan siaran seperti siaran televisi danradio.
  • Membawa dan mengirimkan suatu muatan, seperti membawa air untuk memadamkan kebakaran atau membawakan zat kimia untuk merawat tanaman.
  • Melakukan pengambilan gambar untuk keperluan perfilman dan juga hiburan.

Agar dapat mengenal serta membedakan UAV yang ada saat ini, kita dapat melakukan pengelompokan ataupun klasifikasi terhadapnya. Sebenarnya terdapat banyak jenis pengelompokan UAV yang bisa digunakan, seperti pengelompokan berdasarkan kegunaan, berdasarkan motor penggerak, dan pengelompokan berdasarkan hal lainnya. Namun, yang paling sering digunakan dalam kajian ilmiah adalah pengelompokan berdasarkan bobot dari suatu UAV.

baca juga : Memilih Drone untuk Pemetaan

Jenis UAV Berdasarkan Berat

Parameter bobot dipilih sebagai parameter pengelompokkan karena terdapat banyak karakteristik performa suatu UAV yang berhubungan langsung dengan bobot dari UAV tersebut. Contohnya, besar gaya angkat dan gaya dorong yang dibutuhkan suatu UAV bergantung pada bobot UAV tersebut. Selain itu, bobot juga mempengaruhi lebar baling-baling yang digunakan, serta sumber energi yang dapat dipakai. Contohnya, UAV yang ringan biasanya akan menggunakan motor elektrik sebagai penggerak utamanya dan UAV dengan bobot sangat berat biasanya menggunakan turbo jet ataupun turbo fan.

UAV Super Heavy

Global Hawk

UAV super heavy adalah jenis robot penjelajah udara UAV yang memiliki berat diatas 2000Kg. Sebagai contoh UAV super heavy adalah Global Hawk.

UAV Heavy

A-160

UAV Heavy adalah jenis robot penjelajah udara dengan berat antara 200 – 2000 Kg. Salah satu contoh UAV heavy adalah A-160.

UAV Medium

Chyper

UAV medium adalah robot penjelajah udara yang memiliki berat pada range 50-200Kg. Contoh UAV jenis medium adalah UAV Chyper.

UAV Light

Neptune

UAV light merupakan robot penjelajah udara dengan bobot5-50Kg. Contoh UAV jenis medium adalah UAV Neptune.

UAV Micro

Dragon Eye

UAV micro adalah robot penjelajah udara yang ringan dan memiliki bobot kurang dari 5kg. Contoh UAV micro adalah UAV Dragon Eye.

Jenis UAV Berdasarkan Penggeraknya

Drone digerakkan oleh motor untuk bisa terbang dan manuver. Berdasarkan jenis penggeraknya, drone bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu Fixed Wing dan Rotary Wings Drone.

Fixed Wing

Drone tipe Fixed Wings

Drone jenis Fixed Wing ini menggunakan sayap untuk terbang, drone jenis Fixed Wing ini sendiri memiliki beberapa bentuk dan ukuran, bergantung pada kegunaannya masing masing. Drone jenis Fixed Wing ini bisa ditenagai Baterai dan bisa juga menggunakan Bahan Bakar.

Multirotor


Drone tipe Multirotor

Multirotor Drone adalah drone yang menggunakan baling-baling (Propellers) untuk terbang, drone jenis ini biasa dikenal dengan nama Multicopter atau Multirotor.

Untuk penamaannya disesuaikan dengan banyaknya motor atau baling-baling. Drone jenis ini biasanya ditenagai baterai, dan merupakan jenis drone terbanyak yang dijual di pasaran, harganya sendiri bervariasi, mulai dari ratusan ribu, sampai pada ratusan juta. Motor penggeraknya mulai dari single copter, doublecopter, tricopter, quadcopter dan lainnya.


Sumber:

http://zonaelektro.net/unmanned-aerial-vehicle-uav/

https://www.liupurnomo.com/mengenal-jenis-jenis-drone/

Perbedaan antara Drone dan UAV

Perbedaan UAV dan Drone

Pesawat tanpa awak atau kita kenal dengan drone, menjadi populer di kalangan masyarakat berkat banyaknya foto maupun video footage dari para hobbies fotografi dalam menangkap momen yang sinematik. Padahal drone pada awalnya hanyalah objek terbang sederhana sebagai sasaran target dalam dunia militer. Dalam istilah militer, pesawat tanpa awak lebih dikenal sebagai UAV atau Unmanned Aerial Vehicle. Pesawat ini dikendalikan dari suatu pangkalan untuk melaksanakan misi tertentu dengan bermodalkan teknologi canggih yang terpasang di dalam pesawat. Lalu apa perbedaan antara drone dengan UAV? Mari kita simak.

Drone berasal dari asal kata ‘drone’ yang artinya adalah lebah jantan. Awalnya istilah drone hanya digunakan untuk menyebut sebuah target simulasi yang bergerak diudara (air moving targets) untuk latihan menembak, baik dari darat ke udara (ground to air) maupun dari udara ke udara (air to air). Pada perkembangannya, drone dipakai juga untuk menyebut sebuah UAS (unmanned aircraft system), pesawat tanpa awak. Bahkan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat bersama dengan FAA (Federal Aviation Administration) menyusun sebuah road map tentang pesawat tanpa awak di tahun 2005 – 2030.

Istilah ini juga digunakan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization) dan BCAA (British Civil Aviation Authority). Selanjutnya muncul pula beberapa terminologi dengan pengertian yang sama yaitu antara lain adalah UAV (Unmanned-aircraft Vehicle System) dan RPV (Remotely Piloted Aerial Vehicle) serta RPAS (Remotely Piloted Aircraft System). Dengan demikian maka drone yang belakangan ini banyak disebut-sebut sebenarnya mewakili pengertianuntuk UAS, UAV dan juga RPV. Pengertian dasarnya adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sebuah kendaraan udara yang berbentuk aerodinamis dengan dukungan tenaga tertentu dan mampu terbang sendiri tanpa awak dengan pengendalian jarak jauh.

Sejarah Pengembangan UAV dalam Dunia Militer

Awal penggunaan

Pesawat tanpa awak (UAV) dapat digunakan berulang kali dan mampu membawa berbagai muatan, antara lain kamera, radio, senjata dan alat pengintai. Sebenarnya, pesawat tanpa awak yang disebut sebagai drone belakangan ini dapat dikatakan sama dengan pengertian yang sudah ada sebelumnya yaitu pesawat model yang menggunakan remote control. Jadi sebelum adanya istilah UAV dan drone, digunakan istilah ‘pesawat model remote control’ untuk menyebut pesawat tanpa awak. Namun batas antara ‘pesawat model’ dengan drone menjadi tidak jelas. Karena sekali lagi, drone dianggap sebagai objek terbang, bukan sebagai pesawat.

Dengan perkembangan teknologi, drone banyak digunakan bukan lagi sebatas hobi. Penggunaan dan polularitasnya semakin luas di masyarakat. Disinilah kemudian, beberapa negara dan organisasi membuat semacam penggolongan untuk membedakan pesawat model tanpa awak (UAV) dengan drone. Salah satu acuannya adalah ukuran dan beratnya. Akan tetapi, otoritas penerbangan Amerika Serikat yang sangat berpengaruh dalam dunia penerbangan global mendefinisikan setiap pesawat terbang tanpa awak dapat disebut sebagai UAV. Itulah yang menyebabkan perbedaan pesawat model radio control (UAV) dengan drone menjadi tidak jelas.

baca juga : Jenis-Jenis Pesawat Tanpa Awak

USAF (Angkatan Udara Amerika Serikat) sudah berpikir untuk mulai menggunakan UAV dalam perkembangan perang dingin antara blok timur dan barat. Ide ini kemudian bergulir dengan cepat saat Uni Soviet berhasil menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika U-2 pada tahun 1960. Hanya hitungan hari setelah U-2 ditembak jatuh, Amerika memulai program sangat rahasia mengembangkan penggunaan UAV yang dikenal kemudian dengan nama sandi “Red Wagon”. Untuk pertama kali dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi, UAV digunakan dalam medan pertempuran di perang Vietnam. Pada tahun 1973 pihak militer Amerika Serikat secara resmi mengkonfirmasi bahwa Amerika Serikat memang telah menggunakan UAV pada perang Vietnam. Alasannya, saat itu lebih dari 5.000 pilot Amerika Serikat tewas dalam pertempuran dan lebih dari 1.000 orang lainnya hilang dalam tugas. Wing 110, pengintai strategis USAF, telah melakukan tidak kurang dari 3.435 misi menggunakan UAV dalam perang Vietnam dan sejumlah 554 UAV telah hilang lenyap karena berbagai sebab.

Sejak itulah maka penggunaan UAV meluas pada misi-misi berisiko tinggi yang harus dilaksanakan dalam medan pertempuran, peperangan, dan bahkan juga pada misi-misi perdamaian. Drone digunakan antara lain untuk target penembakan dan target pengelabuan. Di bidang intelijen drone digunakan untuk melaksanakan misi pengintaian. Di medan perang dan atau pertempuran drone digunakan untuk melaksanakan misi penembakan sasaran strategis berisiko tinggi. Sistem dukungan logistik tertentu juga telah mulai memanfaatkan drone.

Beberapa Model Pesawat Tanpa Awak

Di samping itu, drone juga sudah digunakan untuk tujuan penelitian dan pengembangan. Pada tugas-tugas sipil drone banyak sekali digunakan untuk pemotretan dan aerial photography, penyemprotan hama –agriculture dan proses pengumpulan data untuk tujuan tertentu. Pesawat terbang tanpa awak ini telah mampu menggantikan peran dari pesawat pengintai Amerika U-2.

Drone di Indonesia

Kegiatan Konfigurasi Drone untuk Pemotretan Udara

Di Indonesia drone telah berkembang cukup pesat. Sebelum Drone dikenal luas, sebenarnya kegiatan aeromodelling atau pesawat model tanpa awak sudah cukup banyak dilakukan. Mereka tergabung antara lain dalam wadah organisasi FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) dan APDI (Asosiasi Pilot Drone Indonesia). Perkembangan drone selanjutnya dipelopori antara lain oleh LAPAN dan juga BPPT. Di samping itu pihak swasta dan beberapa lembaga penelitian dan pengembangan serta sejumlah perguruan tinggi juga telah melakukan mengembangkan drone. Tidak kurang dari delapan jenis drone telah dibuat di dalam negeri.

Pada umumnya drone memang digunakan untuk misi pengintaian, pemotretan udara, penelitian karakteristik atmosfer untuk meteorologi, pemantauan kabel listrik tegangan tinggi dan juga pengawasan daerah perbatasan serta untuk kepentingan komersial seperti iklan dan lain-lain. Beberapa drone juga digunakan di daerah perbatasan untuk kegiatan pemantauan. Bahkan Indonesia mempunyai pabrik drone pertama di Asia Tenggara. Di masa depan, semoga semua usaha pengembangan ini menjadi tolok ukur pembangunan sektor dirgantara Indonesia.


Sumber

https://nasional.kompas.com/read/2016/05/16/10555681/Drone.Lagi-lagi.Drone.

Aturan Menerbangkan Drone di Bandara

Aturan Menerbangkan Drone di Bandara

Bagi para penerbang drone, penting untuk dapat mengetahui aturan atau regulasi yang berlaku untuk menerbangkan drone. Baik itu hobby aeromodelling maupun untuk keperluan professional seperti survey foto udara. Di Indonesia, regulasi yang mengatur penerbangan drone terdapat dalam PERMEN No. 90 Tahun 2015. Salahsatu poinnya, mengatur soal larangan menerbangkan drone di dekat wilayah Bandar Udara/Airport karena berpotensi mengganggu penerbangan. Bukan saja mengganggu tapi jelas membahayakan, Bisa dibayangkan bila drone yang kita terbangkan di depan pesawat terbang lalu terhisap kedalam mesin jet lalu timbul ledakan? Terlebih karena pesawat dalam kondisi pendaratan (Final Approach) adalah salahsatu fase kritis yang dapat menimbulkan kecelakaan.

Tapi ternyata sebelum drone sepopuler sekarang, justru pegiat aeromodelling banyak menerbangkan pesawat-pesawatnya di wilayah Bandara. Kenapa?  Karena hanya di bandaralah tersedia runway/landasan untuk memacu pesawat Aeromodelling berjenis fixed wing. Apakah mengganggu penerbangan?  Tidak berbahaya selama pilot berkomunikasi dengan ATC/Tower. Seperti saat ada pesawat hendak take-off atau landing, tower akan menghubungi salah satu komandan lapangan agar semua drone mendarat terlebih dahulu beberapa saat dengan jeda waktu yang aman.

Sebut saja bandara Husein Sastranegara di Bandung, dulunya adalah markas para pegiat Aeromodelling dari berbagai club dibawah naungan FASI / Federasi Aero Sport Indonesia. Seluruh anggota club waktu itu diberi pass masuk yang ditunjukan kepada anggota TNI yang berjaga di pos depan, karena Bandara Husein Sastranegara adalah Pangkalan Militer. Bertahun-tahun para anggota club Aeromodelling berlatih menerbangkan wahananya disana sampai pada tahun 2012, seiring dengan meningkatnya traffic penerbangan ke Bandung, kegiatan aeromodelling sepenuhnya dipindahkan ke Pangkalan Udara Sulaiman.

baca juga : Perbedaan Drone dan UAV

Bandara Husein Sastranegara

Perizinan untuk pengoperasian drone di Bandara harus mendapat restu dari dua pihak yaitu Pemerintah Daerah Setempat (Dinas Perhubungan), juga pihak bandara & PT Airnav dibawah koordinasi Kementerian Perhubungan RI. Kalau sudah dapat izin dari pihak-pihak tersebut, selanjutnya kita tinggal berkoordinasi dengan pihak di Bandara.

Setelah perizinan dari pemda selesai, selanjutnya adalah berkoordinasi dengan Tower / ATC di bandara tersebut. Di bandara-bandara besar, Tower dibagi-bagi tugas. Ada yang mengontrol pergerakan pesawat di darat (Grond Control Tower), ada yang mengendalikan pesawat pada zona tertentu (approach, tower, dll). Tapi di Bandara-bandara kecil biasanya cuma ada beberapa orang saja, jadi jauh lebih sederhana.

Selain soal pengalaman, Pihak bandara biasanya menanyakan satu hal penting kepada pilot drone, bagaimana Flight Path yang akan dilakukan? Disini harus dijelaskan bahwa flight path yang dilakukan 100% aman bagi penerbangan. ATC masih punya wewenang menolak perizinan terbang seandainya pilot tidak bisa memberi jaminan keamanan.

Ilustrasi Situasi di Air Traffic Control

Berdasarkan Peraturan Menteri, disebutkan mengenai area-area yang dilarang untuk menerbangkan drone, yang meliputi:

  • Kawasan Udara Terlarang (prohibited area): kawasan udara yang tidak diijinkan sama sekali untuk lewati oleh pesawat udara apapun.
  • Kawasan Udara Terbatas (restricted area): kawasan udara yang digunakan untuk kepentingan negara saja, yang jika sudah tidak aktif bisa digunakan untuk sipil.
  • Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP): wilayah sekitar bandar udara yang digunakan untuk kegiatan penerbangan.

Sementara dari jalur udara sendiri, drone juga tidak diijinkan terbang di:

  • Controlled Airspace: jalur udara yang digunakan untuk pelayanan penerbangan.
  • Uncontrolled Airspace di atas 150m. pada jalur udara yang tidak dijadikan pelayanan penerbangan pun, drone tidak diperkenankan terbang di atas 150m.

Berikut ini urutan tahap-tahap yang perlu dilakukan saat mengambil foto/video udara di airport dengan pergerakan pesawat aktif.

  1. Pastikan sudah mengantungi izin sesuai dengan peraturan yang berlaku di sebuah area. Koordinasikan perizinan dengan pemda Setempat serta otoritas Bandara. Di Indonesia perizinan terbang di Bandara harus sampai ke Pemprov / Pemkab dan Kementerian / Dinas Perhubungan, serta PT. Airnav.
  2. Saat tiba di bandara, segera lakukan koordinasi dengan otoritas bandara untuk meminta pendampingan sekuriti bandara selama operasional.
  3. Berkoordinasi dengan pihak Tower yang biasanya dikelola oleh PT. Airnav, untuk membicarakan jadwal take off dan landing, peta runway, apron dan taxiway, untuk menentukan posisi aman untuk operasional drone. Jangan lupa bawa 2 buah radio HT, 1 untuk tower, sementara satu lagi digunakan di posisi terbang.
  4. Saat standby di posisi operasional drone, laporlah kepada Tower, agar diberi informasi minimal beberapa saat sebelum pesawat taxi ke ujung landasan.
  5. Drone diterbangkan terlebih dahulu sebelum pesawat bergerak, untuk menjaga jarak aman antara drone dan pesawat terbang. Setelah posisi drone berada di posisi aman, laporlah kepada tower bahwa pesawat sudah aman untuk take off.
  6. Jangan gerakan drone anda selama pesawat belum take off. Ambil foto udara & Video udara di posisi yang aman.
  7. Setelah pesawat take off, baru daratkan kembali drone, lalu lapor ke tower bahwa drone sudah aman, yang artinya landasan sudah clear untuk pendaratan.

Sumber:

  • http://www.kaufikanril.com/2015/09/menerbangkan-drone-di-airport.html
  • https://www.plazakamera.com/regulasi-dan-aturan-menerbangkan-drone-di-indonesia/