fbpx

Posts

Optimalkan Proyek Survey Pemetaan dengan Drone

Optimalkan Proyek Survey Pemetaan dengan Drone

Ketika drone/ UAV komersial pertama kali diperkenalkan, industri survey pemetaan (geospasial) segera mengadopsinya. Drone dilengkapi dengan berbagai jenis sensor dan kamera, drone diubah menjadi perangkat pengumpul data terbang. Jelas bahwa drone dapat mengoptimalkan alur kerja, meningkatkan keselamatan, mengoptimalkan hasil proyek dan merealisasikan penghematan biaya yang cukup besar. Contoh berikut menunjukkan bagaimana perusahaan survey menggunakan drone dalam berbagai proyek yang menggunakan data geospasial.

Survey dan Pemetaan

Tim Zona Spasial memonitor pesawat UAV
Tim Zona Spasial memonitor pesawat UAV

UAV dapat meringankan pekerjaan proyek survey pemetaan terestrial secara signifikan, misalnya di daerah berbahaya dimana tanah longsor dan gempa bumi biasa terjadi. Contohnya adalah proyek pemetaan di Papua Nugini, yang dilakukan oleh Survey & Design, sebuah perusahaan survei di Queensland Utara, Australia. Dengan menggunakan UAV untuk survey situs topografi, tim dapat menghemat waktu dan meningkatkan keselamatan. Para surveyor tidak perlu memasuki area berisiko dan menempatkan peralatan survey di sana. Menggunakan sensor canggih, dengan akurasi data sama baiknya, drone dapat menggantikan metode survey tradisional.

Drone tentu saja telah mengubah industri survey pemetaan, penghematan biaya, efisiensi dan keuntungan keamanan. Perusahaan survey ingin meningkatkan efektifitas survey dengan drone, artinya berusaha melakukan survey dengan area lebih banyak namun dengan waktu yang lebih sedikit. Drone telah terbukti menjadi cara terbaik untuk melakukan survey lahan, namun perusahaan surveyor terlebih dahulu harus berinvestasi sebelum mereka dapat melihat manfaat finansial.

Misalnya, investasi dalam pelatihan untuk dapat mengoperasikan UAV, dan sistem UAV yang lengkap (bukan hanya drone, tetapi seluruh rangkaian perangkat keras dan perangkat lunak) yang menghasilkan data foto udara yang optimal. Riset dan pengembangan juga telah dilakukan oleh tim Zona Spasial. Tim engineer kami telah melakukan serangkaian riset untuk meningkatkan kapabilitas di bidang survey foto udara, hingga lahirlah pesawat rakitan kami, Dadali UAV.

baca juga : Lakukan Survey dan Pemetaan Lebih Cepat dengan UAV

Pertambangan

Drone untuk pertambangan

Selama bertahun-tahun, perusahaan survey pemetaan harus mengandalkan fotografi udara menggunakan airborne ketika memetakan tambang terbuka. Tetapi fotografi udara terbukti mahal, karena proyek pemetaan udara biasanya mencakup wilayah yang luas agar menguntungkan. Drone terbukti menjadi alternatif yang bagus untuk area pemetaan skala kecil seperti tambang terbuka. Selain itu, mereka dapat memetakan area yang tidak aman dan tidak dapat diakses oleh manusia

Hal yang sama dapat dilakukan untuk survey tanah di area tambang, seringkali penuh dengan resiko. Dengan menggunakan UAV yang dilengkapi dengan kamera udara, anda dapat menghindari resiko itu. Saat ini banyak perusahaan menawarkan hexacopter yang dapat terbang mandiri untuk menghasilkan produk data geospasial seperti orthophotos (gambar udara yang dikoreksi secara geometris), model 3D point cloud (set titik data di ruang angkasa, yang berisi koordinat x, y dan z) ). Terlepas dari tujuan pemetaan, pekerjaan yang sedang berlangsung di tambang terbuka dapat dipantau menggunakan UAV, misalnya stock pile, muck pile, pemantauan dan analisis aset, serta inspeksi pabrik, dan peralatan.

Pertanian

Drone untuk pertanian

Pertanian digital adalah pangsa pasar baru dimana teknologi drone semakin banyak diterapkan. Perusahaan software pemetaan mengembangkan fitur khusus drone dalam industi pertanian. Citra drone dan teknik fotogrametri dapat membantu petani mengelola dan memantau tanaman mereka. Misalnya, peta foto udara yang beresolusi tinggi dapat membantu petani untuk mencari tahu masalah tanaman, sedangkan peta indeks vegetasi membantu mereka memahami kondisi tanaman. Kita juga dapat menghitung jumlah tanaman dengan fitur tree counting. Model permukaan digital terperinci membantu petani untuk merencanakan irigasi, struktur lapangan untuk meminimalkan erosi tanah, dan dapat digunakan untuk memvalidasi klaim asuransi. Ini baru permulaan, aplikasi pertanian yang baru akan terus bermunculan dan dikembangkan. Salahsatu yang mungkin diterapkan adalah, memperkirakan pertumbuhan tanaman (forecasting) yang akan membantu memahami bagaimana tanaman berubah seiring waktu, sebagai hasil dari berbagai teknik pertanian.

Energi

Peta Area Mikrohidro

Inspeksi kabel listrik adalah kasus penggunaan survey pemetaan yang penting untuk drone. Industri energi telah berpaling dari penggunaan helikopter dan operasi darat, dengan memanfaatkan otomatisasi survey grid, untuk meningkatkan keselamatan, manajemen data, dan mengurangi dampak lingkungan. Delair-Tech, penyedia solusi drone end to end yang aktif di banyak industri yang berbeda, mengklaim bahwa drone menghemat 30 hingga 40 persen biaya proyek daripada menggunakan helikopter untuk pekerjaan inspeksi saluran listrik.

Konstruksi

Foto udara rel kereta

Area konstruksi dapat dikelola dan ditingkatkan dengan menggunakan drone. Keselamatan selalu menjadi masalah besar di area ini. Kabar baiknya adalah, survey menggunakan drone untuk melakukan pengukuran atau kegiatan lain dapat membantu menghindari korban. Kedua, karena tempat kerja cenderung berubah dengan cepat dari waktu ke waktu, drone dapat digunakan sebagai perangkat pemantauan dengan mengumpulkan data di sekitarnya. Model 3D yang didasarkan pada pengumpulan data berbasis drone, dapat secara akurat menampilkan pembaruan harian yang pada gilirannya dapat dibagikan di antara semua pemangku kepentingan, memberikan satu sumber data faktual. Hal ini pada saatnya membantu mengurangi risiko survey dan mengidentifikasi masalah sebelum timbul, serta menghindari kesalahan yang berbiaya mahal.

Distribusi dan Monetisasi Peta Drone

Foto udara perkotaan

Artikel ini membahas penggunaan drone dalam banyak industri, yang menunjukkan bagaimana proyek survey dan pemetaan dapat mengambil manfaat dari penggunaan drone. Sayangnya, proyek drone sebagian besar dilakukan sekali, dan data hanya digunakan oleh beberapa pemangku kepentingan. Apa yang akan terjadi jika kita memiliki peta di banyak lokasi survey namun tidak dimanfaatkan lebih lanjut? Ini merupakan sebuah peluang untuk memanfaatkan kembali peta yang kita dapatkan dan menjualnya kepada pihak lain yang membutuhkan. Jika suatu saat ada permintaan proyek dan ternyata kita sudah pernah memetakan lokasi tersebut? maka dengan mudah kita menjual peta hasil proyek sebelumnya untuk berbagai kepentingan.

untuk proyek survey pemetaan bagi perusahaan Anda, segera hubungi kami di info@zonaspasial.com atau WA 085794084844


Sumber :

https://medium.com/soar-earth/how-drones-can-optimize-surveying-and-mapping-projects-51dc88dbd4d0

Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Survey Foto Udara UAV di Era Otomatisasi

Industri kini telah masuk dalam era otomatisasi. Semua industri melakukan revolusi dalam hal business improvement process. Dalam hal survey dan pemetaan, penggunaan UAV / drone diadopsi untuk melakukan inspeksi dan monitoring aset perusahaan. Penggunaan drone tersebut merupakan salahsatu proses improvement karena drone dapat menghasilkan data foto udara yang dapat di cek secara berkala.

Industri drone komersial berada di titik puncak era baru otomatisasi. Penerbangan drone yang dilakukan secara otomatis bukanlah hal baru, namun dalam hal mengukur dan menganalisis data foto udara masih merupakan proses manual. Ketika industri drone semakin matang, maka otomatisasi akan diperlukan untuk memastikan hasil foto udara UAV yang konsisten dan akurat. Seperti halnya yang dilakukan PT Zona Spasial. dalam survey pemetaan, kami melakukan otomatisasi jalur terbang melalui Mission Planner. Namun untuk olahdata, masih diperlukan usaha manual untuk melakukannya.

Tim Pilot UAV Zona Spasial memantau pesawat UAV dalam proyek pemetaan

Apa yang Diperlukan untuk mengukur otomatisasi operasi Drone agar dapat bisa di-scalable?

Alur Kerja Berulang (Repeatable Workflows)

Bagi perusahaan mana pun yang mengembangkan software pemetaan drone, mereka harus mampu menghasilkan alur kerja yang dapat diulang yang mudah bagi para pekerja untuk berintegrasi ke dalam operasi sehari-hari mereka. Jika alur kerja tidak dapat direplikasi dengan mudah, akan lebih sulit untuk digunakan surveyor dan itu pasti tidak bisa skala.

Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Handal

Setiap hasil olah data foto udara yang terukur harus dapat diandalkan. Perusahaan membutuhkan solusi yang dapat dipercaya setiap kali bekerja dan menyampaikan wawasan yang mereka andalkan untuk membuat keputusan bisnis yang lebih cerdas. Itulah mengapa keandalan teknologi diperlukan untuk memproses hasil foto udara UAV itu.

Hasil yang Konsisten

Konsistensi diperlukan jika perusahaan survey ingin menerapkan solusi drone dalam skala besar. Sayangnya, pengukuran dan analisis manual tidak hanya memakan waktu tetapi juga rentan terhadap kesalahan. Mesin dapat membantu. Itulah sebabnya otomatisasi dalam pengolahan survey pemetaan akan bergantung pada algoritma dan deep learning machine untuk mendorong hasil yang konsisten dan akurat setiap saat.

baca juga : Memilih Drone untuk Pemetaan


Machine Learning, Computer Vision, dan Artificial Intelligence di masa depan

Kehadiran Machine Learning dan AI dapat mempermudah masa depan industri Survey

Kunci untuk mengembangan dan skalabilitas (scalability) adalah otomatisasi. Tapi bagaimana Anda mengotomatiskan analisis data foto udara UAV? Disinilah machine learning dan kecerdasan buatan dapat berperan. Kita dapat mengajarkan mesin untuk mendeteksi pola dan objek, membuat pengukuran yang akurat, dan mengubah kumpulan data besar menjadi laporan yang mudah dicerna.

Telah banyak pembicaraan tentang teknologi ini di industri drone komersial, namun baru sebatas rumor. Mengapa demikian? sebagai industri baru, otomatisasi baru saja dimulai. Untuk memberikan solusi yang dipandu oleh AI (artificial intelligent) sejati dalam mengotomatisasi alur kerja, diperlukan banyak data.

Sekarang saatnya mengumpulkan data hasil survey pemetaan tersebut untuk bekerja untuk membangun solusi machine learning terdepan di industri untuk memecahkan tantangan dunia nyata yang dihadapi perusahaan saat mereka menempatkan drone untuk bekerja di lapangan setiap hari.


Sumber:

https://blog.dronedeploy.com/drones-in-the-age-of-automation-4e874c938ebc

Memilih Drone Pemetaan untuk Perusahaan Anda

Memilih Drone untuk Pemetaan

Banyak perusahaan yang ingin melakukan pembelian drone untuk keperluan survey dan pemetaan. Drone memungkinkan perusahaan menangkap foto udara untuk menghasilkan peta akurat dan model 3D di sekitarnya. Dengan menganalisis peta, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih cepat dan tepat yang meningkatkan efisiensi, meningkatkan keselamatan, dan efektifitas operasional. Dengan manfaat seperti ini, tidak mengherankan jika penggunaan drone meningkat di berbagai industri termasuk konstruksi, pertanian, survei, penambangan, dan banyak lagi.

Lalu pertanyaannya kemudian, drone seperti apa yang harus dibeli? Berikut ini beberapa pertimbangan yang dapat membantu sebelum melakukan pembelian. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai penggunaan tertentu, jadi penting untuk memahami perbedaan utama antara kedua jenis.

Perbandingan Drone Fixed Wings dan Multi-Rotor

Drone Multi-Rotor

Drone tipe Multi-Rotor

Pesawat multi-rotor adalah model drone yang paling umum digunakan untuk membuat peta dan model. Drone multi-rotor terdiri dari body utama dan beberapa rotor yang menggerakkan baling-baling untuk melakukan penerbangan dan manuver pesawat. Setelah di udara, drone multi-rotor menggunakan baling-baling untuk mengendalikan gerakan dengan memvariasikan kecepatan relatif masing-masing rotor untuk menghasilkan daya dorong. Ini menyajikan beberapa keuntungan ketika digunakan untuk pemetaan komersial.

Keuntungan

Kemampuan manuver yang lebih besar: pesawat multi-rotor dapat melakukan lepas landas dan pendaratan vertikal. Drone ini hanya membutuhkan sedikit ruang untuk terbang, dapat terbang dengan posisi hold, dan bermanuver juga berkeliling objek untuk pemeriksaan, pemetaan, dan pemodelan yang mudah.

Harga yang lebih rendah: drone multi-rotor dapat dibeli dengan harga yang lebih murah. Anda dapat membeli quadcopter profesional seharga 20 juta, sedangkan fixed wings drone dengan kualitas yang sama bisa berkali-kali lipat harganya.

Lebih kompak: drone multi-rotor tidak memerlukan sayap yang lebar, karena mereka menggunakan baling-baling untuk melakukan manuver. Drone ini dirancang untuk dilipat dan dikemas ke dalam kontainer yang lebih kecil. Membuatnya lebih mudah untuk diangkut.

Kemudahan penggunaan: drone multi-rotor lebih mudah diterbangkan oleh manusia dan autopilot. Cepat melakukan manuver, dan mampu membuat gerakan ke arah mana pun. Drone jenis ini bisa dipelajari lebih cepat. Selain itu, pada saat pendaratan, pilot lebih mudah mengendalikan drone karena ia dapat menstabilkan kondisi saat pendaratan dengan baling-balingnya.

Kapasitas muatan lebih banyak: drone multi-rotor umumnya bisa membawa lebih banyak beban karena desain mereka. Namun, ini akan membutuhkan drone yang lebih besar dan lebih mahal jika Anda ingin membawa muatan yang signifikan seperti DSLR besar atau rig kamera lainnya. Tak lupa, daya angkat rotor mesti ditingkatkan jika ingin mengangkat lebih banyak beban.

Kekurangan

Jangkauan lebih pendek: Satu batasan dari drone multi-rotor adalah jarak terbang pada kapasitas satu baterai. Kebanyakan drone multi-rotor dapat terbang hanya sekitar 30 menit sebelum kembali ke pangkalan untuk penggantian baterai. Anda dapat mengimbangi penurunan ini dengan membeli baterai tambahan.

Kurang stabil di angin: Aerodinamika pesawat multi-rotor membuatnya lebih rentan terhadap angin. Ini berarti anda harus berhati-hati dalam penggunaan di wilayah dengan angin kencang. Anda mungkin harus membeli kendaraan multi-rotor yang lebih berat, lebih stabil, dan lebih mahal.

baca juga : Prinsip Cara Kerja Sebuah UAV

Drone Fixed Wings

Drone tipe Fixed Wings

Drone fixed wings dirancang seperti jenis pesawat yang lebih konvensional, terlihat mirip dengan pesawat terbang pada umumnya. Memiliki body utama dan dua sayap dengan satu baling-baling. Setelah di udara, kedua sayap menghasilkan daya angkat yang mengkompensasi beratnya – memungkinkan pesawat untuk stabil dalam penerbangan. Jenis pesawat ini kurang umum dalam pemetaan drone diluar pertanian dan aplikasi minyak & gas.

Keuntungan

Rentang sayap yang signifikan: Pesawat fixed wings dapatterbang lebih lama daripada drone multi-rotor pada satu baterai tunggal. Ini idealuntuk memetakan area yang sangat besar atau linier karena drone ini dapatterbang tanpa harus sering mengganti baterai selama misi penerbangan.

Stabilitas yang lebih besar: Desain airframe sayap pesawat memberi stabilitas yang lebih besar dalam angin kencang dibandingkan drone multi-rotor. Ini penting untuk terbang di lingkungan yang terdapat angin kencang.

Aman saat fail safe: Jika drone ini kehilangan daya motor, secara teori ia dapat meluncur turun menggunakan daya aerodinamika sayapnya. Memberi kesempatan yang lebih baik untuk bertahan ketika jatuh.

Keuntungan penerbangan linear: drone fixed wings ideal untuk penerbangan jarak jauh, seperti inspeksi pipa. Namun, kemampuan ini saat ini terbatas pada persyaratan peraturan line-of-sight (LOS) di AS dan negara-negara lain dimana peraturan LOS telah diberlakukan.

Kekurangan

Memerlukan landasan untuk terbang: Pesawat fixed wings membutuhkan area lepas landas yang lebih besar dan zona pendaratan untuk penerbangan. Hal ini dapat membuatnya tidak cocok untuk beberapa kasus penggunaan. Ini juga memerlukan lebih banyak waktu untuk pengaturan, lepas landas, dan pendaratan.

Harga yang lebih tinggi: pesawat fixed wings cenderung lebih mahal daripada drone multi-rotor. Meskipun harga dapat berubah di masa depan, itu dapat memengaruhi budget perusahaan secara keseluruhan.

Menantang untuk terbang: Pesawat sayap tetap lebih sulit untuk terbang, baik untuk manusia dan kondisi autopilot, terutama dalam kondisi lapangan yang sukar. Beberapa pesawat dapat terbang dengan tolakan tangan, namun beberapa pesawat lainnya memerlukan slider untuk take off.

Kurang praktis: jangkauan jelajah yang tinggi dari drone fixed wings didapatkan dari bentuk aerodinamika pesawat, ini berarti drone lebih sulit untuk berkemas, dan membutuhkan perakitan sebelum penerbangan.

Kurang efisien untuk pemetaan area: Pesawat fixed wings kurang cocok untuk pemetaan area. Ini karena banyak corner diperlukan untuk menghasilkan pola grid dan mendapatkan overlay foto yang mencukupi dari area target. Drone fixed wings membutuhkan area yang lebih besar untuk berputar, dan tidak memiliki kemampuan manuver seperti drone multi-rotor.

Untuk mempermudah, kami menyiapkan tabel ringkasan ini sehingga Anda dapat membandingkan kedua jenis drone secara berdampingan.

Perbandingan antara Drone Fixed Wings dengan Multi-Rotor

Kesimpulan

Pada akhirnya, Anda harus memutuskan drone mana yang terbaik untuk kebutuhan perusahaan. Kami telah memberi Anda informasi dan alat untuk membuat keputusan berdasarkan informasi saat Anda memilih drone berikutnya untuk pemetaan.


Sumber:

https://blog.dronedeploy.com/choosing-the-right-mapping-drone-for-your-business-part-i-multi-rotor-vs-fixed-wing-aircraft-6ec2d02eff48

Jenis-jenis pesawat tanpa awak

Jenis-jenis Pesawat Tanpa Awak

UAV adalah salah satu jenis robot penjelajah udara tanpa awak. Karena tidak memiliki awak, UAV harus dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control dari luar kendaraan atau biasa disebut Remotely Piloted Vehicle (RPV). Selain itu, UAV juga dapat bergerak secara otomatis berdasarkan program yang sudah ditanamkan pada sistem komputernya.

Pada saat ini UAV telah berkembang dengan sangat pesat dan digunakan dalam berbagai kebutuhan. Berikut ini merupakan beberapa contoh fungsi dari UAV:

  • Melakukan penginderaan jarak jauh, seperti memantau jaringan listrik, melakukan pemetaan suatu daerah, melihat keadaan geologi suatu daerah, dan memantau lahan pertanian.
  • Melakukan respons terhadap bencana yang terjadi, seperti melakukan pemantauan kerusakan akibat bencana banjir dan melakukan pemantauan kebakaran hutan.
  • Melakukan pengawasan hukum, seperti patroli keamanan suatu lokasi, pemantauan keadaan lalu lintas, patroli keadaan pesisir, kelautan, dan perbatasan.
  • Melakukan pencarian dan penyelamatan pada daerah yang sulit dijangkau.
  • Melakukan perjalanan transportasi, seperti membawa kargo kecil, kargo besar hingga mengangkut penumpang.
  • Menjadi alat penghubung komunikasi permanen ataupun sementara dan juga untuk menyalurkan siaran seperti siaran televisi danradio.
  • Membawa dan mengirimkan suatu muatan, seperti membawa air untuk memadamkan kebakaran atau membawakan zat kimia untuk merawat tanaman.
  • Melakukan pengambilan gambar untuk keperluan perfilman dan juga hiburan.

Agar dapat mengenal serta membedakan UAV yang ada saat ini, kita dapat melakukan pengelompokan ataupun klasifikasi terhadapnya. Sebenarnya terdapat banyak jenis pengelompokan UAV yang bisa digunakan, seperti pengelompokan berdasarkan kegunaan, berdasarkan motor penggerak, dan pengelompokan berdasarkan hal lainnya. Namun, yang paling sering digunakan dalam kajian ilmiah adalah pengelompokan berdasarkan bobot dari suatu UAV.

baca juga : Memilih Drone untuk Pemetaan

Jenis UAV Berdasarkan Berat

Parameter bobot dipilih sebagai parameter pengelompokkan karena terdapat banyak karakteristik performa suatu UAV yang berhubungan langsung dengan bobot dari UAV tersebut. Contohnya, besar gaya angkat dan gaya dorong yang dibutuhkan suatu UAV bergantung pada bobot UAV tersebut. Selain itu, bobot juga mempengaruhi lebar baling-baling yang digunakan, serta sumber energi yang dapat dipakai. Contohnya, UAV yang ringan biasanya akan menggunakan motor elektrik sebagai penggerak utamanya dan UAV dengan bobot sangat berat biasanya menggunakan turbo jet ataupun turbo fan.

UAV Super Heavy

Global Hawk

UAV super heavy adalah jenis robot penjelajah udara UAV yang memiliki berat diatas 2000Kg. Sebagai contoh UAV super heavy adalah Global Hawk.

UAV Heavy

A-160

UAV Heavy adalah jenis robot penjelajah udara dengan berat antara 200 – 2000 Kg. Salah satu contoh UAV heavy adalah A-160.

UAV Medium

Chyper

UAV medium adalah robot penjelajah udara yang memiliki berat pada range 50-200Kg. Contoh UAV jenis medium adalah UAV Chyper.

UAV Light

Neptune

UAV light merupakan robot penjelajah udara dengan bobot5-50Kg. Contoh UAV jenis medium adalah UAV Neptune.

UAV Micro

Dragon Eye

UAV micro adalah robot penjelajah udara yang ringan dan memiliki bobot kurang dari 5kg. Contoh UAV micro adalah UAV Dragon Eye.

Jenis UAV Berdasarkan Penggeraknya

Drone digerakkan oleh motor untuk bisa terbang dan manuver. Berdasarkan jenis penggeraknya, drone bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu Fixed Wing dan Rotary Wings Drone.

Fixed Wing

Drone tipe Fixed Wings

Drone jenis Fixed Wing ini menggunakan sayap untuk terbang, drone jenis Fixed Wing ini sendiri memiliki beberapa bentuk dan ukuran, bergantung pada kegunaannya masing masing. Drone jenis Fixed Wing ini bisa ditenagai Baterai dan bisa juga menggunakan Bahan Bakar.

Multirotor


Drone tipe Multirotor

Multirotor Drone adalah drone yang menggunakan baling-baling (Propellers) untuk terbang, drone jenis ini biasa dikenal dengan nama Multicopter atau Multirotor.

Untuk penamaannya disesuaikan dengan banyaknya motor atau baling-baling. Drone jenis ini biasanya ditenagai baterai, dan merupakan jenis drone terbanyak yang dijual di pasaran, harganya sendiri bervariasi, mulai dari ratusan ribu, sampai pada ratusan juta. Motor penggeraknya mulai dari single copter, doublecopter, tricopter, quadcopter dan lainnya.


Sumber:

http://zonaelektro.net/unmanned-aerial-vehicle-uav/

https://www.liupurnomo.com/mengenal-jenis-jenis-drone/

Prinsip Cara Kerja Sebuah UAV

Prinsip Cara Kerja Sebuah UAV

Saat ini, perkembangan teknologi di bidang Unmanned Aerial Vehicle (UAV) semakin pesat. Sudah banyak sekali aplikasi pemanfaatan drone untuk membantu pekerjaan kita dalam berbagai hal, seperti saintis yang mengumpulkan data penelitian, engineer yang membuat teknologi terintegrasi seperti survey udara, pelacakan sebuah objek, dan lain lain. Tentunya, bagi seseorang yang ingin mengetahui maupun mengoperasikan sebuah UAV harus mengetahui dasar-dasar dari komponen minimum yang terdapat pada UAV.

Sebuah UAV berjenis Fixed Wings

Robotika –dalam hal ini UAV-, pasti selalu berkutat dengan komponen berupa sensor dan juga aktuator. Karena suatu UAV harus mengetahui lingkungan spasial yang mempengaruhi dirinya, dan untuk menafsirkannya menjadi pergerakan, maka dibutuhkan aktuator. UAV sederhana harus dapat melakukan autonomous seperti terbang, mengambang di udara, atau navigasi tanpa input dari pilot. Kemampuan untuk stabilisasi diri, dan mempertahankan posisi juga harus dapat dimiliki oleh suatu UAV. Lalu, dalam UAV, sensor dan aktuator apakah yang digunakan?

Diagram kendali penerbangan UAV sederhana

Sensor utama yang berfungsi sebagai kendali pada suatu UAV adalah sensor IMU (Inertial Measurement Unit), yang terdiri dari accelerometer, gyroscopes, dan juga dapat memiliki kompas (magnetometer). Sensor ini akan memberi informasi kepada UAV tentang keadaan dari UAV terhadap lingkungan eksternal seperti percepatan pada tiap sumbu termasuk percepatan akibat gravitasi, lalu informasi tentang orientasi dan kecepatan angular dari wahana, dna jika terdapat kompas maka dapat mengetahui posisi mata angin dari bumi.

Ilustrasi Inertial Measurement Unit

Selanjutnya terdapat sensor posisi menggunakan GPS. Sensor ini digunakan sebagai perangkat navigasi yang dapat menerima informasi dari satelit GPS dan mengetahui posisi geografis dari perangkat tersebut.

Ilustrasi kerja GPS pada UAV

Berikutnya, terdapat beberapa aktuator yang digunakan pada UAV tergantung pada tipe UAV yang dibuat.

Pada UAV tipe Vertical Take-Off Landing (VTOL), aktuator yang digunakan adalah electronic speed controller digital -berfungsi untuk mengontrol rotasi per menit dari suatu motor-, yang dihubungkan kepada motor dengan tipe yang umum saat ini adalah Brushless DC Motor.

Sistem Brushless DC Motor

Pada Brushless DC Motor, berbeda dengan motor DC biasa, magnet permanen diletakkan pada bagian rotor dan elektromagnetik digerakkan kepada stator. Lalu menggunakan sinyal digital yang di program oleh kontroler untuk mengisi elektromagnetik saat porosnya berputar.

baca juga : Memilih Drone untuk Pemetaan

Kemudian pada tipe Fixed Wing, selain menggunakan Brushless DC Motor, digunakan juga servo yang digunakan untuk menggerakkan aileron, rudder, dan elevator pada sayapnya.

Sistem Servo

Servo ini bergerak dengan memiliki batas sudut pergerakkan, biasanya 180 derajat. Servo ini menerima sinyal digital yang akan di decode menjadi posisi dari servo tersebut. Kendali dari servo akan menentukan kecepatan dan posisi dari servo tersebut yang nantinya akan berpengaruh pada pergerakan mekanik dari UAV tersebut.

Demikian prinsip kerja UAV secara umum. Tentunya artikel ini dibuat untuk membuka wawasan terhadap seseorang yang ingin memulai memahami cara kerja dari suatu sistem UAV.


Sumber:

https://medium.com/@faizal.adila/prinsip-cara-kerja-uav-ed0ba9e3df74

Perbedaan antara Drone dan UAV

Perbedaan UAV dan Drone

Pesawat tanpa awak atau kita kenal dengan drone, menjadi populer di kalangan masyarakat berkat banyaknya foto maupun video footage dari para hobbies fotografi dalam menangkap momen yang sinematik. Padahal drone pada awalnya hanyalah objek terbang sederhana sebagai sasaran target dalam dunia militer. Dalam istilah militer, pesawat tanpa awak lebih dikenal sebagai UAV atau Unmanned Aerial Vehicle. Pesawat ini dikendalikan dari suatu pangkalan untuk melaksanakan misi tertentu dengan bermodalkan teknologi canggih yang terpasang di dalam pesawat. Lalu apa perbedaan antara drone dengan UAV? Mari kita simak.

Drone berasal dari asal kata ‘drone’ yang artinya adalah lebah jantan. Awalnya istilah drone hanya digunakan untuk menyebut sebuah target simulasi yang bergerak diudara (air moving targets) untuk latihan menembak, baik dari darat ke udara (ground to air) maupun dari udara ke udara (air to air). Pada perkembangannya, drone dipakai juga untuk menyebut sebuah UAS (unmanned aircraft system), pesawat tanpa awak. Bahkan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat bersama dengan FAA (Federal Aviation Administration) menyusun sebuah road map tentang pesawat tanpa awak di tahun 2005 – 2030.

Istilah ini juga digunakan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization) dan BCAA (British Civil Aviation Authority). Selanjutnya muncul pula beberapa terminologi dengan pengertian yang sama yaitu antara lain adalah UAV (Unmanned-aircraft Vehicle System) dan RPV (Remotely Piloted Aerial Vehicle) serta RPAS (Remotely Piloted Aircraft System). Dengan demikian maka drone yang belakangan ini banyak disebut-sebut sebenarnya mewakili pengertianuntuk UAS, UAV dan juga RPV. Pengertian dasarnya adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sebuah kendaraan udara yang berbentuk aerodinamis dengan dukungan tenaga tertentu dan mampu terbang sendiri tanpa awak dengan pengendalian jarak jauh.

Sejarah Pengembangan UAV dalam Dunia Militer

Awal penggunaan

Pesawat tanpa awak (UAV) dapat digunakan berulang kali dan mampu membawa berbagai muatan, antara lain kamera, radio, senjata dan alat pengintai. Sebenarnya, pesawat tanpa awak yang disebut sebagai drone belakangan ini dapat dikatakan sama dengan pengertian yang sudah ada sebelumnya yaitu pesawat model yang menggunakan remote control. Jadi sebelum adanya istilah UAV dan drone, digunakan istilah ‘pesawat model remote control’ untuk menyebut pesawat tanpa awak. Namun batas antara ‘pesawat model’ dengan drone menjadi tidak jelas. Karena sekali lagi, drone dianggap sebagai objek terbang, bukan sebagai pesawat.

Dengan perkembangan teknologi, drone banyak digunakan bukan lagi sebatas hobi. Penggunaan dan polularitasnya semakin luas di masyarakat. Disinilah kemudian, beberapa negara dan organisasi membuat semacam penggolongan untuk membedakan pesawat model tanpa awak (UAV) dengan drone. Salah satu acuannya adalah ukuran dan beratnya. Akan tetapi, otoritas penerbangan Amerika Serikat yang sangat berpengaruh dalam dunia penerbangan global mendefinisikan setiap pesawat terbang tanpa awak dapat disebut sebagai UAV. Itulah yang menyebabkan perbedaan pesawat model radio control (UAV) dengan drone menjadi tidak jelas.

baca juga : Jenis-Jenis Pesawat Tanpa Awak

USAF (Angkatan Udara Amerika Serikat) sudah berpikir untuk mulai menggunakan UAV dalam perkembangan perang dingin antara blok timur dan barat. Ide ini kemudian bergulir dengan cepat saat Uni Soviet berhasil menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika U-2 pada tahun 1960. Hanya hitungan hari setelah U-2 ditembak jatuh, Amerika memulai program sangat rahasia mengembangkan penggunaan UAV yang dikenal kemudian dengan nama sandi “Red Wagon”. Untuk pertama kali dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi, UAV digunakan dalam medan pertempuran di perang Vietnam. Pada tahun 1973 pihak militer Amerika Serikat secara resmi mengkonfirmasi bahwa Amerika Serikat memang telah menggunakan UAV pada perang Vietnam. Alasannya, saat itu lebih dari 5.000 pilot Amerika Serikat tewas dalam pertempuran dan lebih dari 1.000 orang lainnya hilang dalam tugas. Wing 110, pengintai strategis USAF, telah melakukan tidak kurang dari 3.435 misi menggunakan UAV dalam perang Vietnam dan sejumlah 554 UAV telah hilang lenyap karena berbagai sebab.

Sejak itulah maka penggunaan UAV meluas pada misi-misi berisiko tinggi yang harus dilaksanakan dalam medan pertempuran, peperangan, dan bahkan juga pada misi-misi perdamaian. Drone digunakan antara lain untuk target penembakan dan target pengelabuan. Di bidang intelijen drone digunakan untuk melaksanakan misi pengintaian. Di medan perang dan atau pertempuran drone digunakan untuk melaksanakan misi penembakan sasaran strategis berisiko tinggi. Sistem dukungan logistik tertentu juga telah mulai memanfaatkan drone.

Beberapa Model Pesawat Tanpa Awak

Di samping itu, drone juga sudah digunakan untuk tujuan penelitian dan pengembangan. Pada tugas-tugas sipil drone banyak sekali digunakan untuk pemotretan dan aerial photography, penyemprotan hama –agriculture dan proses pengumpulan data untuk tujuan tertentu. Pesawat terbang tanpa awak ini telah mampu menggantikan peran dari pesawat pengintai Amerika U-2.

Drone di Indonesia

Kegiatan Konfigurasi Drone untuk Pemotretan Udara

Di Indonesia drone telah berkembang cukup pesat. Sebelum Drone dikenal luas, sebenarnya kegiatan aeromodelling atau pesawat model tanpa awak sudah cukup banyak dilakukan. Mereka tergabung antara lain dalam wadah organisasi FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) dan APDI (Asosiasi Pilot Drone Indonesia). Perkembangan drone selanjutnya dipelopori antara lain oleh LAPAN dan juga BPPT. Di samping itu pihak swasta dan beberapa lembaga penelitian dan pengembangan serta sejumlah perguruan tinggi juga telah melakukan mengembangkan drone. Tidak kurang dari delapan jenis drone telah dibuat di dalam negeri.

Pada umumnya drone memang digunakan untuk misi pengintaian, pemotretan udara, penelitian karakteristik atmosfer untuk meteorologi, pemantauan kabel listrik tegangan tinggi dan juga pengawasan daerah perbatasan serta untuk kepentingan komersial seperti iklan dan lain-lain. Beberapa drone juga digunakan di daerah perbatasan untuk kegiatan pemantauan. Bahkan Indonesia mempunyai pabrik drone pertama di Asia Tenggara. Di masa depan, semoga semua usaha pengembangan ini menjadi tolok ukur pembangunan sektor dirgantara Indonesia.


Sumber

https://nasional.kompas.com/read/2016/05/16/10555681/Drone.Lagi-lagi.Drone.