Kenapa Otomasi Menjadi Pilihan pada Alat Survei Geodesi?

Peralatan survei saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Baik dari segi kapasitas maupun kapabilitas, mengalami peningkatan yang signifikan. Capturing data yang cepat dan detil merupakan pilihan yang tak bisa dipungkiri. Dengan kecepatan yang semakin bagus, maka efesiensi waktu dapat dilakukan. Demikian juga semakin detil dan akurat data yang didapat maka efektivitas kerja dapat meningkat.

Selain hal tersebut, hal lain yang dipandang sangat penting adalah safety. Keselamatan kerja pada saat survei merupakan hal yang utama. Prioritas yang harus dijunjung oleh perusahaan survei melakui HSE Statement.

Berbagai Alat Survey Otomasi

  • Alat survey darat

Beberapa alat survei darat yang sudah dapat melakukan survei secara otomatis, yang paling terkenal adalah Robotic Total Station. Penggunaan robotic TS ini jelas akan lebih efesien pada tenaga kerja. Hanya perlu surveyor yang mengoperasikan serta alat Robotic TS

Trimble S8 Robotic Total Station

Alat lain yang sudah melakukan otomasi adalah TLS (Terrestrial Laser Scan). Alat ini, dengan setting tertentu, akan melakukan pengambilan data secara otomatis ke lingkungan/area survei. Hanya perlu pemasangan target pada titik tertentu, dan alat akan otomatis meng-capture-nya.

Laser Scanner FARO

  • Alat Survey udara

Mungkin diantara alat survei yang mampu diotomasi, alat survey udaralah yang paling terkenal. Kita kenal sebagai drone atau UAV atau pesawat nirawak. Otomasi ini tidak hanya pada wahana pembawa alat survei, tetapi pada alat surveinya sendiri juga dilakukan otomasi.

Dadali VTOL

Alat survey udara yang utama adalah kamera dan penunjuk posisi (GNSS). Kedua alat pengambilan data tersebut sudah dapat diotomasi dalam pengambilan data. Pada kamera dapat disetting berdasarkan jarak serta berdasarkan waktu. Sedang pada GNSS, ada yang dinamakan RTK (Real Time Kinematik), yang berarti GNSS akan mencatat secara otomatis posisi alat survei pada setiap saat.

  • Alat survey perairan

Alat survei otomasi pada perairan ada dua jenis, yaitu under water dan permukaan (water surface). Yang sering digunakan dalam survei offshore biasanya adalah ROV (Remotely Operated Vehicle). ROV ini bekerja secara otomasi di bawah permukaan laut untuk melakukan survei maupun pengambilan video laut.

ROV H300-MK2

Alat yang bekerja pada permukaan (water surface) biasanya disebut USV (Unmanned Survey Vessel) atau ASV (Autonomous Survey Vessel). Artinya kendaraan air nirawak.   Penggunaan ASV ini hampir sama dengan UAV, hanya saja media surveinya adalah perairan. Peralatan yang dibawa pun mengalami otomasi, baik alat survei bathimetri maupun positioning.

AutoBoat ASV

Keunggulan Alat Survey Otomasi

Beberapa keunggulan alat survei otomasi diantaranya:

  • Kecepatan

Kecepatan pengambilan data merupakan hal yang krusial dalam proyek pengukuran. Dengan kecepatan yang lebih, maka penghematan anggaran akan tercapai.

  • Keakuratan dan presisi

Terhindarnya human error dapat dilakukan karena sangat minimnya kontak antara manusia dengan alat. Human error ini kadang agak susah diprediksi.

  • Safety

Minimnya keterlibatan manusia, maka akan meningkatkan safety/keamanan dalam pengambilan data. Resiko kecelakaan kerja akan dapat dikurangi.

proses akusisi data laser scan

Why use Laser Scanner?

Mengapa menggunakan laser scan, terutama Terrestrial Laser scan? Beberapa hal bisa menjawab pertanyaan tersebut.

 

Fast!

Acquisition speed +/- 1 Mio points per second! Kecepatan pengambilan data pointcloud membuat laser scan merupakan alat yang dapat diandalkan dalam kecepatan. Semakin banyak data yang dikumpulkan dalam satuan waktu tertentu, akan membuat waktu survey akan semakin efesien, dan pada akhirnya akan membuat cost effectiveness.

Accurate

Akurasi merupakan salah satu kelebihan laser scan. Akurasi yang dimaksud disini adalah jarak di benda tersebut. Laser scan mampu memberikan keakurasian sampai dengan +/- 2mm pada jarak 10 meter. Jadi jika sebuah meja panjangnya 5 meter, maka jika diukur dengan laser scan pada jarak 10 meter, maka Panjang meja yang didapat 4.88 m – 5.02 m. Sebuah akurasi yang sangat tinggi pada jarak tersebut

Non Contact

Dengan kelebihann non contact ini maka pada area berbahaya, maka survey masih dapat dilakukan. Hal ini karena TLS tidak perlu kontak dengan benda /equipment yang berbahaya.

Interactive 3D pointcloud

Hasil TLS yang telah dilengkapi dengan kamera 360, sudah dapat disajikan sebagai 3D view. JIka diinginkan untuk lebih interaktif, dapat dilakukan pemodelan 3 dimensi dengan lebih detil. Pemodelan ini akan membuat hasil laser scan dapat digunakan berbagai disiplin.

 

Portability

TLS saat ini sudah sangat banyak merk dipasaran dan semakin ringan. Hal ini sangat memudahkan dalam mobilisasi maupun demobilisasi peralatan. Untuk Faro, misalnya, berat scanner hanya 4,2 kg. Dengan berat tersebut, mobilitas akan sangat terbantu.

Reliable

Laser scan dapat dibuat 3D model untuk menyajikan obyek seperti sebenarnya. It can provide high quality 3D model of object as is.

Resolusi Spasial dan Ground Sampling Distance (GSD) dalam Survey Foto Udara

Dalam Foto udara sering dibicarakan masalah resolusi spasial dan Ground Sampling Distance (GSD). Lalu apakah hubungan antara resolusi spasial dan GSD tersebut? Kami coba berbagi tentang hal ini.

 

Resolusi spasial

Sebuat image/citra/gambar biasanya mempunyai tingkat resolusi spasial yang berbeda-beda. Secara mudahnya, resolusi spasial adalah ukuran obyek terkecil yang masih bisa dibedakan, dikenali dan disajikan dari suatu citra/foto. Atau dalam pengertian secara teknis adalah: Spatial resolution is a measure of the smallest object that can be resolved by the sensor, or the ground area imaged for the instantaneous field of view (IFOV) of the sensor, or the linear dimension on the ground represented by each pixel

Jadi resolusi ini tergantung sensor dari alat untuk pengambilan data citra/image. Semakin bagus sensor akan semakin menghasilkan resolusi spasial yang lebih baik. Semakin kecil obyek yang dapat direkam, semakin bagus resolusi spasialnya.

 

Perbedaan resolusi spasial bisa dilihat dari gambar-gambar di bawah ini.

Gambar 1. Gambaran Resolusi Spasial pada Google Earth

 

Pada Google Earth, resolusi spasial yang didapatkah kurang detil. Obyek-obyek terlihat blur dan tidak begitu jelas. Tetapi bukan berarti dengan resolusi spasial tersebut, sebuah image/citra tidak dapat digunakan. Hanya saja penggunaan biasanya untuk peta skala kecil.

 

Gambar 2. Gambaran Resolusi Spasial pada foto udara dengan pesawat Nirawak

Pada gambar 2, terlihat obyek-obyek terlihat lebih detil. ini menunjukan resolusi spasial yang lebih baik dibanding dengan gambar pertama. Penggunaan resolusi spasial yang baik biasanya untuk peta-peta dengan skala besar.

 

Ground Sampling Distance (GSD)

Lalu apa itu Ground Sampling Distance (GSD)? The Ground Sampling Distance (GSD) is the distance between two consecutive pixel centers measured on the ground. Jadi GSD merupakan besaran jarak antar titik tengah pixel yang berdekatan, diukur pada permukaan tanah.

Jarak GSD ini , dalam foto udara khususnya dengan pesawat nirawak, biasanya ditentukan dahulu sebelum terbang dengan software khusus, misalnya mission planner. Dengan menghitung ketinggian yang diharapkan dan sensor kamera yang digunakan, maka GSD dapat ditentukan dengan mudah.

 

Rumus umum GSD

 

Dengan rumusan tersebut nilai GSD dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, jika akan dilakukan survei foto udara dengan pesawat nirawak.

Hubungan antara resolusi spasial dengan nilai GSD dengan demikian sudah jelas. Semakin besar nilai GSD maka akan semakin mengecil resolusi spasial yang didapat, sehingga obyek yang dikenali secara detil akan semakin berkurang. Demikian juga sebaliknya.

 

Penentuan Posisi pada Survei Foto Udara dengan Pesawat Nirawak

Posisi suatu titik pada hasil foto udara saat ditunjukkan dengan suatu sistem koordinat. Sistem koordinat ini bisa lokal, -artinya bahwa posisi tersebut ditunjukkan oleh baris dan kolom pada foto yang dihasilkan-, bisa juga global, -yang artinya mengacu pada sistem koordinat tertentu.

 

Penentuan posisi suatu titik atau obyek secara global membutuhkan metode yang dapat mentransformasikan titik tersebut dari lokal ke global. Berikut ini beberapa metode yang dapat digunakan untuk mentransformasikan posisi titik/obyek dalam foto udara sehingga berkoordinat global.

 

  • Metode GCP’s (Ground Control Point’s)

Metode menggunakan GCP’s untuk melakukan transformasi koordinat ini yang paling awal digunakan dalam foto udara. Pemasangan dan pengukuran bisa GCP dilakukan sebelum foto udara dilakukan (Premark) atau setelah foto  udara dilakukan (Postmark). GCP yang sudah terukur tersebut akan mempunyai koordinat global yang selanjutnya akan digunakan sebagai titik sekutu dalam transformasi koordinat.

Penggunaan GCP sebagai titik sekutu dalam transformasi koordinat ini akan menghasilkan foto udara yang mempunyai koordinat global. Proses yang dilakukan adalah post processing, artinya bahwa proses trannsformasi dilakukan setelah data foto udara dan GCP’s didapatkan.

 

  • Metode RTK (Real Time Kinematic)

Saat ini sedang marak penggunaan RTK dalam industri Drone/UAV. Kemudahan dalam pengoperasian menjadi salah satunya. Board RTK GNSS saat ini banyak dijual dipasaran dan bisa dilakukan pemasangan secara mandiri oleh industri jasa drone/UAV pemetaan. Terdapat juga drone yang sudah dilengkapi langsung dengan RTK GNSS, tetapi harganya masih belum bisa dibilang murah.

Metode RTK dalam foto udara dengan drone/UAV ini secara prinsip melakukan transformasi koodinat langsung di udara. Artinya foto yang didapat langsung berkoordinat global. Hal ini karena board RTK pada Drone/UAV langsung mendapatkan koordinat global melalui satelit GPS dan mendapatkan koreksi langsung dari titik acuan tetap di darat (bisa menggunakan CORS atau titik tetap lainnya). Koreksi secara real time inilah yang akan membuat koordinat pada foto udara mempunyai ketelitian yang sudah relatif bagus.

 

  • Metode PPK (Post Processing Kinematic)

Metode PPK ini sebenarnya hampir sama dengan RTK, hanya saja koreksi dilakukan setelahnya (post processing). Metode ini membuat foto udara yang dihasilkan telah mempunyai koordinat tetapi belum terkoreksi sehingga masih menyimpang dari ketelitian yang diharapkan.

Pada saat pesawat nirawak mendapatkan koordinat dari satelit GPS maka titik acuan juga mendapatkan signal yang sama. Dengan demikian maka koordinat yang dihasilkan oleh pesawat nirawak akan dapat dikoreksi oleh titik acuan berdasarkan korelasi waktu. Tingkat ketelitiannya sangat bagus jika menggunakan metode PPK ini.

 

 

Lalu apa kekurangan dan kelebihan dari ketiga metode tersebut? Kami akan membahasnya pada artikel selanjutnya.

Registrasi Point Cloud Terrestrial Laser Scan dan Cara Melakukannya dengan Benar

Point cloud hasil terrestrial laser scan merupakan informasi spasial yang masih perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut. Proses selanjutnya adalah melakukan penyatuan seluruh point cloud yang terpisah-pisah berdasarkan pengambilan data.

Registrasi point cloud ke dalam satu sistem yang sama adalah awal pada pengolahan data hasil laser scan. Sistem yang digunakan bisa dengan sistem lokal maupun dengan sistem global. Registrasi ini akan membuat seluruh point cloud berkorelasi dan menyatu dalam satu sistem yang sama.

 

Langkah registrasi ini memiliki dampak terhadap akurasi data yang akan digunakan, serta berdampak terhadap proses selanjutnya pada pengolahan point cloud menjadi model 3 dimensi.

Beberapa hal teknis yang perlu diperhatikan saat melakukan registrasi point cloud berdasarkan pengalaman yang kami miliki adalah sebagai berikut:

  • Lakukan Registrasi hasil TLS satu persatu berurutan sesuai perpindahan alat

Registrasi berurutan akan memudahkan dalam mengenali kesalahan, serta akan memudahkan dalam manejemen data. Setiap hasil scan akan dikenali dan jika terjadi kesalahan akan mudah dalam melakukan perbaikan.

  • Pastikan korelasi antar scan pada target memiliki error yang kecil.

Korelasi antar scan ini mempengaruhi point cloud secara keseluruhan. Error akan mempengaruhi setiap point.

  • Jika ditemukan hasil registrasi yang buruk buanglah korelasi target yang memiliki error terbesar

Korelasi target yang besar berpengaruh terhadap akumulasi error pada registrasi. Sehingga jika korelasi target yang error nya besar dibuang, maka error akan berkurang. Tetapi perlu diperhatikan bahwa target harus mempunyai ukuran lebih sehingga saat registrasi tidak kekurangan target yang akan dikorelasikan. Kami bahas masalah target pada tulisan sebelumnya.

  • Fix-kan scan yang sudah teregistrasi dengan baik agar tidak berubah

Sebaiknya scan-scan yang sudah terigistrasi dengan baik di fix-kan supaya tidak terpengaruh oleh registrasi scan yang selanjutnya.

  • Jika melibatkan scan yang banyak, buatlah grup/cluster registrasi

Kadang scan yang dilakukan bisa memuat banyak sekali tempat berdiri alat. Untuk manajemen data yang baik, lakukan grouping/cluster. Dengan grouping/cluster maka akan mudah dalam mengelola data point cloud hasil laser scan. Selain grouping/cluster, lakukan juga UNLOAD/HIDDEN (bukan DELETE) pada scan yang sudah teregistrasi dengan baik untuk scan yang berjumlah banyak.

 

Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan dalam registrasi hasil scan. Mungkin masih ada beberapa trik lain yang bisa ditambahkan untuk mempermudah pekerjaan registrasi hasil terrestrial laser scan.

Tip & Trik Melakukan Survei dengan Terestrial Laser Scan

Survei dengan menggunakan Terrestrial Laser Scan (TLS) saat ini sudah mulai banyak dilakukan. Selain keunggulan dalam hal capture data yang masif, juga survei ini sangat mudah dilakukan. Laser scan yang menghasilkan point cloud saat ini sudah diakui sebagai salah satu tool untuk menyajikan data spasial.

 

Berbicara tentang data spasial, tentu saja diperlukan presisi dan akurasi. Presisi dan akurasi tentu saja merujuk pada penggunaan data tersebut nantinya. Jika data akan digunakan untuk, misalkan DED tentu saja akurasi yang diminta akan tinggi. Demikian juga jika data spasial akan digunakan sebagai masukan dalam Dimensional Control (DC).

 

Terrestrial Laser Scan

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan survei dengan TLS sehingga didapatkan hasil yang bagus adalah sebagai berikut:

  • Jarak obyek yang akan discan dengan TLS.

Hal ini akan mempengaruhi banyaknya point cloud yang dihasilkan. Semakin banyak akan semakin akurat. Selain itu juga adanya pembelokan cahaya, semakin jauh target maka cahaya laser akan semakin terbelokkan.

  • Sebaran target (baik sphere maupun checker board).

Sebaran target yang baik harus merata pada hasil point cloud. Posisi target diusahakan merata terhadap posisi TLS (atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang)

Checkerboard dan Sphere

 

  • Minimal terdapat 5 Target yang tescan dari satu posisi berdiri alat TLS.

Pada software registrasi biasanya menetapkan minimal 3 atau 4 buah target yang terdeteksi. Ukuran lebih pada pengambilan posisi target akan menambah keakuratan hasil, serta jika salah satu target rusak (tidak dapat diregistrasikan) maka masih ada target lain yang menggantikan.

  • Kurangi kumulatif error

Untuk mengurangi kumulatif error pada saat registrasi, maka target diusahakan terlihat dari 2 posisi TLS atau lebih. Sehingga dapat diregistrasikan dengan baik dan kumulatif error akan berkurang. Selain hal itu, untuk mengurangi kumulatif error juga usahakan jalur survei TLS merupakan polygon tertutup, sehingga target pertama akan terikat dengan posisi target terakhir.

Sphere terlihat di atas

 

  • Aturan checkerboard

Jika target menggunakan checkerboard, maka harus diletakkan pada permukaan yang rata. Permukaan checkerboard juga harus menghadap tegak lurus ke posisi lensa pada TLS.  Jika dimungkinkan, maka penambahan pengukuran posisi checkerboard dengan TS (Total Station), sehingga hasil registrasi akan semakin akurat dan kumulatif error berkurang.

Checkerboard tegak lurus alat

Autonomous Survey Vessel (ASV) Bagian III Alat Survey (SBES & MBES)

Saat ini banyak sekali alat survey pemeruman (bathymetri) di pasaran. Pada tulisan ini pembahasan ditujukan untuk alat survey Single Beam Echosouder (SBES) dan Multibeam echosounder (MBES). Kedua alat ini mampu dibawa dan digunakan dengan ASV (Autonomous Survey Vessel). Penggunaan kedua jenis peralatan survey ini tergantung dari kebutuhan. Wahana pembawa pun harus disesuaikan. Jika hanya SBES, maka mini ASV sudah mencukupi, tetapi jika survey membutuhkan MBES maka harus digunakan ASV biasa yang mampu membawa MBES dan perlengkapan lainnya.

 

Perbedaan  SBES dan MBES

Perbedaan utama antara SBES dan MBES tentu saja sonar yang dipancarkan, yaitu tunggal dan jamak. Demikian juga tangkapan hasil pulsa akustik dari keduanya juga berbeda. Berikut ini adalah perbedaan secara teknis:

Single Beam

Multibeam

–       Pengaturan yang mudah

–       Penggunaan yang mudah

–       Memakan waktu lama untuk survey luasan

–       Error mudah diidentifikasi

–       Single atau dual frekuensi

–       Pengaturan yang cukup rumit

–       Efesien, karena mampu merekam luasan

–       Deteksi kontak

–       Penggunaan data yang multiguna

–       Sumber error banyak

–       HF Only

–       File data yang masif

 

Keduanya, tentu saja, berbeda dalam penggunaan. Artinya tidak semua bisa dilakukan dengan SBES dan juga tidak semua survey hidrografi harus menggunakan MBES. Penggunaan kedua system itu harus disesuaikan kebutuhan. Misal kebutuhan hanya merekam kedalaman serta profil  kontur kedalaman, cukup dengan SBES. Demikian juga jika perlu perhitungan sedimentasi, kita bisa menggunakan SBES dual frekuensi, tidak perlu MBES.

SBES untuk Kedalaman dan Profil Kontur

Bagaimana cara penggunaan dan system kerja SBES? Dalam gambar berikut ini dapat menjelasakan bagaimana sebuah echosounder bekerja.

 

Beda waktu pelepasan sinyal dan penangkapan echo (sinyal balikan) dapat digunakan dalam perhitungan jarak, setelah mempertimbangkan juga velocity pada air. Jarak tersebut akan direkam sebagai kedalaman pada saat itu. Dengan banyaknya titik perekaman maka akan didapatkan kontur kedalaman dari area yang disurvey.

 

MBES untuk Profiling Detail

Prinsip kerja MBES pada dasarnya sama yaitu perhitungan waktu antara pelepasan pulse dengan penangkapan pulse oleh alat. Yang membedakan jika SBES pengiriman dan penangkapan sinyal hanya tunggal maka pada MBES sinyal yang dikirim maupun ditangkap jamak/multiple. Karena sinyal yang ditangkap oleh MBES bersifat multiple/jamak, maka bentuk permukaan yang dapat digambarkan juga bersifat luasan bukan hanya satu titik.

 

 

Pemanfaatan Alat Survey Hidrografi

Penggunaan SBES (Single Beam Echosounder) masih terbatas untuk mengetahui dasar permukaan bawah air dan untuk memetakan kontur bawah permukaan. Hal ini disebabkan keterbatasan SBES dalam memberikan hasil. Untuk keperluan praktis dan kecepatan dalam penggambaran kontur bawah permukaan air, SBES tentu saja lebih menguntungkan. Selain hal tersebut, biaya juga lebih murah.

Pemanfaatan MBES (Multibeam Echosounder) bisa dilakukan untuk mendapatkan profiling yang lebih detil. Misalnya untuk pendeteksian obyek di bawah permukaan air atau menggambarkan bangunan bawah air (mis, bendungan).

Apa itu postmark dan bagaimana melakukannya?

Pada postingan sebelumnya pernah dibahas mengenai Ground Control Point (GCP) untuk foto udara dengan UAV. Pembahasan tersebut hanya mencakup tentang premark, yang memang biasa digunakan dalam foto udara dengan UAV (Unmanned Aerial Vehicle).

Ground control point yang akan dibahas saat ini adalah postmark.

Perbedaan Premark dan Postmark

Perbedaan signifikan adalah premark dilakukan sebelum proses pengambilan foto udara dilakukan, sedang postmark dilakukan setelah data foto udara (bisa juga citra satelit) dilakukan. Perbedaan yang lain adalah premark menggunakan marking yang dibahas pada pembahasan GCP sebelumnya

baca juga: https://zonaspasial.com/2018/11/apa-itu-ground-control-points-dan-bagaimana-menggunakannya/

Sedangkan postmark, tidak ditandai dengan marking seperti pada premark, melainkan menggunakan obyek-obyek yang dikenali dari foto udara/citra satelit yang telah ada.

Pembuatan Postmark

Seperti pada premark, kegunaan postmark, utamanya adalah untuk melakukan georeferensi pada foto udara/citra satelit yang telah ada, berikut ini beberapa hal mengenai postmark:

  1. Postmark ditentukan/dibuat jika titik premark hilang/rusak atau kurang atau tidak ada. Titik premark bisa rusak akibat angin/hujan, atau bahkan hilang karena ketidaktahuan masyarakat mengenai pentingnya titik premark, sehingga diperlukan penentuan titik kontrol pengganti premark yaitu postmark untuk melakukan pengolahan data.

  2. Lokasi ideal untuk menentukan postmark sama dengan premark, yaitu dengan mengidentifikasi lokasi-lokasi atau obyek-obyek yang dapat dijadikan sebagai lokasi titik postmark, seperti perempatan jalan, sudut jalan, perpotongan jalan pedestrian, kawasan yang memiliki warna mencolok, persimpangan rel dengan jalan atau benda, atau monumen yang mudah diidentifikasi. Lokasi titik premark didokumentasikan dengan memotret titik premark dari segala arah mata angin, dibuatkan sketsa lapangan jika diperlukan, informasi mengenai koordinat titik postmark, dan penamaan titik postmark.

  3. Karena Postmark adalah titik kontrol yang diukur setelah pekerjaan survei foto udara, maka perlu dilakukan identifikasi objek yang terdapat pada foto, kemudian ditentukan koordinat fotonya, sehingga  identifikasi di lapangan pada titik kontrol postmark dapat dilakukan, kemudian diikuti dengan kegiatan:

    1. Melakukan pengecekan langsung di lapangan sesuai dengan yang sudah ditentukan pada foto.

    2. Marking area yang sudah dibuat titik postmark.

    3. Melakukan penamaan titik postmark.

    4. Melakukan pengukuran terhadap titik postmark tersebut

Dengan adanya postmark, maka foto udara/citra satelit dapat dilakukan georeferencing lebih akurat.

Autonomous Survey Vessel (ASV) Bagian II Autopilot dan Sistem Navigasi

Bagian paling penting dari sebuah wahana autonomous/nirawak adalah autopilot. Pada bagian inilah program untuk bergerak secara mandiri diprogram. Autopilot yang ada dipasaran saat ini ada dua sistem dari berbagai merk. Sistem yang terbuka (open source) dan tertutup (proprietary). Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Untuk Autonomous Survey Vessel (ASV) yang dibangun oleh PT Zona Spasial menggunakan open source karena kami nilai lebih gampang untuk disesuaikan dengan kondisi dan peralatan yang lain. Bukan berarti yang proprietary tidak bagus, hanya saja akan lebih rumit jika disesuaikan dengan peralatan yang berbeda-beda. Open source bisa diprogram sesuai dengan kebutuhan pada Autonomous Survey Vessel (ASV) yang kami bangun.

Sistem autopilot terhubung dengan perangkat lunak untuk pembuatan jalur pelayaran. Jalur pelayaran inilah yang nantinya akan memandu wahana ASV mengarungi perairan untuk melakukan survey. Pada prinsipnya, jalur-jalur pelayaran ini akan diunggah ke system autopilot dan akan memerintahkan wahana ASV mengikuti sesuai jalur.

Modul Autopilot dan Modul GPS

Adakalanya rencana jalur yang telah diunggah pada sistem autopilot mengalami perubahan akibat keadaan pada saat survei. Keadaan ini bisa diakibatkan oleh arus air, ombak maupun obyek-obyek yang membuat jalur menjadi melenceng. Untuk kejadian tersebut, perlu dilakukan koreksi terhadap Autonomous Survey Vessel (ASV) secara otomatis.

Koreksi dari sistem navigasi ini akan memberikan informasi ke autopilot bahwa rancangan jalur yang dilewati telah melenceng, maka autopilot akan memerintahkan ke motor untuk mengatur kecepatan putaran propeler dan memerintahkan rudder untuk manuver kapal sesuai jalur yang telah ditetapkan.

Navigation Chart ASV

Sistem navigasi yang terintegrasi pada autopilot membuat wahana ASV akan berjalan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan dan akan tetap pada jalur tersebut, sehingga pemeruman atau pengukuran kedalaman dan profil dasar wilayah perairan dapat diperoleh sesuai dengan yang direncanakan.

Demikian sedikit tentang sistem autopilot dan sistem navigasi pada ASV. Bagian selanjutnya kami akan membahas tentang peralatan survei hidrografi dengan SBES.

 

Menjaga Aset dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Salam Spasial,

Aset berharga pada perusahaan konsultan jasa survey dan pemetaan paling utama adalah manusia. Keberadaan aset ini harus selalu dijaga dan dirawat sehingga mampu memberikan positive feedback ke perusahaan. Aspek keselamatan dan kesehatan pekerja harus menjadi perhatian utama sebuah perusahaan.

Yang biasa kita kenal dengan Kesehatan dan keselamatan Kerja tidak hanya terbatas pemakaian APD (Alat Pelindung Diri), karena menurut WHO pengertian K3 adalah upaya yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. Lingkup K3 sangat luas, jika merujuk pada definisi ini.

Biasanya kita hanya mengacu pada kesehatan fisik saja, seperti melakukan pekerjaan sesuai SOP (Standart Operational Procedure), melindungi dari bahaya fisik yang bisa menimpa di tempat kerja, membuatkan asuransi kesehatan dan lain-lain. Kita jarang menerapkan kesehatan mental seperti kenyamanan tempat kerja, pergaulan sesama pekerja, istirahat yang cukup serta menikmati waktu bersama keluarga.

Keselamatan dan kesehatan kerja, baik fisik dan mental, akan membuat aset perusahan yang paling berharga (yaitu pegawai) akan selalu terjaga dan produktif. Sehingga diharapkan bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan yang pada akhirnya akan mensejahterakan karyawan dan lingkungan.