Posts

Apa itu postmark dan bagaimana melakukannya?

Pada postingan sebelumnya pernah dibahas mengenai Ground Control Point (GCP) untuk foto udara dengan UAV. Pembahasan tersebut hanya mencakup tentang premark, yang memang biasa digunakan dalam foto udara dengan UAV (Unmanned Aerial Vehicle).

Ground control point yang akan dibahas saat ini adalah postmark.

Perbedaan Premark dan Postmark

Perbedaan signifikan adalah premark dilakukan sebelum proses pengambilan foto udara dilakukan, sedang postmark dilakukan setelah data foto udara (bisa juga citra satelit) dilakukan. Perbedaan yang lain adalah premark menggunakan marking yang dibahas pada pembahasan GCP sebelumnya

baca juga: https://zonaspasial.com/2018/11/apa-itu-ground-control-points-dan-bagaimana-menggunakannya/

Sedangkan postmark, tidak ditandai dengan marking seperti pada premark, melainkan menggunakan obyek-obyek yang dikenali dari foto udara/citra satelit yang telah ada.

Pembuatan Postmark

Seperti pada premark, kegunaan postmark, utamanya adalah untuk melakukan georeferensi pada foto udara/citra satelit yang telah ada, berikut ini beberapa hal mengenai postmark:

  1. Postmark ditentukan/dibuat jika titik premark hilang/rusak atau kurang atau tidak ada. Titik premark bisa rusak akibat angin/hujan, atau bahkan hilang karena ketidaktahuan masyarakat mengenai pentingnya titik premark, sehingga diperlukan penentuan titik kontrol pengganti premark yaitu postmark untuk melakukan pengolahan data.

  2. Lokasi ideal untuk menentukan postmark sama dengan premark, yaitu dengan mengidentifikasi lokasi-lokasi atau obyek-obyek yang dapat dijadikan sebagai lokasi titik postmark, seperti perempatan jalan, sudut jalan, perpotongan jalan pedestrian, kawasan yang memiliki warna mencolok, persimpangan rel dengan jalan atau benda, atau monumen yang mudah diidentifikasi. Lokasi titik premark didokumentasikan dengan memotret titik premark dari segala arah mata angin, dibuatkan sketsa lapangan jika diperlukan, informasi mengenai koordinat titik postmark, dan penamaan titik postmark.

  3. Karena Postmark adalah titik kontrol yang diukur setelah pekerjaan survei foto udara, maka perlu dilakukan identifikasi objek yang terdapat pada foto, kemudian ditentukan koordinat fotonya, sehingga  identifikasi di lapangan pada titik kontrol postmark dapat dilakukan, kemudian diikuti dengan kegiatan:

    1. Melakukan pengecekan langsung di lapangan sesuai dengan yang sudah ditentukan pada foto.

    2. Marking area yang sudah dibuat titik postmark.

    3. Melakukan penamaan titik postmark.

    4. Melakukan pengukuran terhadap titik postmark tersebut

Dengan adanya postmark, maka foto udara/citra satelit dapat dilakukan georeferencing lebih akurat.

Autonomous Survey Vessel (ASV) Bagian II Autopilot dan Sistem Navigasi

Bagian paling penting dari sebuah wahana autonomous/nirawak adalah autopilot. Pada bagian inilah program untuk bergerak secara mandiri diprogram. Autopilot yang ada dipasaran saat ini ada dua sistem dari berbagai merk. Sistem yang terbuka (open source) dan tertutup (proprietary). Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Untuk Autonomous Survey Vessel (ASV) yang dibangun oleh PT Zona Spasial menggunakan open source karena kami nilai lebih gampang untuk disesuaikan dengan kondisi dan peralatan yang lain. Bukan berarti yang proprietary tidak bagus, hanya saja akan lebih rumit jika disesuaikan dengan peralatan yang berbeda-beda. Open source bisa diprogram sesuai dengan kebutuhan pada Autonomous Survey Vessel (ASV) yang kami bangun.

Sistem autopilot terhubung dengan perangkat lunak untuk pembuatan jalur pelayaran. Jalur pelayaran inilah yang nantinya akan memandu wahana ASV mengarungi perairan untuk melakukan survey. Pada prinsipnya, jalur-jalur pelayaran ini akan diunggah ke system autopilot dan akan memerintahkan wahana ASV mengikuti sesuai jalur.

Modul Autopilot dan Modul GPS

Adakalanya rencana jalur yang telah diunggah pada sistem autopilot mengalami perubahan akibat keadaan pada saat survei. Keadaan ini bisa diakibatkan oleh arus air, ombak maupun obyek-obyek yang membuat jalur menjadi melenceng. Untuk kejadian tersebut, perlu dilakukan koreksi terhadap Autonomous Survey Vessel (ASV) secara otomatis.

Koreksi dari sistem navigasi ini akan memberikan informasi ke autopilot bahwa rancangan jalur yang dilewati telah melenceng, maka autopilot akan memerintahkan ke motor untuk mengatur kecepatan putaran propeler dan memerintahkan rudder untuk manuver kapal sesuai jalur yang telah ditetapkan.

Navigation Chart ASV

Sistem navigasi yang terintegrasi pada autopilot membuat wahana ASV akan berjalan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan dan akan tetap pada jalur tersebut, sehingga pemeruman atau pengukuran kedalaman dan profil dasar wilayah perairan dapat diperoleh sesuai dengan yang direncanakan.

Demikian sedikit tentang sistem autopilot dan sistem navigasi pada ASV. Bagian selanjutnya kami akan membahas tentang peralatan survei hidrografi dengan SBES.